oleh

Ketua MPR dan Gubernur pun Pernah Salah Baca Pancasila

Seharian timeline media sosial ramai-ramai menggunjing tentang kesalahan seorang finalis putri Indonesia, Louise Kalista Wilson Iskandar, wakil Provinsi Sumatera Barat.

Mayoritas warganet menertawai Kalista karena tak mampu menjawab pertanyaan Ketua DPR, Bambang Soesatyo.

Memang, sebagai seorang calon putri Indonesia, duta bangsa di kancah internasional, tak seharusnya Kalista lupa atau salah mengucap lima sila dasar negara.

Tak seharusnya juga dia gugup, karena tampil di hadapan sorot kamera dan disaksikan jutaan pasang mata. Dia adalah public figur yang harusnya sudah terbiasa di depan orang banyak.

Namun, faktor gugup itu normal dan bisa datang kapan saja. Apalagi, ketika sebuah kesalahan kecil mendapat sorakan ribuan orang. Kesalahan kita pasti akan menjadi.

Tak percaya? Mungkin banyak yang sudah pernah mengalaminya. Yang belum pernah merasakannya? Berdoalah, semoga tak akan pernah mengalaminya.

Sekadar mengingatkan, kesalahan Kalista itu manusiawi. Mantan Ketua MPR (Alm) Taufik Kiemas pernah melakukan hal serupa, bahkan saat upacara kenegaraan. Gubernur Sulawesi Barat Andi Ali Baal Masdar juga pernah merasakan hal sama.

Belum cukup, Prabowo Subianto yang saat itu menjadi Capres pun pernah salah melafalkan pancasila. Banyak juga tokoh lain, yang pernah berbuat kesalahan serupa. Tak percaya, jejak digital bisa ditelusuri.

Tanpa bermaksud menggurui atau merasa lebih hebat, pantaskah jika kita mempermalukan Kalista?

Benarkah kita akan mampu dan lebih baik jika berada di panggung yang sama?

Kalista sudah mengakui, jika di momen itu dia memang sangat gugup. Namun yang mengundang simpati, usai kejadian itu, dia mampu tegak mengangkat kepala dan tetap bangga kepada kepada dirinya.

Banyak yang belum tahu dan mungkin akan merasa malu, Kalista itu lebih pancasila dari mereka yang jemawa bisa menghafal pancasila.

Meski dia beribukan berdarah Amerika Serikat, dia bangga menjadi warga Indonesia. Dia bahkan menjadi Putri Batik Nusantara 2018. Mempromosikan kain khas nusantara ke seluruh penjuru dunia.

Hebatnya lagi, sejak SMA dia sudah aktif di Yayasan Emmanuel Bogor. Kalista membantu menyediakan kebutuhan bagi para anak Yatim Piatu untuk mengejar prestasi, memotivasi sesuai dengan passion mereka.

Itulah hal mendasar dan elemen substansial dalam pancasila, memanusiakan manusia lain.

Magister Hukum kelahiran Bukittinggi itu juga sering membawa nama Indonesia dengan prestasinya di tingkat Internasional. Silakan telusuri prestasinya.

Memang, setiap warga negara Indonesia wajib bisa menghafalkan dan melafalkan pancasila. Tapi jauh lebih penting adalah menerapkan nilai-nilai pancasila itu sendiri.

Sejatinya, pancasila itu bukan hafalan, tapi amalan.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed