oleh

Jangan Geer dan Baper dengan Dukungan UAS

Ustaz Abdul Somad (UAS) menunjukkan keberpihakannya kepada calon Pesiden 02, Prabowo Subianto. Hal ini terlihat dalam video yang viral di media sosial.

Sontak dukungan UAS langsung dipersepsikan bahkan diidentikkan dengan kemenagan di kubu pasangan Prabowo-Sandi.

Harus diakui cara penyampaian dakwah dan ceramah UAS memang tergolong unik. Dengan bahasa kocak ditambah mimiknya yang natural, banyak jamaah yang mengidolai dirinya.

Apalagi secara keilmuan, UAS adalah lulusan universitas Al-Azhar yang kesohor di Mesir. Wajar jika UAS berceramah, selalu disesaki banyak jamaah.

Tapi harus jujur juga, terkadang UAS tak bisa mengontrol verbalnya, yang tanpa disadari mencederai nilai toleransi antar umat beragama.

Sebenarnya bagi yang mafhum politik, arah dukungan  UAS sudah terbaca sejak lama. Banyak indikator yang menunjukkan UAS lebih condong ke Prabowo-Sandi.

Namun, UAS terkesan masih malu-malu untuk mendeklarasikan isi hatinya. Ustaz Abdul Somad masih bertahan dengan idealismenya untuk coba menampilkan ‘kenetralan’ dan enggan terlihat bermain politik. UAS bahkan pernah menolak ketika ditawari menjadi calon wakil presiden Prabowo.

Dukungan Ustaz Abdul Somad adalah sebuah hal yang wajar dan lumrah. Sebagai rakyat Indonesia, dia berhak menentukan pilihannya kepada pasangan yang dianggap tepat.

Yang cukup ramai adalah, kabar bergabungnya UAS ke kubu 02, membuat konstelasi di dua kubu diliputi suasana batin yang kontras.

Kubu 02 jelas langsung diselimuti optimisme untuk meraih kemenangan. Sebaliknya, tim 01 merasa khawatir kekalahan akan berbalik ke arah Jokowi-Ma’ruf.

Tapi benarkah dukungan Ustaz Abdul Somad ke pasangan 02 bakal menambah suara signifikan?

Mari kita tilik lebih dalam…

Logika pikir seperti itu, sebenarnya sudah terjadi kepada beberapa tokoh yang banyak pengagumnya. Tengok saja, Rhoma Irama.

Bayangkan jika semua pecinta aliran musik dangdut ditambah penggemar Soneta ikut pilihan Rhoma Irama. Mungkin Pilpres tak perlu digelar lagi, karena pemenangnya sudah gamblang terjawab.

Ada juga dengan ADP dengan Baladewa dan Kaka dengan Slankers-nya. Masih kurang, ada juga Iwan Fals dengan OI. Keempat tokoh di atas mungkin menjadi orang yang selalu ditunggu ketika tampil. Tapi soal politik, penggemarnya sudah tentu punya piihan sendiri dengan pertimbangan masing-masing.

Pecinta ceramah UAS yang jumlahnya banyak sudah tentu tak akan serta merta mengikuti ustaz idola mereka untuk urusan politik. Banyak hal yang mendasari alasan itu.

Dalam kelompok pecinta ceramah Ustaz Abdul Somad, bisa dipastikan terbelah menjadi tiga golongan. Ada yang mendukung 01, memilih 02 atau bahkan mereka yang berencana menjadi Golput. Pilihan mereka tersebut bahkan sudah ditetapkan jauh sebelum Ustaz Abdul Somad bertemu Prabowo Subianto.

Ingat, menyukai isi ceramah UAS, bukan berarti mengkultuskan dirinya atau akan siap sedia mengikuti langkah politiknya. Memang mungkin akan ada sebagian yang militan dan berpatokan dengan pilihan UAS.

Maka itu, pihak 02 tidak usah terlalu geer menanggapi hal itu dengan kesombongan. Toh sebelumnya, pihak 02 didukung Rizieq Shihab pentolan FPI yang mempunyai massa dengan jumlah lumayan besar. Nyatanya, dalam survei terungkap, banyak anggota FPI yang ternyata memilih pasangan Jokowi-Ma’ruf.

Pihak 01 pun jangan terlampau baper. Sedih dan khawatir karena UAS ada kubu lawan itu terlalu lebay. Dalam kubu Jokowi juga tergabung banyak kiai dan ustaz yang keilmuannya sangat mumpuni. Sebut saja Habib Lutfi, Tuanku Guru Badjang, Yusuf Mansur, Habib Jindan dan masih banyak lagi.

Keberpihakan Ustaz Abdul Somad dalam Pilpres kali ini merupakan pilihan pribadi dengan berbagai faktor pertimbangan. Hargai itu dan hormati itu. Tak usah berlebihan menyikapinya, apalagi sampai saling menghina dan menjelekkan.

Pada akhirnya, Pilpres tinggal empat hari lagi. Biarlah kehadiran tokoh-tokoh tersebut akan menambah kesejukan dalam barisan di dua kubu. Tak perlu ada gontok-gontokkan, apalagi perpecahan yang mencancam eksistensi NKRI.

Baca juga: Ini Prediksi Pemenang Pilpres 2019 Hitungan Matematika Politik

Pilpres adalah pesta demokrasi seluruh rakyat Indonesia untuk mencari pemimpin terbaik. Pemenangnya juga sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Menentukan. Tinggal kita mengikuti prosesnya dengan segala ikhtiar dan kerja keras.

Tapi, kerja keras itu jelas dengan jalan yang terhormat, bukan dengan menyebar fitnah, hoaks atau kebencian kepada sesama anak bangsa.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed