oleh

Luis Milla Mungkin Digantikan Deschamps atau Zidane

Nasib pelatih kepala Tim Nasional (Timnas) Indonesia, Luis Milla kini berada di ujung tanduk.

Milla dianggap gagal memenuhi target masuk semifinal cabang sepak bola di Asian Games 2018. Indonesia kalah atas Uni Emirat Arab lewat drama adu penalti di babak 16 besar.

Usai kalah di Asian Games, Luis Milla sudah bertolak ke kampung halamannya di Spanyol. Dia mengaku belum mendapat kejelasan soal perpanjangan kontraknya yang habis Agustus 2018.

Pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sudah memberikan penjelasan soal nasib Milla. Meski memuji kualitas polesan Milla, tampak kalimat menggantung terkait masa depan Milla di Indonesia.

Sontak, publik pecinta sepak bola Indonesia meradang. Mereka marah karena PSSI selalu menginginkan hasil instan, tanpa melihat perkembangan dan prospek seorang pelatih.

Kebiasaan PSSI yang selalu menyalahkan pelatih tanpa instropeksi dan evaluasi menyeluruh, membuat publik pecinta sepakbola gerah.

Alih-alih mengganti Milla, pergantian pengurus PSSI justru menjadi trending topic perbincangan.

Lihat saja, untuk membawa Spanyol menjadi juara Eropa U-21 tahun 2012, Luis Milla butuh waktu empat tahun. Dia mengenali para pemainnya saat masih menangani timnas Spanyol U-19 sejak 2008.

Harus diakui, Luis Milla mampu menyulap permainan Timnas Indonesia. Dalam kurun waktu satu tahun, Milla mampu membuat timnas garuda memiliki karakter dan keseimbangan.

Semangat juang dan determinasi yang menjadi ciri khas Indonesia selama ini kini dikombinasi dengan permainan taktis dan visi bermain.

Permainan timnas Indonesia dalam Asian Games 2018 dipuji karena menampilkan warna berbeda. Kekalahan dalam babak knock out tersebut bahkan disebut karena dipengaruhi kepemimpinan wasit.

Dua kali dihukum tendangan penalti, timnas Indonesia tak patah arang. Berjuang hingga detik terakhir, Indonesia bisa menyamakan kedudukan dengan negara peserta piala dunia 1990 tersebut. Sayang dalam drama adu penalti, Timnas Indonesia  tidak dinaungi dewi keberuntungan.

Kini petisi mempertahankan Luis Milla terus digaungkan. Jika Milla diberikan kesempatan lebih lama, bukan tidak mungkin Indonesia bisa mencicipi aroma piala dunia.

Apalagi pada tahun 2026, jumlah peserta piala dunia akan menjadi 48 peserta. Itu berarti jatah Asia akan lebih besar dari kuota sekarang yang hanya 4,5.

Pecinta sepakbola Indonesia sangat mafhum, jika Luis Milla diganti, timnas akan kembali ke titik nol. Butuh waktu lagi pelatih akan memahami kultur dan mengenali pemain Indonesia.

Kini Luis Milla sudah berada di Spanyol. Bukan tidak mungkin ada tawaran dari klub lokal yang tahu kejeniusan dan kapasitas Milla.

Jika PSSI tidak bergerak cepat, besar kemungkinan Luis Milla tak akan pernah kembali menangani Indonesia. Padahal, akhir tahun 2018, Indonesia sudah ditunggu pergelaran Piala AFF.

Publik sepak bola kini pasrah dan hanya bisa menunggu para pengurus PSSI, yang mendapat kucuran dana besar dari FIFA per tahunnya.

Mungkin saja PSSI akan menggantikan Milla dengan Didier Deschamps, Zinedine Zidane atau Diego Simeone, dengan target masuk 10 besar peringkat FIFA pada tahun 2019 dan juara dunia PD Qatar 2022.

Bagaimanapun caranya, hasilnya harus instan terlihat dengan meraih gelar juara.

Hmmmm…

Penulis: Bang Kipot

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed