oleh

Dear Pak Jokowi, Rakyat Kini Bingung dan Takut

Bulan Mei 2020 hampir berakhir. Namun, belum ada tanda-tanda Corona Virus Disease 2019 (Covid19) akan mereda. Sebaliknya, korban terjangkit virus mahkota ini terus menanjak. Yang meninggal, juga tetap bertambah.

Data ini seakan menepis prediksi dan keyakinan sejumlah pihak yang optimis virus corona akan mulai mereda minggu III bulan Mei.

Yang mengejutkan, Organisasi Kesehatan Dunia dan sejumlah peneliti dunia hampir sepakat memastikan Covid19 akan berlangsung lama. Bukan hanya itu, kata mereka, vaksin dan obatnya belum akan ditemukan dalam waktu dekat.

Mendengar hal itu, Presiden Joko Widodo langsung mengeluarkan pernyataan agar rakyat Indonesia bersiap, berdamai dengan keadaan. Seperti biasanya, seperti yang sudah-sudah, pakai istilah keren, New Normal alias Hidup Normal yang Baru.

Mungkin pemerintah tidak mau memakai istilah Herd Immunity, untuk menghindari kepanikan dan ketakutan massal.

Pemerintah bahkan sudah membuat jadwal, pembukaan bertahap semua sendi kehidupan yang sempat berhenti total, termasuk kantor dan sekolah.

Pernyataan dari Mantan Wapres Jusuf Kalla jika virus corona  tak pernah mengenal kata ‘damai’, seakan menyentil pemerintah soal  ‘permainan kata’. Menurut JK, damai itu jika kedua pihak setuju. Jika hanya satu pihak, itu bisa diartikan sebagai tanda mengalah atau menyerah.

Sontak, kebijakan tersebut langsung membuat publik terbelah. Separuh rakyat senang dan mendukung pemerintah. Ekonomi yang sudah hancur harus kembali bergeliat.

Tak boleh terus berpasrah tanpa kepastian dalam kehidupan karut marut. Jutaan rakyat akan mati kelaparan ketimbang terkena Covid19.

Sebagian lain, marah dan ketakutan jika hal itu benar diberlakukan. Mereka menganggap pengorbanan mereka berdiam di rumah selama ini ternyata sia-sia.

Mereka mewanti-wanti, Herd Immunity akan banyak memakan korban. Bahkan gelombang kedua dan mutasi Covid19 akan lebih berbahaya.  

Dua kelompok publik ini terus membesar, saling hujat dan hina di media sosial. Tanpa ada penengah.

Memang, Sejak status pandemi corona ditetapkan, entah berapa kali publik terus dihadapkan dengan situasi membingungkan. Padahal ketika virus ini mulai menyerang, semua pejabat publik dengan pongahnya menunjukkan kesombongan.

Bukan hanya itu, kebijakan publik yang diambil banyak saling bertolak belakang. Membingungkan masyarakat. Akibatnya, setiap hari mereka sibuk saling meluruskan pernyataan.

Presiden yang harusnya menjadi penengah, tak bisa menunjukkan ketegasannya. Belum lagi soal pernyataan mudik dan pulang kampung.

Perintah presiden soal debt collector dan finance yang wajib memberikan keringanan kredit, ternyaa tak dipahami dan dipatuhi utuh. Entah berapa banyak masyarakat kini yang terus dikejar dan berkelahi dengan para penagih hutang.

Soal pemberian bantuan, malah lebih membingungkan. Hingga saat ini, sebagian besar masyarakat yang berhak belum merasakan bantuan dan mulai terbiasa dengan kelaparan.

Alasannya, karena banyak warga yang belum terdata. Entah berapa banyak perangkat daerah nantinya akan dipenjara melihat kejanggalan ini. Agak ironis memang jika dibandingkan saat Pemilu dan Pilkada, datanya cepat tersedia dan diperbaharui.

Ada juga TKA yang dibebaskan masuk ketika mobilitas masyarakat lokal dibatasi. Atau soal pembebasan 35 ribu Napi atas nama kemanusiaan, padahal di saat bersamaan banyak orang ditangkap karena status medsos mengritik pemerintah. Kritik bukan fitnah.

Pun soal kenaikan BPJS dalam keadaan yang tidak tepat. Entah kebetulan atau disengaja, ramai-ramai para buzzer pembela pemerintah meminta para pengritik pindah kelas tiga.

Teranyar, tagar #Indonesia Terserah bergema karena rasa kecewa dan putus asa para Tenaga Kesehatan (Nakes) yang melihat kerumunan massa di banyak tempat. Padahal mereka sudah rela dan ikhlas jauh dari keluarga tercinta demi merawat para pasien.

Bandara, stasiun, pelabuhan, perbatasan wilayah, pasar dan pusat perbelanjaan bahkan di konser amal BPIP orang berdesakan dan bersesakan. Sebaliknya, tempat ibadah justru hingga kini masih belum diizinkan.

Publik memang terus mencoba memahami kerumitan dan kesulitan pemerintah menghadapi dilema ini. Sebisa mungkin memberikan dukungan terhadap pemerintah agar mendapat solusi terbaik.

Baca Juga: Berdamai dengan Corona, Pemerintah Pilih Herd Immunity?

MASALAHNYA, entah sampai kapan masyarakat harus ‘berdamai’ dengan kebingungan dan ketakutan?

Wallahualam…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed