oleh

Kivlan Zen, Kebencian yang Menutup Logika

Pengakuan para tersangka dalam jumpa pers pihak kepolisian soal peran Kivlan Zen dalam upaya makar, langsung membelalakkan mata masyarakat Indonesia.

Bulu kuduk bergidik mendengar pengakuan tentang perintah Kivlan Zen, mantan perwira TNI untuk melakukan pembunuhan. Tak tanggung-tanggung, empat tokoh militer plus satu pimpinan lembaga survei menjadi sasaran.

Kivlan memang sedari lama memilih posisi berseberangan dengan pihak pemerintah. Bukan rahasia umum, dia sering terlibat friksi dengan Wiranto, mantan teman satu korpsnya.

Dalam Pilpres 2019, Kivlan terang-terangan berada di kubu 02, calon yang diusung pihak oposisi. Dia juga sering mengeluarkan pernyataan pedas memerahkan kuping soal prestasi pemerintah.

Masih dalam batasan wajar memang, ketika pihak oposisi selalu mencari kelemahan pemerintah menjabat. Pun, soal beda pilihan Pilpres, satu hal yang sangat lumrah.

Tapi ini soal lain. Memberi perintah pembunuhan kepada para tokoh bangsa adalah hal luar biasa amat sangat keji. Apalagi itu ada kaitannya dengan kekalahan kubu 02 dalam Pilpres 2019.

Makin tak bisa diterima akal sehat, Kivlan Zen adalah mantan petinggi TNI yang sejak prajurit sudah didoktrin setia untuk mempertahankan NKRI. Kivlan yang seharusnya menjaga keutuhan bangsa justru berbuat sebaliknya. Terlihat ada upaya nyata untuk membuat kekacauan yang ingin memporak-porandakan Indonesia.

Pilpres 2019 memang menjadi sejarah besar perjalanan bangsa Indonesia. Pilpres ini membuka karakter asli banyak elite yang selama ini ternyata hidup dalam kemunafikan. Banyak niat buruk para elite yang dibungkus dengan sikap baik berbaju agama terbongkar.

Pilpres lima tahunan yang seharusnya menjadi pesta demokrasi justru menjadi ajang pengkotak-kotakkan anak bangsa. Ulah siapa? Sudah pasti para elite bajingan yang tidak ingin perdamaian dan persaudaraan terjadi di Indonesia.

Masyarakat sudah seharusnya sadar dan saling menyadarkan. kebencian dan fanatisme berlebihan yang mengarah pengkultusan justru menutup logika dan afeksi. Manusia itu sejatinya diberikan akal dan nurani untuk membedakan kebaikan dan keburukan.

Bangsa ini terlalu indah dan berharga untuk dirusak oleh kebencian sesama anak bangsa. Jangan terbuai dan terjebak dengan keinginan para elite bajingan, dengan iming-iming manis berlumur madu.

Pun pemerintah, sudah saatnya tegas tanpa ampun terhadap para oknum seperti ini. Usut dan telusuri semua pihak yang terlibat. Kata ‘bajingan’ bahkan terlalu halus untuk mereka. Hukum mereka seberat-beratnya atas nama kemanusiaan.

Mereka tanpa merasa berdosa, tega menjadikan masyarakat sebagai pion untuk mencapai kepentingan mereka. Nyawa manusia seakan tak ada harganya lagi. Semua hanya demi syahwat dan ambisi kekuasaan

Baca juga: Waspada, Ada Tangan Besar di Balik Delusi Prabowo

Pada akhirnya, apresiasi tertinggi wajib diberikan untuk pihak kepolisian yang dibackup pihak TNI dan intelijen. Tak bisa dibayangkan jika semua rencana jahat para oknum tak bertanggung jawab itu berhasil terlaksana. Perang saudara pasti akan berkecamuk di pertiwi Indonesia.

Akhir ceritanya? Pemerintah sah sudah pasti akan terguling dan Indonesia dengan pancasilanya tinggal kenangan. Jika itu tak digagalkan, bisa jadi masyarakat Indonesia kini sedang meratapi nasib dengan duka berkepanjangan.

Indonesia mungkin sudah bersanding dengan negara-negara seperti Suriah, Afghanistan, Lybia, Mesir, Irak dan beberapa negara Timur Tengah yang hancur lebur karena perang saudara.

Naudzubillah min zalik…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed