oleh

Kaleidoskop Sulawesi Utara 2017

Bulan Mei, hampir semua daerah di Indonesia perhatiannya tertuju pada putusan sidang mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama terkait dugaan penistaan agama.

Ahok, sapaan akrabnya harus pasrah divonis dua tahun penjara. Ahok yang tak memberikan perlawanan hukum lanjutan, meski sempat mengajukan banding, akhirnya harus meringkuk di balik jeruji penjara.

Saat itu, Masyarakat  Sulawesi Utara larut dalam kesedihan turut sepenanggungan dengan Ahok. Mayoritas berpendapat putusan pengadilan menjadi tonggak matinya hukum di Indonesia.

Baca: Selayang Pandang Sulawesi Utara

Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Steven Kandouw yang ditanyakan tanggapannya soal vonis Ahok, ‘keseleo lidah’. Akibatnya Kandouw di-bully banyak masyarakat Sulut di Media Sosial. Namun Kandouw akhirnya menjelaskan maksudnya, yang salah dipersepsikan masyarakat.

Ribuan masyarakat Kota Manado juga berkumpul di jalan Boulevard untuk lilin menunjukkan simpati terhadap Basuki Tjahaya Purnama.

Yang menjadi perhatian nasional, adalah turunnya puluhan ribu orang untuk menolak kedatangan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah ke Kota yang dinilai intoleran ke Kota Manado.

Saat itu sejumlah Ormas datang hingga masuk Bandara Sam Ratulangi. Meski Fahri Hamzah sempat ke Kantor Gubernur Sulut, penolakan tersebut akhirnya membuat Fahri Hamzah pulang lebih awal.

Sontak, pasangan Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw mendapat cacian di media sosial. Keduanya dianggap melindungi tokoh pemecah belah bangsa. ‘Salam 1 Periode’ sempat menjadi trending topic lokal waktu itu.

Olly Dondokambey langsung merespon dan memberikan penjelasan. Menurutnya, Pemprov memang berada di posisi dilema ketika itu. Di satu sisi Olly-Steven memahami isi hati masyarakat yang masih terluka terkait vonis Ahok.

Namun di sisi lain, sebagai tuan rumah, Pemprov Sulut harus mengamankan pejabat negara (Wakil Ketua DPR RI) yang datang berkunjung ke Sulut.

Bulan Oktober, Sulut kembali menjadi perbincangan nasional. Saat itu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Sulut, Sudiwardono dan anggota DPR RI, Aditya Anugerah Moha.

Keduanya terciduk dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT), Sabtu (07/10/2017) dini hari, di hotel yang berada di kawasan Pecenongan, Jakarta.

Penangkapan ini diduga berkaitan dengan status hukum ibunda Aditya Moha, yang juga anggota DPRD Sulawesi Utara, Marlina Moha Siahaan.

Baca: Ketua PT Sulut dan Aditya Moha Kena OTT KPK

Masih di bulan Oktober, menjamurnya transportasi online membuat sejumlah sopir mikrolet dan ojek konvensional melakukan aksi mogok.

Mereka menolak kehadiran transportasi berbasis teknologi tesebut. Keadaan sempat memanas akibat perselisihan dua kelompok ini.

Kantor Gojek Manado bahkan ditutup terkait demo yang dilakukan para sopir mikrolet dan ojek konvensional tersebut. Pemerintah Kota Manado terlihat belum bisa menyelesaikan sepenuhnya kondisi ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed