oleh

Andre Rosiade, Tanpa Empati Menari di Atas Derita NN

Publik terus mencermati kasus penggerebekan Hotel Kyriad Bumiminang di Kota Padang oleh Anggota DPR asal Partai Gerindra, Andre Rosiade. Dari penggerebekan, seorang muncikari dan PSK tertangkap basah, Minggu (26/1/2020).

Kasus ini kemudian mencuat ke publik, usai sang PSK (NN) membuat pengakuan ke media. Dia mengaku dijebak namun ‘dipakai’ terlebih dahulu sebelum terjadi penggerebekan. Yang bikin miris, saat penggerebekan, oknum pria pemakai jasa NN, ‘dibiarkan’ menghilang oleh petugas penggerebek.  




Nama Andre Rosiade bahkan ada dalam formulir pemesanan kamar. Belum lagi, NN yang dalam ketakutan dibiarkan berulangkali meminta-minta celananya ketika para penggerebek memenuhi kamarnya.

Semua sepakat, praktik prostitusi tak bisa dibiarkan, harus diberantas.

Tapi, …

Sudah menjadi rahasia umum, praktik prostitusi online ada di semua aplikasi chatting. Facebook, Twitter, IG, WhatsApp, Mi Chat, Badoo, Telegram, Hago dan masih banyak lagi. Perlu ada usaha keras untuk memberantas itu dengan koodinasi lintas sektor.

Mungkin langkah awal adalah memberantas para ‘pemakainya’. Ada asap, pasti ada apinya. Praktik prostitusi menjadi semakin marak, karena peminatnya makin banyak.

Sayang, dari berbagai pengakuan, mayoritas pemakainya adalah kaum berduit, termasuk para pejabat. Itu sudah menjadi rahasia umum.

Tak percaya, tanyakan random kepada setiap PSK, mereka bahkan bisa menunjuk hidung, pejabat yang pernah beradu masyuk bercucur peluh dengan mereka.

Sekali lagi, semua sepakat, praktik prostitusi tak bisa dibiarkan, harus diberantas. Namun, cara Andre Rosiade yang ‘menjebak’ NN demi sebuah pencitraan, sungguh memalukan.

Ada cara yang lebih elegan dan bijak tanpa mempermalukan, ketika ingin menegakkan kebenaran. Ada yang hilang dari niat baik anggota DPR RI yang terhormat ini, EMPATI dan NURANI.




Ketika ditelusuri latar belakangnya, NN adalah orang tua tunggal dari seorang anak Batita. Dia adalah istri siri, yang tak bisa setiap saat menelepon suaminya. Anaknya bahkan lebih sering diasuh tetangganya.

NN terjebak dalam dunia hitam, karena keadaan. Dia hanya seorang ibu yang coba memenuhi kebutuhan sang buah hati. Sedari usia 5 tahun, NN adalah seorang yatim piatu yang sudah merasakan kerasnya hidup. Hidup bersama sang nenek yang juga kekurangan, membuatnya hanya bisa menamatkan bangku SMP.

Dia merantau ke Padang, dengan mimpi mengubah hidupnya. Apa daya, realita tak semanis khayalan. Jadilah NN seperti itu, menjajakan kemolekan tubuh dalam aplikasi Mi chat. Memang sebuah pilihan hidup yang salah, tapi siapa yang harus disalahkan? Debatable…

Tak ada satu pun wanita yang bercita-cita menjadi seorang PSK. Keadaan dan lingkunganlah yang membuat mereka harus terjebak di dunia itu.

Wajar memang publik bereaksi keras atas kasus ini. Mereka berempati atas perlakuan untuk NN yang dinilai tak adil. Apalagi ‘sang penikmat’ yang katanya ajudan Andre justru kini bebas melenggang.

Partai Gerindra, asal sang politisi ingusan ini, juga terbelah. Praktis hanya Fadli Zon dan Habiburokhman yang terkesan membelanya. Lainnya, justru menyalahkan langkah Andre yang kurang koordinasi. Arief Poyuono, bahkan keras menampar Andre dengan statemen menohok.

DPP Gerindra juga sudah bereaksi dengan membatalkan pencalonan Andre Rosiade sebagai bakal calon Gubernur Sumatera Barat. Padahal, mengejar posisi itu adalah motivasi awal Andre melakukan penggeberekan. Mungkin maksudnya agar dia tercitrakan sebagai seorang pemimpin religius dan anti kemunkaran.




Bullyan dan hujatan publik ternyata tidak membuat Andre sadar akan kesalahannya. Terbaru dia membela diri dengan menuding publik yang menghujatnya adalah pendukung Ahok.

Alasannya, karena sebelum kasus ini mencuat, dia sempat menyindir Ahok sebagai Komisaris Utama rasa Dirut Pertamina. Andre terlalu pongah dan membabi buta mempertahankan sikapnya.

Padahal jika dicermati, bukan hanya publik yang menyalahkannya. DPR, KPAI, Ombudsman, PHRI dan sejumlah pihak dengan objektif menilai Andre melakukan kesalahan ketika membuka aib NN demi mengatrol citranya.

Sebagai seorang Anggota Dewan yang terhormat, tak semestinya seorang pejabat negara memenjarakan warganya, hanya untuk pujian dan nama baiknya.

Mungkin benar adanya, …

Bangsa ini surplus pejabat pintar dan intelek, tapi krisis pemimpin yang punya empati dan nurani.

Penulis: Efge Tangkudung



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed