Indonesia Tunda Peluncuran Satelit Satria Karena Disrupsi COVID-19 – Bisnis

Eisya A. Eloksari (The Jakarta Post)

Jakarta
Rabu, 25 November 2020

2020-11-25
14:29
321
d66dcbf21949a93b498053ceec23812f
1
Perusahaan
Kementerian Komunikasi dan Informatika, SATRIA, peluncuran satelit, COVID-19, PPP
Gratis

Pemerintah telah memperkirakan penundaan peluncuran satelit telekomunikasi terbesar di tanah air, Satelit Republik Indonesia (Satria), dari jadwal peluncuran Maret 2023 menjadi kuartal keempat tahun 2023 pandemi.

“COVID-19 telah memengaruhi sumber dan produksi Satria,” kata Menteri Komunikasi dan Informasi Johnny G. Plate saat konferensi pers Senin, menyebut gangguan itu “force majeure.”

Akibat penundaan prakiraan tersebut, pemerintah telah meminta International Telecommunication Union (ITU) untuk memberi Satria perpanjangan 14 bulan hingga 2023 untuk menggunakan slot orbit yang ditugaskan 146° BT di sekitar pulau Papua, negara lain harus menggunakan posisi itu. seharusnya Indonesia menggunakan posisi Jangan menempati ruang dalam waktu.

Namun, ITU masih dalam pembicaraan untuk mengabulkan permohonan tersebut, sementara kontraktor utama dan operator proyek, konsorsium PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), memberikan informasi lebih lanjut tentang penyebab penundaan, kata Johnny.

Pemerintah juga sudah menyiapkan rencana seandainya peluncuran satelit ditunda lebih lama lagi, kata Johnny. Ia telah bersiap untuk membangun pelampung satelit – objek luar angkasa yang siap diluncurkan untuk mengamankan posisi orbit 146 ° BT hingga Satria siap diluncurkan, atau memindahkan lokasi satelit ke slot lain yang tersedia, praktik yang dikenal sebagai. dikenal adalah pengisian cadangan.

Satelit, dengan perkiraan investasi $ 550 juta, ketika diluncurkan, diharapkan dapat mempromosikan integrasi konektivitas di seluruh negeri dan menyediakan internet gratis untuk 150.000 lembaga publik, termasuk sekolah, lembaga pemerintah daerah, dan fasilitas kesehatan.

Survei terbaru Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia (APJII) menunjukkan tingkat penetrasi internet di Tanah Air meningkat dari 64,8 persen pada 2018 menjadi 73,7 persen pada 2019.

READ  Replika kapal VOC Amsterdam yang telah direnovasi di Museum Maritim

Terlepas dari jumlah pengguna internet yang besar, tingkat penetrasi internet Indonesia tetap pada 64 persen pada Januari, menurut DataReportal, tertinggal dari negara-negara tetangga Brunei, Singapura dan Thailand, di mana tingkat penetrasi internet melebihi 70 persen.

Pada awal September, konsorsium PSN Indonesia, yang diwakili oleh penyedia satelit PT Satelit Nusantara Tiga, menandatangani kontrak kerja persiapan dengan produsen kedirgantaraan Prancis-Italia Thales Alenia Space (TAS) untuk memulai proyek tersebut.

Satria akan memiliki kapasitas throughput 150 miliar bit per second (Gbps), tiga kali lipat dari sembilan satelit telekomunikasi yang digunakan Indonesia saat ini, kata menteri saat itu.

Sementara itu, Johnny mengatakan pendanaan untuk proyek melalui sistem kemitraan publik-swasta (KPS) masih on track meskipun mengalami kemunduran. Bank investasi publik Prancis Bprifrance dan bank pembangunan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang didukung China menyiapkan deposan, sementara PSN juga menyediakan pendanaan ekuitas, tambahnya.

Baca juga: RI membuat lompatan besar ke depan pada proyek satelit Satria senilai $ 550 juta

Presiden PSN Adi Rahman Adiwoso pada konferensi pers September mengatakan biaya proyek akan didanai oleh campuran kredit ekspor dari Prancis dan China sebesar $ 425 juta dan ekuitas $ 125 juta.

Kredit ekspor adalah hibah pemerintah, pembiayaan langsung, jaminan, asuransi atau subsidi bunga yang diberikan kepada pembeli asing untuk membiayai pembelian.

“Proses pembuatan Satria sudah dimulai dan saya bisa katakan kami berjalan normal dan proyek berkembang dengan baik,” kata Johnny.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Indonesia, Heru Sutadi, mengatakan meskipun meminta perpanjangan orbit adalah hal biasa, mereka yang terlibat harus melakukan uji tuntas dan berusaha menyelesaikan proyek tepat waktu.

READ  Tingkat elektrifikasi Indonesia mencapai 99,4 persen

“Kami masih memiliki waktu sekitar dua tahun untuk memproduksi dan meluncurkan satelit tepat waktu,” katanya The Jakarta Post dalam sebuah wawancara telepon pada hari Senin. “Pemangku kepentingan perlu memastikan bahwa investasi dan pengadaan berjalan dan berjalan. Jika tidak, mungkin akan memakan waktu lebih lama.”

Indonesia berencana menggunakan satelit Falcon 95500 milik perusahaan rudal Amerika, dan Heru mengatakan kemajuan teknologi rudal tersebut akan memungkinkan Indonesia untuk meluncurkan Satria tepat waktu.

“Beberapa tahun yang lalu bisa memakan waktu enam hingga dua belas bulan untuk menunggu rudal yang tersedia, tetapi sekarang hanya membutuhkan beberapa minggu atau satu bulan,” katanya.

Heru juga mengatakan PSN dan pemerintah perlu berhati-hati dalam menjalankan rencana cadangan mereka.

“Restocking backup harus menjadi upaya terakhir pemerintah karena dapat mengubah area jangkauan internet awal satelit dan berpotensi meleset dari tujuan menyediakan internet ke lokasi terpencil,” katanya, seraya menambahkan bahwa pemerintah telah menyetujui 113° E-Slot di sekitar Kalimantan dan Pulau Jawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *