oleh

Saatnya Bangsa Indonesia Menyepi

Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi sekaligus Tahun Baru Saka 1940.

Umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian dimulai dari Melasti, Tawur Agung, Nyepi dan Ngembak Gni. Inti hari agung ini adalah membersihkan diri lahir batin dan melepas semua keinginan nafsu duniawi. Menyepi akan diisi dengan perenungan akan hidup yang sudah dilalui. Usai perenungan dalam sepi Umat hindu akan saling bersilaturahmi untuk saling membagi energi positif. Hal ini punya kemiripan dengan Idul Fitri, Hari Raya agama Islam.

Menyepi atau merenungi diri mungkin juga harus dilakukan mayoritas masyarakat Indonesia saat ini. Hal ini sangat beralasan, Bangsa Indonesia kini mengalami degradasi moral sampai titik paling nadir. Ujaran kebencian, saling hasut dan fitnah terus bertebaran memutus tali silaturahmi kawan bahkan keluarga. Parahnya, kebanyakan itu terjadi hanya karena perbedaan pilihan politik.

Klaim atas nama agama dengan menunjukkan perilaku jauh dari ajaran Tuhan makin gamblang menyiratkan keterpurukan mental bangsa ini. Bahkan tenaga pendidik dan penegak hukum yang diharapkan menjadi pilar utama pencegah justru berbuat sebaliknya.

Banyak terciduk oknum pendidik dan penegak hukum justru turut menyebarkan konten permusuhan yang memecah belah bangsa. Akses internet dibarengi perkembangan teknologi membuat benih permusuhan cepat menyebar.

Mungkin, momen ini tepat untuk bersama melakukan penyepian diri, mengoreksi semua perjalanan hidup yang sudah terlalui. Saling benci di antara anak bangsa tak pernah menghasilkan apa-apa selain kehancuran. Banyak pelajaran dari sejumlah negara di luar sana yang bisa dijadikan contoh.

Lihat saja kini nasib Suriah, Irak, Afghanistan, Nigeria dan sejumlah negara lain yang tak pernah merasakan nikmat berbangsa karena terus hidup dalam desingan mortir dan berondongan peluru.

Jika Tuhan mau, tak sulit DIA menciptakan semua manusia di muka bumi satu agama, satu suku dan satu ras.

Namun, Tuhan justru menciptakan perbedaan dan keragaman. Maksud-NYA jelas agar manusia bisa saling menghargai semua perbedaan tersebut.

Generasi 28 dan 45 Bangsa Indonesia juga sejak dulu sudah sepakat. Bangsa ini berdiri atas nama perbedaan untuk menuju persatuan dan kemerdekaan. Darah yang tercurah merebut kemerdekaan berasal dari lintas agama dan beragam suku. Semua sepakat Bangsa Ini milik semua agama, semua suku dan semua kelompok. Semua seiya bertoleransi dan bergandengan tangan dengan tenggang rasa.

Makna yang diajarkan dalam Hari raya Nyepi bisa menjadi momentum bangsa Indonesia menyucikan diri membuang semua kebencian yang ada. Bangsa Indonesia harus kembali maju dengan energi baru yang positif.

Kini saatnya Bangsa Indonesia kembali ke jati diri sebagai bangsa besar yang disegani dunia. Jangan lagi ada kebencian hanya karena perbedaan pandangan dan pilihan politik.

Selamat merayakan Hari Raya Nyepi, Selamat Tahun Baru Saka 1940.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed