oleh

Benang Merah Somad-Sari Agung-Kerusuhan Papua

Kekuatan perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kembali diuji. Papua, pulau paling timur Indonesia bergejolak. Dua pekan sudah, terjadi aksi massa yang menjalar dari satu daerah ke daerah lain.

Penyebabnya, penghinaan dan aksi rasisme yang ditujukan kepada mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang. Akibatnya, masyarakat Papua tersulut emosinya. Aksi unjuk rasa, demonstrasi hingga pembakaran terjadi di bumi cendrawasih tersebut, termasuk pembakaran kantor KPU.

Namun, belakangan mulai terendus, aksi yang awalnya spontanitas warga Papua itu seperti ditunggangi pihak tak bertanggung jawab. Ada pihak yang memang sengaja terus menyiramkan bensin dalam jerami, agar Indonesia bergejolak.

Mari kita tilik lebih dalam…

Sepekan sebelum kericuhan di Asrama Papua Surabaya, muncul video ceramah Abdul Somad yang menyinggung umat Nasrani. Video ini sengaja di-upload padahal sudah terjadi tiga tahun yang lalu. Ada disain yang sengaja memunculkan gesekan antar umat beragama di Indonesia.

Bukan hanya itu, dua pekan setelahnya kembali viral potongan video pembubaran ibadah jemaat GPdI Efata di Dusun Sari Agung, Petalongan Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

Tanpa membahas debatable kebenaran hukum dan etika dua video itu, jelas sang pelaku punya misi. Penyebaran video ini tegas bermaksud menyerang pemerintah soal toleransi dan kebebasan beragama. Lagi-lagi ada penggiringan opini soal mayoritas dan minoritas.

Pasti akan ada video-video serupa yang akan disebar untuk memecah belah persatuan dan merusak perdamaian di Indonesia.





Hal yang sama juga menjadi penyebab kerusuhan Papua. Muasalnya, adalah foto bendera merah putih yang dibuang di selokan sekitar asrama Papua di Surabaya.

Namun setelah ditelusuri, foto pertama yang menyebar ini sengaja dihapus metadatanya agar tidak bisa diketahui pengirim dan lokasinya.

Otak pelaku ucapan rasis yang memicu amarah masyarakat Papua sudah terciduk. Mungkin yang agak terabaikan, ucapan rasis justru lebih banyak datang dari media sosial. Mereka diketahui adalah para buzzer dengan akun palsu yang sengaja diciptakan untuk situasi seperti ini.

Ada juga pernyataan dari Rizieq Shihab yang menyindir Presiden Joko Widodo turut memanaskan situasi. Pun dengan pernyataan receh namun memekakkan kuping dari Tengku Zulkarnain.

Lebih aneh, adanya tuntutan pembubaran Banser yang tersisip dalam poin tuntutan masyarakat Papua. Teranyar, tanda pagar #Negara Khilafah sepat memuncaki trending media sosial.

Publik harus jeli, dalam kejadian ini. Sudah jelas ada pihak yang menunggangi kerusuhan di Papua. Tentu dengan kucuran dana yang tidak sedikit. Ada aktor besar yang menjadi penggerak kerusuhan ini.

Tujuannya, bisa ditebak. Ingin negara Indonesia porak poranda. Isu yang mendelegitimasi pemerintah bakal terus dihembuskan, hingga tujuannya tercapai.

Pilpres curang, kenaikan iuran BPJS, pemindahan ibukota, pengibaran bendera bintang kejora akan menjadi isu yang akan terus dimainkan untuk membuat publik terbelah. Hal ini jelas mengingatkan publik ketika panas-panasnya Pilpres. Banyak isu yang sengaja dibuat yang mendelegitimasi pemerintah.

Bersyukur, belakangan Prabowo Subianto akhirnya menyadari pihak yang menunggangi pasangannya. Imbasnya, Prabowo dihujat dan dimaki ketika memilih bergandengan tangan dengan Jokowi demi kemajuan Indonesia.





Sudah saatnya pemerintah dan aparat tegas. Tak perlu lagi takut dengan kelompok yang mengatasnamakan Islam dan ulama. Umat Islam mayoritas sudah muak bahkan terlalu malu, dengan kelakuan mereka. Begitu juga dengan para oknum yang selalu memberikan pernyataan provokatif. Islam sejatinya adalah agama Rahmatan lil Alamin.

Sedari dahulu, masyarakat Aceh hingga Maluku menerima masyarakat Papua sebagai saudara setanah air. Tak ada keraguan untuk itu. Entah kenapa, kini banyak bermunculan isu tentang ras dan agama yang memang sengaja diciptakan oknum tak bertanggungjawab untuk memuluskan agendanya.

Keutuhan NKRI kini dipertaruhkan. Negara tidak boleh kalah. Jangan lagi ada korban berjatuhan.

Papua adalah Indonesia, NKRI Harga Mati…

Penulis: Efge Tangkudung



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed