oleh

Lakat : Toleransi Itu Budaya di Manado

Berbagai gesekan yang terjadi akhir-akhir ini, membuat nilai kebersamaan dan kekeluargaan di Kota Manado mulai pudar.

Hal ini tentunya bisa menjadi batu sandungan, bagi kita sebagai warga Kota Manado, dalam menjaga toleransi.

Sekretaris Kota Manado, yang baru saja dilantik, Mickler Lakat mengatakan, sikap toleransi yang sudah ada sejak dulu, harus terus dipelihara.

Lakat mengingatkan bahwa toleransi adalah budaya orang Manado sejak dulu. Oleh karena itu setiap generasi ke generasi harus terus menjaga toleransi.

“Toleransi sudah menjadi bagian dari budaya di Kota Manado, hal ini terlihat keseharian warga Manado, yang suka menerima tamu dan berbaur serta bersahabat antara sesama warga Manado walaupun berbeda agama,” katanya kepada media usai dilantik menjadi Sekkot Manado oleh Walikota, Jumat (26/10/2018) di Balai Kota Manado.

Contoh konkritnya, jika ada perayaan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, maka pemeluk agama yang lain pasti akan menjaga rumah ibadah umat muslim begitu pula sebaliknya.

“Hubungan silahturahmi antar umat beragama di Kota Manado, telah berjalan dengan baik,” ujarnya.

Bahkan menurutnya, di Kota Manado telah ada kesepakatan pada saat ibadah sedang berlangsung tidak bisa kendaraan yang berbising melintas.

“Adat warga Manado, Minahasa dan semua daerah di Sulut sangat kental. Marilah kita saling menghargai, hargailah warga yang sedang beribadah,” tambah Lakat.

Dikatakan Lakat lagi, toleransi umat beragama yang sudah membudaya ini, turut ditunjang penuh oleh Pemerintah Kota Manado.

“Pemerintah selalu masuk ke rumah ibadah setiap perayaan hari besar keagamaan, bahkan gesekan yang muncul selalu diminimalisir oleh tokoh agama, dan tokoh masyarakat yang tergabung dalam FKUB dan BKSUA,” pungkasnya.

Diketahui, kondisi Kota Manado beberapa waktu lalu sempat memanas. Hal ini disebabkan adanya kelompok massa, yang  menolak kedatangan Muhammad Bahar Bin Ali Bin Smith/ Sumaith dan Muhammad Hanif bin Abdurrahman Al Athos/ Alatas.

Dua habib tersebut, datang ke Manado Sulawesi Utara untuk menghadiri haul ke tujuh ayahanda Habib Bahar, acara tablig akbar sekaligus doa bersama untuk korban gempa di Kelurahan Karame Kota Manado.

Penulis : Emmanuel Athlon

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed