oleh

Berdamai dengan Corona, Pemerintah Pilih Herd Immunity?

Memasuki pertengahan bulan Mei 2020, penyebaran covid19 masih menggila. Jumlah ODP, PDP, posisif hingga yang meninggal terus bertambah. Padahal, lebih dari dua bulan anjuran ‘mengasingkan diri’ di rumah sudah dijalankan masyarakat dari Sabang hingga Merauke.

Imbauan Physical Distancing hingga aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tak cukup kuat menahan laju penyebaran virus mahkota ini di Indonesia. Angka kematian terus bertambah menyentuh angka ribuan.

Mungkin, ada beberapa hal yang kini patut mendapat perhatian, terkait pandemi SARS-CoV-2 ini.

Mari kita tilik lebih dalam…

Pertama, virus SARS-CoV-2 merupakan virus jenis baru, meski 79 persen mempunyai kemiripan dengan virus SARS-CoV. Namun virus ini lebih ganas, lekas menyebar dan mampu bermutasi secara cepat, menyebabkan penyakit Covid19 jauh lebih mematikan.

Semua pihak kini menjadi awam, hanya bisa berasumsi dan menduga, termasuk tenaga medis sekalipun. Semua ahli di seluruh dunia kini masih mencari formula untuk vaksin dan obat penyakit Covid19 ini.

Itu berarti, belum bisa dipastikan kapan virus ini bisa disembuhkan. Penemuan hingga tes vaksin dan obat yang sementara diteliti masih berjalan bahkan bisa lebih dari dua tahun.

Kedua, banyak temuan kasus yang menambah kekhawatiran publik saat menghadapi ganasnya virus ini. Teranyar, ditemukan pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari virus corona kembali terjangkit virus tersebut.

Sebelumnya juga, ditemukan virus corona pada cairan otak pasien meningitis. Padahal sebelumnya hasil tes Polymerase Chain Reaction (PCR)/Swab tenggorokan, pasien itu dinyatakan negatif Covid19.

Ini berarti, masih banyak anomali yang terjadi berbeda dengan informasi yang selama ini masyarakat ketahui, termasuk keakuratan Rapid Test dan PCR. Ini belum menyoal rumitnya penjelasan definisi Orang Tanpa Gejala (silent carrier).

Ketiga, keadaan ekonomi terus memburuk. Pertumbuhan ekonomi yang minus bisa menggambarkan kondisi keuangan negara. Semua keuangan negara dialokasikan untuk subsidi untuk masyarakat dan penguatan bidang kesehatan perangi Covid19. Yang jadi masalah, Tak ada yang bisa memastikan, sampai kapan keadaan ini akan berakhir.

Jika menggunakan teori kesehatan masa inkubasi virus 14 hari, harusnya sudah tidak ada lagi penambahan kasus positif. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Tak usah lagi menyalahkan kelambanan pemerintah atau kebebalan masyarakat.

Keempat, masyarakat yang awalnya dengan senang hati berada di rumah kini mulai gerah, bingung dan teriak. Banyak hal yang menjadi alasan.

Soal kisruhnya bantuan pemerintah, kebijakan pejabat yang saling bertolak belakang, hingga kewibawaan pimpinan dan kepatuhan bawahan. Belum lagi soal kekhawatiran dan ketakutan soal keamanan dampak krisis ekonomi dan sosial.

Yang bikin bergidik, kemungkinan terburuknya, Covid19 bahkan disebut akan mirip dengan kasus HIV/AIDS. Akan terus ada tanpa ada vaksin dan obatnya, meski sudah diteliti belasan tahun lamanya.

Lantas, akankah negara terus bertahan? Sampai kapan?

Herd Immunity

Melihat pernyataan Presiden Joko Widodo dan jajarannya, tampaknya pemerintah mulai bertoleransi dengan kenyataan. Pada akhirnya meski berat, kemungkinan menciptakan Herd Immunity merupakan pilihan terbaik di antara yang terburuk.

Untuk menciptakan Herd Immunity, semuanya akan dikembalikan berjalan normal, tentunya dengan modifikasi plus kebijakan pendamping, termasuk wajib masker dan jaga jarak. Juga mengurangi keramaian dan titik massa.

Sembari berjalan, sudah saatnya setiap provinsi Indonesia membuat RS khusus Covid19, di luar penyakit lainnya. Sudah banyak keluhan pasien penyakit lain yang meninggal justru karena ketakutan berada di RS rujukan. Belum lagi soal ruang isolasi yang kini menjadi ‘ruangan eksekusi’.

Hal terlupakan, mungkin selama ini pemerintah abai dan lupa, bahkan terkesan merendahkan kerja keras anak bangsa, OBAT ALTERNATIF. Ibu Pertiwi, kaya dengan rempah dan tumbuhan obat-obatan.

Sebagai catatan, tingginya tingkat kesembuhan pasien positif di China, karena pengobatan modern mereka dikombinasikan dengan pengobatan tradisioanal.

Mungkin hal itu yang mesti diterapkan di Indonesia. Indonesia punya banyak orang pintar, tabib handal dan ahli pengobatan. Tentunya, tugas pemerintah merangkul sekaligus menyeleksi mereka sesuai logika dan akal sehat. Tak usah terlalu pragmatis, selalu terpaku dan menunggu langkah WHO.

Bangsa ini harus kembali keluar dari krisis. Tak bisa terus berpasrah, menanti sesuatu yang belum pasti.

Indonesia pasti bisa, jika kita bersatu, bersama…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed