oleh

Partai Pendukung Tinggalkan Prabowo, Siapa Tersisa?

Pernyataan Mardani Ali Sera yang akan mendukung pemenang Pilpres sesuai koridor, seakan melengkapi sikap partai pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Tersirat, Mardani Ali Sera bersama PKS, tak lagi ‘mati-matian’ mendukung klaim kemenangan Prabowo-Sandi. Tagar #2019GantiPresiden yang identik dengan partai pendukung Prabowo, bahkan diakui sudah dikubur dalam-dalam.

Sikap ini seakan menggenapi langkah pertemuan Zulkifli Hasan (PAN) dan AHY (Demokrat) dengan Presiden Joko Widodo.

Dalam politik, tak ada kawan  dan lawan abadi.

Yang abadi hanya kepentingan.

Mungkin ungkapan itu kini pantas disematkan buat Prabowo-Sandi bersama Gerindra.

Hal ini bisa dipahami, mengingat pencoblosan telah lewat. Hasilnya, secara garis besar sudah bisa diketahui. Wajar jika PKS, PAN dan Demokrat kini seolah tak lagi getol mendukung Prabowo-Sandi mengawal kemenangan versi Prabowo.

Mari kita tilik lebih dalam…

Selama ini kubu Prabowo seolah membuat framing, dengan menyatakan hasil pemilu curang. Mereka mengatakan hasil quick count adalah tidak benar dan berpihak.

Hal ini tentu saja membawa dilema kepada PKS dan PAN. Dalam quick count, PKS dan PAN justru ditempatkan berhasil melewati ambang batas Parlementiary Threshold 4 persen. Padahal selama ini keduanya diprediksi bakal tak lolos parlemen.

Hasil Quick count sejumlah lembaga survei kredibel tentunya sejalan dengan tujuan PAN dan PKS. Jika harus jujur mengakui, keduanya tentunya akan lebih memilih quick count itu benar adanya.

Demokrat lain lagi. Hasil Pemilu 2019 yang didapat, jelas agak jauh dari harapan. Seolah menyesal, Demokrat bahkan menuding politik identitas yang dimainkan kubu Prabowo-Sandi sangat merugikan partainya.

SBY dan Demokrat bahkan terang-terangan mengambil posisi berseberangan dengan sikap Prabowo jelang dan pasca pemungutan suara.

Wajar kini ketiga partai tersebut, kemudian mulai mencari tujuan baru. Dalihnya, kesepakatan koalisi hanya sampai pemungutan suara. Setelah itu, semua partai bebas menentukan sikap.

Para elite partai politik jelas berhitung. Jika quick count tak meleset jauh, kesuraman masa depan sudah ada di depan mata, jika koalisi BPN tetap bertahan. Dalam parlemen 2019-2024 mereka kalah suara dibandingkan partai pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin.

Bagaimana jika di eksekutif tak diakomodir, dan di parlemen tak mendapat apa-apa? Kegelapan jelas sudah bisa terbayangkan.

Lantas siapa yang kini masih membela Prabowo-Sandi? Mudah menjawabnya. Mereka adalah pihak yang masih mempunyai kepentingan yang kini belum tercapai.

Sejak awal, isu ideologi sudah menjadi rahasia umum. Tokoh-tokoh yang getol mengeluarkan pernyataan tendensius juga bisa diketahui rekam jejaknya.

Apalagi kini makin kentara, ada politisasi agama. Yang memprihatinkan adalah generalisasi Islam dan ulama ada di satu pihak saja. Belum lagi makin masifnya provokasi menggerakkan massa tanpa mengikuti instrumen hukum yang berlaku.

Secara logika, ada gerakan ingin membuat ‘perang saudara’ demi meraih kekuasaan secara inkontitusional.

Hal ini harus dilihat jernih oleh publik. Terlalu besar risiko mempertaruhkan kedamaian dan persatuan bangsa hanya untuk syahwat kekuasaan para elite.

Rakyat jangan mau digerakkan bahkan diadu seperti kambing, dengan retorika hidup adil dan makmur semata. Sudah banyak contoh negara yang hancur lebur karena diadu domba.

Harus dipahami, konstitusi sejak awal sudah menetapkan mekanisme, penyelenggara dan pengawas Pemilu. Bahkan, beberapa lembaga internasional turut menjadi pengawas Pemilu.

Jika ada sengketa, ada jalur yang sudah disiapkan. Semuanya adalah lembaga independen yang disumpah untuk bersikap adil dan profesional.

Memang harus diakui, Pemilu 2019 masih jauh dari kata sempurna, benar adanya. Apalagi ratusan korban harus menjadi tameng bergelar pahlawan pejuang demokrasi.

Namun tuduhan kecurangan Terstruktur, Sistematis dan Masif, juga terlalu dini diapungkan.

Ada jalur hukum yang disiapkan negara untuk menguji tuduhan itu. Palu hakimlah yang akan memutuskan, berdasarkan semua bukti dan saksi.

Baca juga: Waspada, Ada Tangan Besar di Balik Delusi Prabowo

Publik kini menanti hasil rekapitulasi manual KPU RI. Menunggu siapa pasangan yang akan ditahbiskan menjadi Presiden dan wakil Presiden terpilih.

Presiden dan Wakil Presiden untuk semua rakyat Indonesia, baik yang memilihnya maupun yang membencinya.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed