oleh

Hadeh, Warganet +62 Ribut Soal Pulkam dan Mudik

Seharian timeline media sosial ribut membahas perbedaan tentang pulang kampung (Pulkam) dan Mudik. Topik itu jelas bersumber dari wawancara Najwa Shihab dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi di istana Merdeka, Selasa(21/4/2020) yang ditayangkan Rabu (22/4/2020)

Menjawab sebuah pertanyaan, Presiden Jokowi mengatakan Pulang Kampung dan Mudik itu adalah hal berbeda. Najwa Shihab saat itu juga terlihat tampak bingung, dan mengajukan pertanyaan penjelas.

Jokowi lalu menjelaskan, Pulang kampung menurutnya bisa dilakukan kapan saja sedangkan mudik dilakukan jelang lebaran. Pulkam tidak dilarang, namun mudik dilarang.

Sontak, potongan percakapan tersebut menjadi sasaran bullyan, kelompok yang selama ini berseberangan dengan pemerintah. Para pendukung, juga mati-matian membenarkan yang dikatakan Jokowi.

Mari kita tilik lebih dalam…

Mudik adalah singkatan dari Mulang ke Udik. Artinya pulang ke Desa/kampung. Jelas secara harafiah dan definsi, Jokowi salah. Pulang kampung dan Mudik adalah hal yang sama. Mudik juga bukan hanya lebaran, ada juga Mudik Natal, Tahun baru dan lainnya.

TAPI, mungkin kita perlu jauh menelaah, apa yang dimaksud Jokowi. Ada perbedaan besar antara keduanya.

Mungkin yang dimaksud Jokowi, pulang kampung adalah untuk pure pekerja di ibukota. Banyak pekerja memang mengais pundi di ibukota. Ada yang masih lajang, ada yang sudah berkeluarga tapi ditinggal di kampung, atau memboyong keluarga kecilnya. Mereka kebanyakan mengontrak atau menyewa tempat tinggal. Mayoritas mereka masih ber-KTP kampung halamannya dengan surat pindah alasan kerja.

Merekalah yang dibebaskan pulang, jika mau. Alasannya, jika mereka terus bertahan di Jakarta, jelas mereka akan makin kesusahan. Makan, kontrakan, dan lain kebutuhan, sulit terpenuhkan. Merekalah yang dimaksud Jokowi sebagai KELOMPOK PULANG KAMPUNG.

Lain halnya dengan KELOMPOK MUDIK, mereka rata-rata sudah ber-KTP Jakarta. Sudah tinggal di Jakarta dengan rumah sendiri (meski masih nyicil). Mereka memang berasal dari kampung, tapi lebih memproklamirkan diri sebagai ‘orang Jakarta’. Setiap tahunnya, rutinitas mudik lebih didasarkan untuk bersilaturahmi dengan keluarga yang sudah tidak lama berjumpa.

Kedua kelompok ini dalam situasi normal, akan menjadi sama, mudik ya pulang kampung.

Sebenarnya, mungkin Jokowi ingin menyederhanakan pola pikir agar mudah dipahami. Wajar memang, banyak tafsiran dan interpretasi berbeda.  

Sebenarnya, hal ini tak perlu dipertentangkan. Justru, banyak hal baik yang bisa diambil dalam wawancara tersebut.

Dari situ,kita bisa mengetahui, Jokowi harus mengambil keputusan ketika banyak ‘tumbukan’ antar kementerian, dengan targetnya masing-masing. Itulah mengapa, kita sering disuguhkan dagelan beda informasi, bahkan kontra informasi.

Jokowi kini memang dalam posisi dilema, sangat besar. Bak simalakama cangkok, harus memilih kebaikan lebih besar dengan risiko lebih kecil lengkap dengan imbas jauh ke depan.

Jika disederhanakan, Jokowi kini harus dihadapkan situasi berbuat ‘TEGA’. Mengorbankan masyarakat lebih sedikit. Memang ngeri mendengarnya, tapi itulah realitanya.

Menukil serial MacGyver, ada situasi ketika kita harus mengambil keputusan cepat, mengorbankan orang banyak, untuk menyelamatkan jauh lebih banyak orang.

JADI, tolong setoplah saling mencaci. Tugas Jokowi, jajarannya hingga pemerintahan di tingkat desa sangat berat. Seberat pertanggungjawaban di akhirat nanti.

Untunglah, di malam yang sama, muncul juga video dari mantan seteru yang kini jadi karib, Prabowo Subianto. Dengan penuh kerendahan hati, intinya Prabowo mengajak semua pihak bersatu, terlebih menghadapi situasi pandemi Covid19. Mencari kesamaan bukan perbedaan.

Sayang, di tengah rekonsiliasi ditambah krisis Covid19, buzzer seperti Denny Siregar, Permadi Arya (Abu Janda) dan lainnya justru sering offside. Entah dibayar atau diimingi, mereka lebih sering memperkeruh suasana.

Memang wajar membela pemerintah, ketika difitnah atau dirundung, ketika informasi tidak tersampaikan dengan benar. Namun, aksi para buzzer ini sudah seperti anjing penyalak sekaligus anjing penjilat. Mereka lebih sering menyiram bensin dalam bara.

Ah, memang warganet +62, wkwkwk Land…

Selamat Berpuasa…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed