oleh

Tuhan, Ampuni dan Jaga Kami…

Penyebaran Covid Virus Disease 2019 (Covid19) makin memprihatinkan. Angka kematian di Indonesia tembus 100 jiwa dan diprediksi akan terus menanjak.

Pemerintah pusat resmi memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan opsi darurat sipil sebagai pilihan terakhir. Pro kontra keputusan ini bermunculan, saling bersahut-sahutan.

Publik mulai dilanda kekhawatiran, takut dengan dampak yang akan terjadi jika langkah itu adalah keputusan yang salah. Wajar memang, berkaca dari pengalaman beberapa negara yang menerapkan kebijakan serupa.

India, dengan penduduk lebih dari satu miliar, kini dilanda kekacauan luar biasa usai memberlakukan pembatasan sosial dengan ‘kekerasan’. Takut kelaparan dan terkurung, masyarakat miskin kaum pekerja terpaksa pulang kampung halaman.

Mereka memilih jalan kaki menempuh jarak ratusan kilometer karena tak ada transportasi dan uang yang cukup. Mereka ter-PHK karena kondisi ekonomi karut marut. Mayoritasnya adalah buruh yang dibayar harian, ketika perusahaan beroperasi.

Pun begitu dengan Italia, negara maju di Eropa, tapi seakan tak berdaya melawan virus SARS-CoV-2 ini. Italia memberlakukan pembatasan sosial dengan denda tinggi. Namun, selama tiga pekan diterapkan, angka kematian justru menembus 10 ribu jiwa.

Kini di tanah kelahiran Paolo Maldini itu, mulai terlihat ada penjarahan supermarket karena warga yang kelaparan. Padahal, kebijakan tersebut diimbangi insentif kepada seluruh warga yang dirumahkan.

WAJAR memang jika publik mulai resah. Sejak imbauan #DiRumahAja diberlakukan, kehidupan berubah drastis. Jutaan orang di Indonesia terancam PHK. Saat bersamaan, penyebaran Covid19 makin merajalela.

Pemberlakuan PSBB mengarah darurat sipil, bisa jadi adalah opsi yang tepat dari pemerintah. NAMUN, sebaliknya bisa juga menjadi keputusan yang salah dan berisiko.

Dengan hitungan medis, masa inkubasi virus yang ‘hanya’ 14 hari, diharapkan pertengahan bulan April 2020, penyebaran virus mahkota ini mulai mereda.

Lantas, bagaimana jika di perkiraan waktu itu penyebaran virus justru makin melebar dan meningkat? tak ada yang tahu pasti. Yang jelas, masa PSBB akan diperpanjang lagi, dengan opsi darurat sipil.

Bagaimana kebutuhan dan persediaan pangan mereka yang tak memiliki penghasilan lagi? Yang tak memiliki tabungan? Apakah insentif dan sumbangan pemerintah nantinya mencukupi?

Hanya waktu yang bisa menjawab. Berharap tak akan menjadi bom waktu yang mengerikan.

Itu belum termasuk keresahan terkait kelonggaran kredit instruksi Presiden Jokowi yang kini bergeser makna, hanya untuk mereka yang terpapar atau terdampak langsung Covid19.

Pemberlakuan PSBB memang opsi yang dianggap tepat, namun risikonya juga luar biasa. Itu seperti menangkal virus dari luar, namun membiarkan dia menggerogoti dari dalam.

Virus ini sudah menyebar ke banyak daerah bahkan jumlahnya diprediksi lebih dari angka yang diketahui.

Bayangkan saat lalulintas lengang dan transportasi umum sepi. Ketika ada ribuan warga merasakan gejala terpapar, pasti pasien akan terlambat mendapat penanganan.

Rumah sakit rujukan dan tenaga medis juga kini terbatas. Sejumlah kasus sudah menjadi contoh gamblang, ketika pasien terlantar, tak mendapatkan penanganan medis semestinya. Juga karena njlimetnya birokrasi, akhirnya nyawa tak lagi berarti.

Berkaca penanganan di China, mungkin ada baiknya, setiap provinsi di Indonesia memikirkan penambahan rumah sakit ekstra khusus penanganan Covid19. Ini mengantisipasi ledakan Pasien Dalam Pengawasan (PDP), suspect bahkan positif.

Bukannya menakuti, pemerintah daerah juga wajib menyediakan lahan luas yang agak jauh dari permukiman. Antisipasi, untuk pemakaman massal jika korban jiwa banyak berjatuhan. Kenyataannya, kini banyak warga melakukan penolakan pemakaman pasien Covid19 di daerahnya.

Juga bersiap untuk kemungkinan terburuk seperti di Italia, akan tiba waktu dimana petugas medis harus memilih siapa yang harus diselamatkan, karena pasien terlalu banyak.

Publik kini berharap langkah pemerintah adalah yang terbaik, setelah melewati kajian matang dan masukan terukur para ahli cendekia.

Pemerintah saat ini memang diuji dilema maha berat untuk mencatatkan namanya dalam sejarah. Entahlah, manis atau kelam.

Pada akhirnya, semuanya kembali kepada Sang Pemilik Semesta, Sang Pemilik Virus. Tuhan yang mengizinkan mewabahnya virus mahkota ini.

Ada rencana dan maksud, Tuhan menguji hamba-hamba-Nya. Hanya bisa berserah dan terus meminta agar bencana ini cepat berlalu.

Tuhan, ampuni dan jaga kami…  

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed