Hari Air Sedunia: Menjaga sungai-sungai di Indonesia tetap bersih

Hari Air Sedunia: Menjaga sungai-sungai di Indonesia tetap bersih

22- Mar

Benjamin Janus ym99Ig7ILRA-unsplash

22 Maret 2023

Judul: Pembangunan berkelanjutan
Terletak: Indonesia
editor: Leo Galoh

Setiap Jumat sore, ratusan relawan dari berbagai latar belakang, termasuk kelompok pemuda, berbagai kelompok sosial, pemerintah daerah Bali, dan bahkan perusahaan, berkumpul di salah satu sungai di Denpasar, Bali. Relawan ini diorganisir oleh lingkungan Organisasi non-pemerintah Sugai WatchMereka berkumpul untuk membersihkan sungai-sungai yang sangat membutuhkan perhatian.

Meskipun Bali dikenal secara global akan keindahannya dan umumnya disebut sebagai “Pulau Dewata”, pulau ini berurusan dengan masalah utama pengelolaan limbah yang membuat sungainya tercemar dan airnya tidak dapat diminum. Plastik dan puing-puing menumpuk di sungai, pasti berakhir di laut dan membahayakan lingkungan laut. Air sungai yang kotor mengalir ke muara sungai dan merusak sawah masyarakat setempat.

Sungai Watch, didirikan pada tahun 2020 oleh Kelly Bencheghaib dan dua saudara laki-lakinya, Gary dan Sam, memasang penghalang sampah terapung untuk mengumpulkan sampah. Organisasi ini juga mengedukasi dan melibatkan masyarakat setempat tentang manfaat penghalang sampah apung dan menjaga saluran air tetap bersih.

Sementara itu, destinasi wisata populer lainnya di Tanah Air, Bandung, ibu kota provinsi Jawa Barat Indonesia, juga menghadapi masalah pengelolaan sampah yang serupa. Sungai Cikapundung memiliki panjang total 28 kilometer dan mengalir melalui kota Bandung. Namun, jika wisatawan ingin mengamatinya di luar tugu peringatan Konferensi Asia Afrika, sungai ini tercemar dan penuh dengan sampah plastik dan zat beracun.

Pemkot Bandung harus mengambil setidaknya 13 ton sampah dari Sungai Sikabundung setiap hari, menurut Dinas Sumber Daya Air Kota Bandung. Didi Roswande. Pada tahun 1960, air di Sungai Cikapundung dapat diminum dan banyak digunakan oleh masyarakat setempat untuk keperluan rumah tangga seperti mencuci piring dan mencuci pakaian. Saat ini, masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Cikapundung mengeluhkan dampak pencemaran air sungai, antara lain limbah, kualitas air yang buruk, dan penurunan populasi ikan.

READ  Bank Dunia mengatakan ekonomi global menghadapi 'dekade yang hilang'

Oleh karena itu, sekelompok masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Cikapundung mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan melalui pertunjukan seni musik Tarawangsa. Kesenian pertanian tradisional asal Jawa Barat ini dipilih karena terkait dengan kelestarian lingkungan: tarawangsa Ini sering digunakan dalam upacara untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Tuhan sebelum dan sesudah panen padi yang sangat bergantung pada matahari.

Pertunjukan seni dan budaya lokal telah dipilih untuk membantu memperkuat pelajaran tentang pelestarian lingkungan kepada publik. Kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya, serta meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Semakin banyak partisipasi masyarakat dalam pagelaran musik Tarawangsa, semakin besar pula harapan akan kelestarian saluran air, khususnya Sungai Cikapundung.

Selain untuk menyebarkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, pagelaran ini juga bertujuan untuk menyebarluaskan dan melestarikan budaya, serta meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Dengan berangan-angan dan merasa dihormati oleh masyarakat, prakarsa ini berharap dapat melindungi Sungai Cikapundung dan perairan Indonesia lainnya.

foto oleh Benyamin Janus

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *