oleh

Kecewakan Warga Sulut, Jokowi Pakai Standar Ganda

Nama-nama menteri Kabinet Indonesia Maju 2019-2024 resmi diumumkan. Dari 38 nama yang disebut, tak ada nama Tetty Paruntu.

Tetty sebelumnya sudah diundang ke Istana dengan baju putih seperti nama-nama yang terpilih. Dia menjadi satu-satuya nama tokoh yang datang ke istana namun gagal menjadi menteri.

Baca juga: Paruntu Batal Menteri karena KPK dan Olly?

Baca juga: Gorontalo Dua Menteri, Sulut-Papua Nihil

Pihak istana sempat berkelit dengan memberikan alasan Tetty tidak diundang oleh Presiden Joko Widodo. Belakangan pihak istana meralat dan melakukan klarifikasi, jika Tetty tidak terpilih karena pernah terkait masalah hukum.

“Saya bukan orang gila yang akan datang ke istana jika tidak diundang,” begitu kata Tetty menjawab pertanyaan wartawan.




Selain Tetty, tak ada juga nama Olly Dondokambey yang sempat santer terdengar menjadi menteri. Olly bahkan sudah pamitan kepada warga Sulut untuk tidak menjadi gubernur pada 2020 mendatang. Hal ini tentu dianggap publik, Olly sudah diberitahu akan mendapat satu kursi di kabinet Jokowi-Amin.

Besar kemungkinan, kasus e-KTP yang pernah melibatkan Olly Dondokambey sebagai saksi, menjadi penyebab kegagalannya mendapat kursi menteri.

Publik Sulut dalam timeline media sosial usai pengumuman kabinet, mengungkapkan kekecewaannya. Terlebih seorang Tetty Paruntu yang dianggap sudah dipermalukan dan ditelanjangi di muka publik seperti itu.

Wajar memang jika bebas kasus hukum menjadi satu prasyarat menjadi menteri. Namun, kedua tokoh yang disayangi di Sulawesi Utara ini masih berstatus saksi bukan tersangka.

Yang lebih menyakitkan, ternyata Jokowi dan pihak istana ternyata menggunakan standar ganda untuk mengeliminasi putra-putri terbaik Sulut.

Mari kita tilik lebih dalam…

Yasonna Laoly yang kini kembali menjabat Menteri Hukum dan HAM, statusnya mirip seperti Olly Dondokambey di kasus e-KTP. Namanya sempat disebut dalam persidangan bersama Olly Dondokambey, Ganjar Pranowo dan sejumlah tokoh lain.

Belum cukup, lihat nama Zainudin Amali dari Golkar yang kini menjabat Menpora. Dia pernah disebut dalam kasus suap sengketa Pilkada yang melibatkan mantan Ketua MK, Akil Mochtar.

Akil dan Amali dalam fakta persidangan 2014 disebut berkomunikasi lewat BBM membicarakan Pilkada Jawa Timur. Tak hanya satu kasus, Zainudin Amali juga pernah menjadi saksi kasus suap di kementerian ESDM yang menjerat menteri ESDM Jero Wacik 2014.

Ada juga duet PKB, Ida Fauziah dan kakak Cak Imin, Abdul Halim Iskandar. Ida yang kini diplot sebagai menteri Tenaga Kerja pernah menjadi saksi untuk mantan menteri Agama Suryadharma Ali dalam kasus korupsi haji tahun 2012-2013.

Sementara Abdul Hakim Iskandar yang kini menjabat menteri Desa dan PDTT, menurut data KPK pernah diperiksa Juli 2018 sebagai saksi kasus gratifikasi dan tindak pidana pencucian uang. Dia didalami atas keterkaitan dengan tersangka mantan Bupati Nganjuk Taufiqurrahman.

Kini publik Sulut, hanya berharap tokoh-tokoh yang dipercaya masuk ke dalam kabinet, bisa membawa perubahan untuk menjadikan indonesia lebih baik dan lebih hebat, meski menyimpan sebuah kekecewaan mendalam.

Penulis: Efge Tangkudung



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed