Kardinal Indonesia Suharyo diberi gelar Gereja di Roma

Pandemi Covid-19 mencegah prelatus itu mengambil alih gereja titulernya selama lebih dari dua tahun

Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo dari Jakarta memberkati para pengunjung massal selama perayaan Ekaristi di Spirito Santo Alla Ferratella di Roma, Italia, 28 Agustus. (foto disediakan)

Diterbitkan: 29 Agustus 2022 05:55 GMT

Diperbarui: 29 Agustus 2022 06:11 GMT

Kardinal Indonesia Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo dari Jakarta secara resmi mengambil alih gereja titulernya di Roma lebih dari dua tahun setelah Paus Fransiskus mengangkatnya menjadi kardinal.

Kardinal Suharyo72, Presiden Konferensi Waligereja Indonesia, mengambil alih gereja Spirito Santo Alla Ferratella dalam sebuah upacara pada 28 Agustus.

Peristiwa itu terjadi sehari setelah Paus Fransiskus mengangkat 20 kardinal baru, termasuk enam dari Asia, dalam sebuah konsistori pada 27 Agustus.

Toko Ucan
Toko Ucan

Prelatus itu mengatakan kepada UCA News bahwa pandemi Covid-19 menyebabkan keterlambatan dalam menerima gereja titulernya.

Menurut hukum kanon, setiap kardinal ditugaskan sebuah gereja tituler pada ketinggiannya. Gereja tituler berfungsi sebagai kehormatan yang menunjukkan hubungan antara kardinal dan paus—uskup Roma.

Namun, kardinal tidak memiliki kekuasaan untuk mengatur atau campur tangan dalam hal-hal yang mempengaruhi administrasi parokinya.

Dalam upacara hari itu, Kardinal Suharyo memimpin perayaan Ekaristi dalam bahasa Latin di paroki di Roma. Di antara yang hadir dalam Misa itu adalah Uskup Agung Piero Pioppo, Nunsius Apostolik untuk Indonesia, Pastor Markus Solo Kewuta Sabda Tuhan, direktur Dialog Antaragama Vatikan untuk Asia dan Pasifik Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, dan puluhan anggota Perhimpunan Bangsa Indonesia. Religius dan Wanita di Kota Abadi (IRRIKA) dan umat Katolik awam.

Pemimpin IRRIKA, Pastor Paulus Halek Bere dari Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria, mengatakan kepada UCA News bahwa upacara itu terdiri dari tiga bagian utama.

READ  UNHCR berulang tahun 70: Tetap melayani orang-orang yang terpaksa melarikan diri - Opini

“Pertama, sambutan Kardinal Suharyo di depan gereja paroki dan pemberkatan pengunjung massal oleh Kardinal Suharyo. Kedua, pembacaan Bulla Paus Fransiskus dan sambutannya,” ujarnya seraya menambahkan bahwa dalam homilinya, Kardinal Suharyo menyoroti toleransi beragama di Indonesia.

“Ketiga, sesi pertukaran dengan anggota IRRIKA yang diadakan di KBRI Tahta Suci.”

Dalam sesi pertukaran, katanya, Kardinal Suharyo mengajak seluruh anggota IRRIKA untuk lebih menghidupkan kembali semangat slogan populer “100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia”, yang pertama kali dicetuskan oleh Pastor Albertus Soegijapranata Yesuit — uskup pertama kelahiran asli Indonesia. – Katolik.

“Sesi berbagi ini sangat menginspirasi. Memang, dalam misi kita di Italia ini, para anggota IRRIKA harus selalu menunjukkan karakter bangsa Indonesia: orang yang baik dan peduli terhadap sesama,” kata Pastor Paulus, yang mempelajari Kitab Suci di Pontifical Biblical Institute di Roma.

Indonesia memiliki sekitar 8 juta umat Katolik di lebih dari 267 juta negara Muslim.

Kardinal Suharyo adalah prelatus Indonesia ketiga yang diangkat ke Kolese Kardinal, setelah Kardinal Justinus Darmojuwono (1914-1994) dan Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja yang berusia 87 tahun.

Berita terbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *