oleh

Jerinx SID, Cicak Kecil yang Klaim Diri Komodo

Usai heboh konten sampah Ferdian Paleka, kini muncul nama Jerinx, seorang pegiat media sosial yang kontroversial. Teranyar, dia mengapungkan teori konspirasi global terkait Pandemi Covid19 di dunia.

Sontak kemunculan Jerinx, membuat publik bertanya siapa sosok yang rela terlihat bodoh depan publik demi aksi panjat sosialnya.

Baca juga: Masyarakat Geram, Denny Siregar dan Ferdian Paleka Girang

Ternyata, Jerinx adalah mantan drummer sebuah grup musik. Namanya Batman, eh Superman is Dead (SID).

Memang agak asing terdengar. Sulit memang  menyejajarkan SID dengan grup band rock kesohor tanah air seperti, Dewa19, Slank, Jamrud, Boomerang, RIF atau Netral.

Meski begitu, Grup band yang dibentuk 1995 itu pernah meraih gelar Anugerah Music Indonesia (AMI) Awards tahun 2014 sebagai grup rock terbaik. Kala itu, semua grup band pesaing, sudah menjadi legenda.

Ketika menyuarakan soal teori  konspirasi di balik pandemi Covid19. Jelas terlihat kebencian dan tudingan tak berdasar terhadap Bill Gates dan WHO di balik pandemi Covid19 ini. Tampak juga kepongahannya, seakan mengetahui rinci dan detail.

Awalnya, publik yang kritis juga sempat memahami jalan pikirannya. Hal ini sama misterinya soal Sars-CoV-2 yang diduga sebagai senjata biologis yang bocor dari laboratorium khusus virus di Wuhan, China.

Sayang, kelamaan cara berpikir Jerinx mulai tampak bodoh, bahkan terkesan dungu. Alasan yang dikemukakan mulai ngalor ngidul seperti orang gila yang lagi mabuk. Tak jelas dasar dan literaturnya.

Mari kita tilik lebih dalam…

Ketika tampil dalam sebuah wawancara di TV, Jerinx menyebutkan data yang tak valid. Dia menyebut 99 persen orang yang terinfeksi virus corona, akan sembuh. Ketika didesak soal sumber datanya, dia terlihat gagap dan mencari pembenaran tak jelas.

Dia juga menyebut, kematian yang banyak terjadi bukan murni karena virus corona, melainkan penyakit peyerta. Mungkin Jerinx tak tahu, jika virus corona terkenal lebih ganas ketika menyerang tubuh penderita dengan penyakit komplikasi. Mirip HIV/AIDS yang menyerang imun/antibodi.

Hal lain kata Jerinx, banyak rumah sakit yang kini kosong, termasuk di semua negara yang angka pasien terpapar Covid19 sangat tinggi. Entah dia pernah menonton atau membaca berita mancanegara, yang menyebut banyak rumah sakit kewalahan menampung pasien Covid19.

Tenaga medis dan petugas pemakaman juga kelimpungan memakamkan jenazah. Dia pasti juga tak paham soal rumah sakit rujukan Covid19. Masih berkelit dengan propaganda Media Mainstream, silakan telusuri lewat media sosial dan blog independen.

Pola pikir Jerinx bisa saja terbentuk karena menonton wawancara kontroversial Dr Judy Mikovits yang menuding Anthoni Fauci dan Ian Lipkin ada di balik Pandemi Covid19. Atau soal pengakuan tenaga medis yang dipaksa ‘meningkatkan’ korban meninggal akibat Covid19.

Mungkin juga dia pernah membaca soal pernyataan Bill Gates sudah berbicara pandemi ketika menjadi pembicara Tedx pada 2015, jauh sebelum Covid19 menyerang.

Juga mengaitkan pernyataan mantan Menkes Siti Fadilah Supari yang membuka borok WHO soal ‘bisnis vaksin’.

Sampai di sini, memang semua pecinta teori konspirasi masih terbelah dan terus mencari bukti pendukung paradigma itu.

Hal ini merujuk sejumlah teori konspirasi serupa seperti pendaratan Neil Amstrong Cs di Bulan, Pembunuhan Putri Diana, Kematian Paul McCartney, Adolf Hitler Bunuh Diri, Peristiwa 911, atau Obat kanker disembunyikan Big Pharma.

Sayang dia tak membaca utuh, salah menarik benang merah. Abai soal Bill and Melinda Gates Foundation. Lupa jumlah korban di USA atau Eropa, yang pengetahuan dan teknologi kesehatan super canggih dan tak bisa diintervensi.

Parahnya, ketika orang mulai menertawakannya, dia menyertakan juga agama sebagai bagian sebuah konspirasi, sebagai penguat argumennya. Seketika semua pecinta teori konspirasi langsung mengerti kapasitas otak Jerinx.

Mungkin dia masih harus belajar menelaah dan menganalisa paradoks dan antitesis soal ‘Agama dan Pengetahuan tak pernah bersatu’. Yang jauh mengasah logika, afeksi dan kalbu. Memahami soal nalar dan gaib.

Sayangnya, semua masih terlalu jauh. Attitude Jerinx yang buruk dalam wawancara live, juga membuat publik bisa menakar kadar ego, EQ dan SQ-nya. Teranyar, ketika tantangan, cara membaca pesan WA hingga tudingan berbau fitnah terhadap vokalis grup band legenda.

Terlihat jelas ada kekalahan dan kemaluan di setiap kalimatnya. Hal yang makin memperjelas, pola pikir seorang Jerinx yang sok tahu, terlihat gob*ok dan bakal jadi tertawaan orang banyak…

Maklum dan mafhumlah…

Terkadang, seekor cicak berhalusinasi ingin menjadi seekor komodo…

Penulis: Rizka Alvira

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed