oleh

Panambunan tak Tersentuh Hukum, Massa Bakar Keranda Jenazah

Ratusan massa yang tergabung dalam Ormas Laskar Mangguni Indonesia (LMI) mendesak pihak Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara untuk menuntaskan kasus korupsi pemecah ombak di Kabupaten Minahasa Utara, Senin (3/1/2020).

Ketua DPP LMI Hanny Pantouw dalam orasi mempertanyakan kejanggalan dalam penyelesaian kasus ini. Menurutnya, dari fakta persidangan sudah jelas siapa aktor intelektual di balik kasus tersebut.

“Kasus ini sudah terang dan jelas, jika ada tersangka baru segera dieksekusi,” koar Pantouw.

Dia juga menyayangkan para tersangka yang sudah menjadi terpidana dalam kasus ini, seolah hanya menjadi tumbal untuk melindungi sang pimpinan.




Dalam aksi ini, massa membakar dua keranda jenazah sebagai simbol matinya supremasi hukum di Indonesia. Massa meminta pihak kejaksaan untuk segera menindaklanjuti tuntutan masyarakat.

Tampak Asisten Intelejen Kejati Sulut, Stanley Bukara dan Kasi Penkum Kejati Sulut Yoni Malakka menerima para pendemo.

Bukara dalam tanggapannya, mengaku akan meneruskan hal tersebut kepada pimpinan. Dia juga menitipkan permintaan maaf kepada pendemo, karena Kepala Kejaksaan Tinggi Sulut berhalangan hadir.  

Kapolres Kota Manado, Kombes Pol Benny Bawensel tampak mengawal langsung aksi damai di halaman kejaksaan tinggi tersebut.

Diketahui, kasus ini menyeret nama Bupati Minahasa Utara yang kini menjabat, Vonny Panambunan. Dia diduga terlibat dalam korupsi anggaran pembangunan pemecah ombak di Desa Likupang Kabupaten Minahasa Utara Sulawesi Utara Tahun Anggaran 2016. Diperkirakaan negara mengalami kerugian lebih dari 8 miliar rupiah.

Empat orang sudah menjalani hukuman terkait kasus ini. Memang, nama Vonny Panambunan kerap disebutkan dalam persidangan sebagai aktor intelektual. Bahkan, para saksi menyebut detail lokasi dan proses penyerahan uang.

Panambunan sendiri sudah belasan kali mendapat panggilan untuk menghadiri persidangan. Namun tak sekalipun bupati wanita tersebut hadir dengan alasan sibuk dengan aktivitasnya.

Dalam setiap persidangan Jaksa Penuntut Umum (JPU) selalu berjanji kepada hakim akan menghadirkannya secara paksa. Namun, hal tersebut tak kunjung terealisasi.

Yang menarik, Panambunan kini sedang sibuk mempersiapkan diri menghadapi kontestasi Pilgub Sulut 2020. Wajahnya kini terpampang di baliho yang ada sejumlah kabupaten/kota di Sulawesi Utara.

Panambunan sendiri kini memasuki periode kedua kepemimpinannya. Saat menjadi Bupati periode 2005-2010, dia pernah tersandung kasus korupsi tahun 2008, terkait proyek feasibility studies pembangunan Bandara Loa Kulu di Kalimantan Timur.




Usai menjalani hukumannya, dia kembali maju menjadi bupati pada 2015. Panambunan bersama Joppy Lengkong terpilih menjadi bupati-wakil bupati Minahasa Utara 2015-2020.

Panambunan kini merupakan kader partai Nasdem.Padahal sebelumnya dia merupakan ketua DPD Sulut partai Gerindra. Sempat ada desas desus, kepindahannya ke partai Nasdem ada kaitan dengan kasus yang membelitnya.

Penulis: Kayla Carissa



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed