oleh

Klaim Prabowo, Agitasi Amien Rais Vs Kenegarawan SBY

Masyarakat Indonesia mendapat tontonan menarik, membingungkan, lucu sekaligus menyedihkan usai hari H Pilpres, 17 April 2019.

Apalagi kalau bukan soal klaim kemenangan capres pasangan 02, Prabowo Subianto dengan persentase 62 persen. Prabowo bahkan melakukan sujud syukur merayakan kemenangan atas informasi timnya.

Klaim ini merespon hasil quick count sejumlah lembaga survei kredibel yang memenangkan pasangan 01, Jokow-Ma’ruf Amin di kisaran 54-55 persen.

Hal ini kemudian direspon pasangan Jokowi-Ma’ruf juga dengan deklarasi kemenangan. Jokowi mengaku percaya dengan hasil quick count lembaga survei kredibel tersebut.

Presiden petahana juga membeberkan sudah diberi ucapan selamat puluhan pimpinan negara dunia. Meski begitu meminta masyarakat tetap menunggu hasil resmi dari KPU.

Kubu Prabowo kembali meresponnya, kali ini lumayan kasar dan keras. Prabowo mengaku tidak terima dengan hasil tersebut, bahkan menuding lembaga survei sudah dibayar sang rival. Prabowo bahkan mengusir para lembaga survei untuk ke Antartika dan membodohi para penguin.

Prabowo juga meminta Presiden Jokowi untuk menarik deklarasi kemenangan yang sudah diucapkannya. Prabowo tegas mengklaim dirinyalah yang menjadi presiden terpilih Pilpres 2019. Dia juga menyentil soal kemampuan mengerahkan massa untuk turun ke jalan.

Merespon ini, Presiden keenam Indonesia, SBY kemudian mengeluarkan maklumat untuk seluruh kader demokrat. Diketahui, Partai Demokrat adalah pendukung Prabowo-Sandi.

Meski tidak gamblang menyatakan menarik dukungan, namun tersirat SBY tidak setuju dengan langkah Prabowo. SBY memerintahkan kader demokrat untuk balik kanan dan tidak mendukung langkah yang inkonstitusional.

Tak hitung tiga, Amien Rais langsung menyindir SBY sebagai seorang peragu dan bermain aman. Dia bahkan mengeluarkan pernyataan bertendensi agitasi untuk memprovokasi pendukung.

Amien Rais juga memberikan ancaman untuk KPU dan Bawaslu akan berhadapan dengan massa jika mengubah hasil pemilu.

Sontak, kondisi ini membuat publik merasa trenyuh, prihatin menjurus kasihan dengan sosok Prabowo. Prabowo dinilai terlampau jemawa dengan klaim kemenangan itu. Kemungkinan besar, Prabowo mendapat laporan tidak akurat, Asal Bapak Senang (ABS).

Prabowo bahkan disebut sedang mengalami delusi. Prabowo dinilai sebagai sosok Trumpian yang hidup dalam imajiner sendiri. Ini merujuk dari keadaan serba bossy yang dirasakan sejak masih kanak-kanak.

Publik akhirnya mulai melihat dan mencium keretakan di kubu Prabowo soal deklarasi kemenangan. Hal utama adalah faktor Sandiaga Uno yang ‘mendadak’ sakit.

Padahal bukan rahasia umum, Sandiaga adalah seorang olahragawan yang jago menjaga kondisi tubuh. Bandingkan saja, berapa kali Prabowo dan Sandiaga sakit ketika masa kampanye.

Bukan hanya itu, sejumlah tokoh partai pendukung, sepertinya ogah mendampingi Prabowo dalam pidato kemenangannya.

Baca juga: Amien Rais dan Titiek Soeharto Lemahkan Posisi Prabowo

Baca juga: Surat SBY, Alarm Serius untuk Bangsa Indonesia

Publik kini memuji langkah yang diambil SBY sebagai sikap seorang negarawan. SBY menilai, persatuan Indonesia jauh lebih berharga. Dia tidak ingin aksi massa menjadi alternatif, alih-alih mengambil langkah sesuai prosedur hukum dan konstitusional.

Kini waktu jua yang akan menjawab, KPU akan melaksanakan pleno akhir paling lambat tanggal 22 Mei 2019. Benarkah keyakinan Prabowo menjadi presiden terpilih dalam Pilpres 2019 menjadi kenyataan?

Atau itu hanya menjadi sebuah Dejavu, ketika sujud syukur kemenangan Pilpres 2014 ternyata hanya menjadi klaim sepihak yang justru ditertawakan banyak orang?

We’ll wait and see…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed