oleh

Kepiawaian Politik Megawati, Siapa Kebakaran Berewok?

Konstelasi politik jelang penentuan nama-nama anggota kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin memanas. Hal ini melibatkan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP.

Hal ini dimulai dengan pergerakan terselubung sejumlah ketua partai pendukung Jokowi yang terlihat ingin memberikan perlawanan terhadap Megawati dan PDIP.

Empat ketua umum koalisi pendukung Jokowi-Amin yakni Nasdem, Golkar, PKB dan PPP melakukan pertemuan. Berdalih silaturahmi biasa, sulit ditampik isi pembicaraan adalah seputar jatah kabinet Jokowi.

Publik bisa menebak, empat partai itu tak terima jika PDIP merasa lebih penting ketika memenangkan Jokowi-Amin. Mereka mungkin tak setuju jatah PDIP jauh lebih besar dibanding porsi mereka.

Sejak itu, isu keretakan hubungan antar partai koalisi tak bisa ditutupi. PDIP jelas tak senang dengan sikap dan cara para rival sekaligus kawannya.

Balas pantun saling sindir kader PDIP dan empat partai itu tersaji di muka publik. Namun, disinilah kepiawaian Megawati bersama PDIP-nya.

Melihat partainya mulai disudutkan, Mega lalu mengundang Prabowo Subianto untuk bersilaturahmi. Megawati dan Prabowo diketahui sempat menjadi paket Pilpres, Mega-Pro. Bahkan, dalam pertemuan Megawati terang-terangan mengajak Prabowo dengan Gerindra mendukung pemerintahan.

Ini jelas terbaca sebagai pukulan telak, untuk empat partai mantan rekan koalisinya. Setidaknya jumlah kursi di parlemen nanti, PDIP (128)+ Gerindra (78) cukup mengimbangi Golkar (85)+ Nasdem (59) +PKB (58) +PPP (19).

Menariknya ketika pertemuan Mega-Pro, dalam waktu yang sama, Surya Paloh melakukan pertemuan ‘tandingan’ dengan mengajak Anies Baswedan yang jelas bisa dipersepsikan macam-macam.

Puncaknya, ketika kongres V PDIP di Bali. Megawati yang sejak awal sudah memperhitungkan momen ini, leluasa melancarkan manuvernya. Halus tapi cukup menampar dan memalukan.

Dalam pidatonya, tak ada sambutan khusus untuk para petinggi partai. Sebaliknya, sindiran menohok untuk Golkar dan Nasdem membuat mereka kebakaran berewok. Lebih sakit, sambutan khusus justru ditujukan untuk Prabowo Subianto bahkan disambut tepukan riuh seluruh kader PDIP.

Usai kongres PDIP, Nasdem bahkan berani menyindir PDIP soal minta-minta jatah menteri yang tidak etis. Namun, lagi-lagi hal itu seperti menampar muka sendiri.

Sebelumnya, bahkan sempat tersiar ke publik posisi ketua MPR dan Jaksa Agung yang begitu diminati PKB dan Nasdem. Lebih jauh, rencana masuknya Gerindra ke pemerintahan justru ditolak karena dipersepsikan sebagai berkurangnya jatah para pendukung Jokowi-Amin.




Nampaknya, adu manuver partai politik akan lebih panas jelang pelantikan Jokowi-Amin September mendatang. Jangan lupakan juga posisi partai Demokrat (54) dan PAN (44) yang makin pasti mendukung pemerintahan.

Baca juga: Ada yang Berbeda dari Wajah Prabowo

Harus diakui, Megawati Soekarnoputri sebagai pemimpin Partai tertua sekaligus terlama di Indonesia sudah kenyang asam garam. Dia punya 1001 cara mempertahankan prinsip dan egonya demi kebesaran PDIP.

Pada akhirnya, ungkapan ‘Tak ada kawan dan musuh abadi dalam politik’, benar adanya. Yang abadi itu hanyalah kepentingan.

So, bagaimana kelanjutannya?

We’ll wait and see…

Penulis: Efge Tangkudung



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed