oleh

Penyesalan di Balik Kemeriahan Cap Go Meh Manado

Ribuan warga sejak siang memadati kompleks pecinan, di kawasan pusat kota Manado, Sabtu (8/2/2020). Mereka antusias ingin melihat penampilan para Tang Sin dalam gelaran Festival Cap Go Meh Manado. Dalam perayaan Cap Go Meh 2571, ada delapan Tang Sin yang direstui untuk tampil dalam arak-arakan.

Bukan hanya itu, kolaborasi dengan marching band dan budaya lokal seperti tarian kabasaran, masamper dan musik bambu, membuat festival Cap Go Meh 2020 lebih menyatu dengan warga.

Walikota Manado, Vicky Lumentut dalam sambutannya menekankan perayaan Cap Go Meh sebagai simbol kerukunan antar umat beragama di Manado.

“Manado adalah rumah besar dari keberagaman suku, agama, ras dan budaya. Mari kita jaga bersama. Saya titip Manado, semoga semakin baik dan terus rukun,” katanya yang disambut dengan tepuk tangan panjang dari warga Kota Manado.




Sempat diguyur hujan, tak membuat warga Manado beranjak dari tempatnya. Sepanjang rute yang dilewati parade, tampak warga bersesak dan berdesakan.

NAMUN di balik kemeriahan Festival Cap Go Meh, ada satu sesal yang pantas diapungkan. Kemeriahan Cap Go Meh 2020 nampak sedikit berbeda dengan setahun sebelumnya.

Kini tak lagi terlihat rombongan-rombongan turis asal Tiongkok dengan jepretan kamera dan teriakan nyaring dengan bahasa Mandarin. Padahal pada perayaan serupa tahun 2019, ribuan turis asal Tiongkok begitu terkagum-kagum dengan kolaborasi budaya Tiongkok-Sulawesi Utara dalam Festival Cap Go Meh.

Meski disaksikan sejumlah wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik, tak bisa dipungkiri, jumlahnya kini sangat jauh berkurang dibanding tahun sebelumnya.

Pemerhati ekonomi Sulut, Jelly Wensy Siwy kepada Manadopedia mengamini hal tersebut. Kata dia, Festival Cap Go Meh yang sudah menjadi kalender tahunan, harusnya mendapatkan pemasukan besar bagi Pemerintah dan warga Kota Manado.

“Patut disesalkan memang. Wabah virus Corona, berimbas pada penurunan pemasukan daerah. Namun tentunya, langkah pemerintah pusat dan daerah sudah tepat, menghentikan penerbangan Tiongkok-Manado,” jelasnya.

Sejak penutupan penerbangan dari Tiongkok, kata Siwy, pariwisata Sulut menurun drastis. Menurutnya, tahun 2019, jumlah turis asal Tiongkok yang berkunjung ke Sulut lebih dari 100 ribu orang.

“Itu bisa dilihat dari sejumlah destinasi wisata unggulan yang kini tak lagi ramai. Pun begitu dengan tingkat hunian hotel serta kunjungan ke rumah makan,” kata dia.

Lanjut Siwy, hal itu tentunya menjadi tantangan untuk pemerintah daerah untuk melihat peluang dengan menghadirkan wisatawan dari daerah lain.

“Alasan utama tentunya agar virus corona tidak menyebar, terlebih ke daerah kita. Pemerintah kini harus mencari terobosan dengan melakukan promosi ke daerah lain untuk mendatangkan wisman dan wisdom ke Manado,” jelasnya.




Apalagi menurutnya, pemerintah pusat langsung memberikan dukungan penuh, dengan memangkas harga tiket ke Manado lebih dari lima puluh persen.

Dia juga berharap, generasi muda Sulawesi Utara turut menjadi duta wisata dengan gencar melakukan promosi ke luar daerah dan luar negeri.

“Mari bantu pemerintah dengan berpromosi lewat media sosial. Para youtuber-blogger juga mari berlomba membuat konten tentang Sulawesi Utara, memperkenalkan keindahan daerah kita,” kata pria yang juga suka membagikan aktivitasnya sebagai seorang traveler.

Baca juga: Tiket ke Manado Turun 50 Persen

Diketahui, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengeluarkan kebijakan untuk memangkas harga tiket penerbangan ke tiga daerah pariwisata di Indonesia, Kamis (6/2/2020).

Tiga daerah tersebut adalah Pulau Bali, Manado dan Bintan. Ketiganya menjadi daerah paling terdampak akibat penutupan penerbangan Tiongkok-Indonesia imbas dari wabah virus corona. Dari kalkulasi pemerintah, pariwisata ketiga daerah ini mengalami defisit luar biasa yang berakibat kerugian hingga USD 4 Miliar.

Penulis: Kayla Carissa



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed