oleh

Akhir Pahit Buat Mantan Ketua Golkar

Partai Golongan Karya (Golkar) Sulut di bawah nakhoda Tetty Paruntu rupanya menjadi akhir pahit karir politik dari Stevanus Vreeke Runtu (SVR).

Dalam daftar nama calon anggota legilatif DPRD Sulut dan DPR RI yang dimasukkan, Selasa (17/7/2018) nama mantan Ketua Golkar Sulut tersebut tak masuk dalam daftar. Hal ini begitu menyesakkan bagi SVR, karena sebelumnya sang anak tercinta, Careigh Runtu juga terdepak dari daftar nama calon legislatif.

Banyak spekulasi bermunculan, kepemimpinan Tetty Paruntu  yang banyak didominasi tokoh muda, menjadi akhir perjalanan politik SVR dan orang-orang di sekelilingnya.

Keputusan tersebut diduga berlatarbelakang dendam akibat friksi yang terjadi antara dua kelompok di tubuh Golkar Sulut. Hasil Pilkada Minahasa 27 Juni 2018, lalu, juga disinyalir sangat berpengaruh terhadap keputusan tersebut.

Hal itu beralasan, melihat Pilkada Kabupaten Minahasa, ketika pasangan Ivan Sarundajang – Careigh Runtu yang diusung partai Golkar mengalami kekalahan telak.

Namun di sisi lain, melihat perolehan suara konstituen dalam Pilcaleg 2014, harus diakui pasangan ayah-anak tersebut masih memiliki basis massa yang jelas. Careigh Runtu sempat duduk di DPRD Kabupaten Minahasa, sedangkan Vreeke Runtu mewakili Kabupaten Minahasa duduk di DPRD Provinsi Sulawesi Utara.

Baca juga: Adik Ipar Diakomodir, Anak Mantan Ketua Didepak

Baca juga: Golkar Kalah Telak, Apa Kabar Tetty?

Menanggapi hal tersebut, SVR coba tegar dan memilih bijaksana mengeluarkan pernyataan. Menurutnya, mungkin itu adalah pilihan terbaik partai beringin untuk mendulang banyak suara.

SVR mengaku menghormati keputusan tersebut, walaupun hal ini tentunya sangat menyakitkan.

“Politik itu dinamis. Setiap keputusan itu pasti sudah ada perhitungannya. Saya tetap menghormati apapun keputusan DPP,” katanya.

Namun di balik pernyataannya, ada sedikit sindiran kepada pimpinan Golkar yang bisa terbaca lain di mata publik. Menurutnya, penetapan caleg seharusnya mempertimbangkan perolehan suara kontituen.

“Penetapan calon harus proporsional, janganlah penetapan didasari oleh dendam. Pemimpin seperti ini tidak pantas dan juga tidak baik untuk ke depan,” ungkap SVR.

Pencoretan nama SVR dikabarkan alot dan terpaksa dilakukan karena harus memasukkan figur wanita dalam usulan sebagai syarat keterwakilan perempuan.

Anggota tim penjaringan Golkar untuk Pileg 2019, Rasky Mokodompit kepada media mengatakan, tak diakomodirnya SVR karena keputusan DPP Pusat.

“Ini keputusan dari DPP Partai Golkar, kami tidak memiliki kewenangan itu,”  kata Wakil Ketua DPD Golkar Sulut kepada media.

Lanjutnya, sebelum ditetapkan DPD Partai Golongan Karya Sulut sudah mengirimkan 9 nama calon yang diusulkan ke DPP Pusat untuk dipilih.

Sembilan nama tersebut adalah, Jerry Sambuaga, Aryanti Baramuli, Hermin Katamsi, Adrian Paruntu, Stevanus Vreeke Runtu, Adrian Tapada, Djelantik Mokodompit, Imelda Diana Rondonuwu dan Marhany Pua.

Enam anggota DPR RI yang akhirnya menjadi Bacaleg DPR RI Dapil Sulut adalah Jerry Sambuaga, Djelantik Mokodompit, Hermin Gaghana Katamsi, Adrian Jopie Paruntu, Marhany Pua dan Imelda Diana Rondonuwu.

Yang menarik, dalam enam nama tersebut ada nama Adrian Jopie Paruntu yang merupakan putra Ketua DPD GOlkar Sulut, Tetty Paruntu.

Penulis : Habel Sirenden

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed