oleh

Analisa Sederhana Kekuatan Pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin

Joko Widodo memilih Ma’ruf Amin menjadi calon wakil presiden dalam kontestasi Pilpres 2019.

Dengan memilih Ma’ruf Amin, Jokowi mendapatkan kekuatan politik untuk memenangkan Pilpres 2019, yaitu:

  1. Membangun koalisi solid nasionalis-religius sebagai representasi sekaligus komitmen ke-Bhinekaan Indonesia.
  2. Ma’ruf adalah sepuh MUI,NU,PPP bahkan termasuk penggerak gerakan 212, ini bisa menjadi antidot serangan black campaign anti Islam dan komunis terhadap Jokowi.
  3. Berdasarkan point (2) di atas, sudah pasti gorengan isu SARA dgn mobilisasi demo berjilid-jilid seperti aksi 212 akan tereliminasi.
  4. Jokowi sudah pasti akan signifikan dan solid mendapatkan insentif elektoral dari pemilih berbasis muslim.
  5. Jokowi sementara menciptakan iklim rekonsiliasi karena keretakan isu SARA saat kasus penistaan agama Ahok. Ingat, Ma’ruf Amin adalah saksi yang memberatkan Ahok sehingga divonis 2 tahun penjara.
  6. Ketokohan Ma’ruf Amin akan berperan sebagai extinguisher terhadap isu provokatif menyerang Jokowi. Dengan demikian, kelak ketika menang maka Jokowi akan fokus kerja menyelesaikan program-program pembangunan skala nasional.

Tapi para Jokowers dan Ahokers harus cermat memahami beberapa catatan, yaitu:

  1. Kita para Ahokers jangan kecewa dengan pilihan Cawapres Jokowi, karena pertimbangannya adalah 6 faktor yang saya uraikan di atas.
  2. Kita jangan kecewa dengan Jokowi karena dikira mengkhianati Ahok temannya sendiri dengan menggandeng orang yang mencelakai Ahok. Saya optimis Jokowi dengan gaya politiknya sementara menetralisir unsur liberal dalam islam Indonesia dan membangun Islam yang religius tapi nasionalis.
  3. Para Jokowers dan Ahokers tidak boleh golput karena alasan kecewa dengan Jokowi. Politik itu sejatinya bukan hanya mencari pemimpin terbaik tapi juga mencegah pemimpin bobrok berkuasa. Maka dengan anda golput sama artinya termakan umpan pihak lawan yang ingin memecah soliditas basis massa Jokowers dan Ahokers yang pro Jokowi.
  4. Kita harus makin merapatkan barisan dan soliditas dukungan ke Jokowi-Ma’ruf. Karena sebenarnya ini bukan lagi sekadar kompetisi pribadi Pilpres ‘Refight’ antara Jokowi-Prabowo. Ini adalah pertarungan kepentingan pro-rakyat via Jokowi dan para kaum kapitalis di belakang Prabowo.

Unsur Vital yang Mutlak Diantisipasi Para Jokowers/Ahokers

  1. Ma’ruf Amin harus komit dan membuktikan netralitas sebagai pemimpin bangsa Muslim tapi bisa mengayomi kebhinekaan. Mengingat beliau sebelumnya adalah pegiat aksi 212 yang harus kita akui sudah menciderai keragamana SARA di NKRI.
  2. Kita jangan mudah termakan isu hoax dan hate speech yang berseliweran di medsos dan media online. Mari belajar untuk jadi masyarakat pemilih yang cerdas dengan lebih percaya fakta perjuangan dan prestasi Jokowi selama ini daripada hoax subjektif yang digoreng di medsos dan media online.
  3. Kita doakan bagi Ma’ruf Amin kelak bisa imbangi tanggung jawab kerja sebagai Wapres membantu Jokowi sebagai Presiden. Mengingat usia beliau yg sudah 70 tahun lebih. Makanya saya pikir harus ada tim solid dan berkompeten di sekitar beliau utk membantu. Karena jika Pilpres pasangan ini menang, ada sangat banyak tanggung jawab nasional yg ke depan akan di selesaikan.
  4. Ingat di koalisi Pilpres, partai pendukung adalah sekutu. Tapi dlm Pileg kompetisi internal mendulang suara akan tetap terjadi. Partai koalisi harus bisa meramu materi kampanye pilpres dan pileg dgn akurat. Supaya soliditas koalisi tetap bisa dijaga dengan tidak mengabaikan realita kompetisi di Pileg.
  5. Para partai koalisi pendukung dan basis massa Jokowers/Ahokers tidak boleh over self confident karena merasa di atas angin dari para oposisi. Di pihak oposisi ada PKS yang licik menggoreng isu SARA utk memecah basis dukungan. Ada Demokrat yg mahir memainkan playing victim utk menuai simpati publik sekaligus menggerus elektabilitas Jokowi.

Ijtimak Ulama 212 yang merekom sebelumnya cawapres untuk Prabowo adalah dari PKS dan Ustad Abdul Somad, tapi ditolak oleh Prabowo dengan alasan munafik tidak mau peralat politik identitas karena ingin menjaga keutuhan bangsa yg beragam. Padahal yg menggagas acara ini yah dari mereka juga.

Ini bentuk playing victim utk membuat opinion substitution terhadap Jokowi. Dgn cara narasi politik ini, oposisi sementara membangun opini publik bahwa yg memainkan politik identitas dengan politisasi status ulama Mar’uf Amin.

Celah-celah di atas harus bisa diantisipasi oleh partai dan semua elemen pendukung Jokowi. Playing victim oposisi hanya kedok malaikat untuk mendulang simpati publik, menggoyahkan soliditas dukungan Jokowi sekaligus menggerus elektabilitas Jokowi.

Akhirnya,
Rekan-rekan seperjuangan,
Apapun keadaan dan alasannya, Jokowi harus menang untuk periode kedua. Jangan biarkan perjuangan pembangunan dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rote jadi sia-sia.

Kita berkaca dari fakta pergantian gubernur Jakarta dari Ahok ke Anies/Sandiaga(partai oposisi). Jakarta bukan tambah baik tapi tambah kacau dengan program pembangunan asal bak badut dan sirkus menggelikan.

Jangan korbankan Indonesia dengan menyerahkannya kepada orang-orang yang serakah kekuasaan tapi memolesnya dengan kepentingan rakyat yang ilusif.

Gajah Madah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed