oleh

Amien Rais dan Titiek Soeharto Lemahkan Posisi Prabowo

Politisi senior asal Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais mengancam akan mengerahkan massa (people power), jika dirinya melihat indikasi kecurangan dalam hasil Pemilu 2019.

Amien mengaku tak percaya dengan lembaga Mahkamah Konstitusi (MK) dalam menangani sengketa Pemilu. Namun, tak jelas apa yang akan dilakukan bersama massa yang dijanjikan, jika benar Pemilu tak sesuai harapannya.

Sontak ancaman tersebut menjadi bulan-bulanan dan cibiran banyak pihak. Mereka kini ramai-ramai mencabut predikat ‘tokoh reformasi’ yang sempat disematkan ke Amien Rais. Amien sekarang dianggap terlalu tendensius dan membabi buta menyerang pemerintah.

Dengan ancaman itu, Amien disebut tak tahu prosedur hukum dan apriori terhadap lembaga penyelenggara/ pengawas Pemilu yang independen.

Banyak pihak juga pesimis, Amien Rais mampu berbuat banyak dengan massa kerahannya. Amien disebut hanya berhalusinasi dengan nostalgia 98 saat menumbangkan rezim orde baru.

Jangan lupa juga, Kapolri Tito Karnavian dan Panglima TNI Hadi Tjahyanto tentu tak akan tinggal diam, jika melihat agenda yang berpotensi merusak kondusivitas keamanan dan ketertiban negara.

Sikap dan pernyataan Amien jelas sangat merugikan pasangan Prabowo-Sandiaga. Amien mungkin lupa masih ada sekitar 15-20 persen pemilih yang belum menentukan pilihan, termasuk swing voters.

Dengan kondisi ini akan dipersepsikan, kubu Prabowo tak taat hukum dan cenderung menggunakan kekuatan massa dalam bertindak.

Belum selesai bahasan soal people power Amien Rais, Siti Hediati Hariyadi atau lebih dikenal dengan nama Titiek Soeharto menghiasi trending topic.

Dalam sebuah kesempatan, dia memberi kode soal kemungkinan menjadi ibu negara jika Prabowo terpilih menjadi presiden. Itu berarti Titiek akan rujuk dengan mantan suaminya tersebut, setelah 20 tahun bercerai.

Pernyataan itu kemudian disambut pertanyaan publik. Bagaimana jika Prabowo-Sandi justru kalah dalam kontestasi Pilpres 2019? Publik lalu beranggapan motivasi rujuk keduanya bukan karena cinta, melainkan kekuasaan.

Situasi ini sebenarnya pernah terjadi pada tahun 2014 ketika Prabowo Subianto mencalonkan diri menjadi presiden ketika berpasangan dengan Hatta Radjasa. Saat itu santer disebutkan, Prabowo Subianto-Titiek Soeharto kembali mesra dan akan segera rujuk.

Namun, saat itu Prabowo-Hatta terjungkal oleh pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Kabar gembira bakal rujuknya pasangan serasi tersebut, kemudian hilang terbawa siliran angin.

Dua isu ini secara tak disadari, mempengaruhi pemilih yang kini belum menentukan pilihan. Apalagi mayoritas yang berada di kelompok ini adalah para kaum milenial dan golongan terdidik.

Sisi lain, Joko Widodo kini makin lekat dengan kaum milenial ketika mengenalkan istilah Digital dan Melayani (Dilan), yang merujuk judul film yang paling digandrungi anak muda saat ini.

Akibatnya, dua orang yang seharusnya menambah kekuatan suara, justru melemahkan posisi Prabowo-Sandi. Parahnya, hal ini terjadi ketika sejumlah lembaga survei menunjukkan Prabowo-Sandi masih ketinggalan suara dengan selisih persentase dua digit.

Padahal, hitungan paling mungkin untuk mengejar suara pasangan Jokowi-Amin adalah merebut suara mayoritas pemilih yang belum menentukan pilihan. Itupun sebenarnya belum cukup, jika melihat selisih suara yang terlampau jauh dalam sejumlah survei.

We’ll wait and see…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed