oleh

New Normal, Ruang Isolasi Penuh Dalam Hitungan Hari

Pemerintah berencana memberlakukan kehidupan normal yang baru (New Normal) meski Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid19) masih jauh dari kata berakhir.

Jelang akhir bulan Mei 2020, kasus positif di seluruh dunia telah melewati angka 5 juta pasien. Angka kematiannya bikin bergidik, sudah lebih 333 ribu orang meninggal.  

Pun di tanah air, lebih 1300 pasien harus meregang nyawa. Angka pasien positif sudah menembus 20 ribu kasus. Hampir bisa dipastikan, dalam hitungan hari, angka ini akan berlipat dalam deret kuadrat.

Takut? Melihat kondisi dan situasi yang ada, rasanya tak perlu lagi ada rasa itu secara berlebihan. Perlahan tapi pasti, virus mahkota ini tampaknya akan gentayangan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote.

Yang mengagetkan, kini banyak kasus baru, pasien terpapar covid19 ternyata tak memiliki riwayat perjalanan dan kontak berisiko. Misteri itu masih terus diteliti.

Mau tidak mau, siap atau nggak, masyarakat Indonesia harus menyambut penghuni baru dalam ekosistem dunia. Ini adalah takdir yang sudah tertulis di lauhul mahfudz sejak manusia diciptakan.

Masyarakat Indonesia kini perlu ikhtiar mencari solusi terbaik hidup bersama ‘kawan baru’ dalam New Normal. Hingga kini belum ada vaksin atau obat penyembuh Covid19. Makin parah, itu tidak akan ditemukan dalam waktu singkat.

SEPEKAN silam, Perusahaan Gilead dan lima rekanan disebut akan memproduksi Remdesivir. Obat ini sebenarnya dipakai untuk pengobatan penyakit Ebola, namun menurut penelitian bisa digunakan menyembuhkan penderita Covid19.

Obat ini disebut mempersingkat durasi gejala penderita dari 14 hari menjadi jauh lebih singkat. Penjelasan sederhananya, Remdesivir merupakan antivirus yang menyerang enzim yang dibutuhkan virus untuk bereplikasi dalam sel.

Sayang, tak banyak jaminan jika obat tersebut bisa menjadi amunisi terbaik memerangi Covid19. Sama halnya Avigan dan Klorokuin yang konon sudah dipesan sebanyak 5 juta tablet oleh pemerintah. Hasilnya, tak banyak membantu. Tren laju penyebaran dan angka kematian terus meningkat.

Belum lagi ketika ada nama Dr Anthony Fauci (NIAID, Institut Alergi dan penyakit Menular, AS) seputar Remdesivir. Nama Fauci sendiri disebut Dr Judy Mikovits dalam sebuah video kontroversial tentang konspirasi WHO soal Covid19.

Saat bersamaan, muncul testimoni mantan Menteri Kesehatan Siti Fadila Supari soal kejanggalan kehadiran Bill Gates memprediksi pandemi covid19. Juga soal WHO yang diduga membisniskan vaksin.

SEJENAK abaikan dulu kontroversial bak drama korea soal teori konspirasi melibatkan WHO dan Bill Gates. Hal ini masih jauh dari kebenaran, tak berdasar bahkan terkesan fitnah. Perlu bukti mendalam.

Tak perlu terlalu reaktif. Intinya, tak usah terlampau bergantung dengan pihak lain. Saatnya pemerintah tegas dan mandiri. Yakinlah kompetensi serta kapabelitas anak bangsa.

Pemerintah kini harus fokus dengan fasilitas kesehatan seiring langkah New Normal. Secara matematis, ruang isolasi dalam hitungan minggu akan penuh. Tenaga Kesehatan juga pasti tidak akan mencukupi.

Solusinya, pemerintah harus segera menyiapkan RS Khusus Covid 19 setiap provinsi dengan banyak ruang isolasi untuk karantina. Perlu juga banyak merekrut relawan tenaga kesehatan darurat sebagai alternatif jika pasien membludak parah.

Pengalaman sudah membuktikan, ketika ‘power of kepepet’ meningkatkan inovasi dan kreativitas anak bangsa. Ketika Alat Pelindung Diri (APD) termasuk masker dan disinfektan tidak tersedia, buatan dalam negeri hadir dengan kualitas dan model luar biasa. Bahkan bisa diakui dunia internasional.

Hal sama yang harus dipersiapkan adalah pengadaan respirator dan ventilator. Segera produksi massal, agar banyak pasien dapat tertangani sejak dini melewati masa kritisnya.

Jangan terlalu berharap menunggu obat WHO atau peneliti luar negeri ketika situasi darurat. Berdayakan obat tradisional, dibarengi dengan pengawasan dan kajian kesehatan. Hal ini juga dilakukan Tiongkok yang membuat tingkat kesembuhan pasien Covid19 sangat tinggi.

Penemuan obat tradisional untuk Covid19 seperti FormavD racikan Fahrul Lutfi, Ramuan Herbal Dr Suradi, Makanan SF Faisal Rizal, contoh penemuan dan racikan putra bangsa. Mirisnya, semua itu terkesan kurang diapresiasi pemerintah.

Indonesia dipenuhi banyak anak jenius, peneliti hebat, tabib mujarab dan dokter berkelas. Semua itu harusnya dikolaborasi, untuk kesembuhan pasien dan mencegah kematian..

Indonesia adalah bangsa hebat, kaya sumber daya alam dan dipenuhi SDM unggul. Hanya saja, bangsa ini terlalu lama dikerdilkan paradigma. Merasa bangsa lain masih jauh lebih superior.

Baca Juga: Dear Pak Jokowi, Rakyat Kini Bingung dan Takut

Indonesia  terlalu lama sering berkutat dalam hal receh yang bombastis dan kontroversial. Sudah saatnya Indonesia bangkit dan mandiri.

Semua bergantung pada pimpinan tertinggi…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed