oleh

1 Juta Orang di GBK, Tanda Kekalahan Prabowo-Sandi

Kampanye akbar pasangan 02 di Pilpres 2019, Prabowo Subainto-Sandiaga Uno di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Minggu (7/4/2019) memang luar biasa. Massa menyemut untuk menyaksikan calon presiden kebanggaan mereka berorasi.

Namun, ada hal yang kembali jadi perdebatan. Apalagi kalau bukan soal jumlah massa yang hadir. Angka satu juta diklaim kubu Prabowo sebagai jumlah perkiraan massa yang datang.

Sayang, banyak pihak yang sangsi dengan klaim tersebut, setelah melakukan hitungan analitis matematis.

Kesangsian itu cukup beralasan, kapasitas maksimal GBK hanya sekita 78 ribu orang. Jika ditambah luas lapangan dan trek atletik plus ringroad, ada ruang sebesar 18 ribu m2.

Dengan asumsi maksimal 1m2 diisi tiga orang, hanya didapat angka maksimal skitar 132 ribu orang. Dengan ‘bonus’ perkiraan sekitar 18 ribu orang berada di luar stadion, maksimal massa yang hadir pada kampanye akbar tersebut hanya ada kisaran 150 ribu orang.

Sebagai pembanding, Kampanye Barrack Obama pada 18 Oktober 2008 di St. Louis dihadiri massa yang kurang lebih sama dengan penampakan di GBK. Tapi saat itu, dari hitungan berteknologi, jumlah massa diperkirakan ‘hanya’ 100 ribu orang.

Sebenarnya, angka itu tak perlu diperdebatkan jika orang berpikir menggunakan logika dan akal sehat, bukan dengan fanatisme buta mengarah pengkultusan.

Kalaupun menggunakan logika ‘sesat pikir’ tersebut, yang menyebut massa yang hadir di angka satu juta, justru itu sebetulnya adalah alarm tanda kekalahan kubu Prabowo-Sandi.

Selain soal nominal jumlah massa, banyak hal yang menjadi indikator kekalahan bakal ada di kubu Prabowo-Sandi.

Mari kita tilik lebih dalam…

Massa yang hadir di GBK, harus diakui kalah jumlah dengan massa yang ada pada aksi 212 atau reuni 212. Waktu itu, dengan logika ‘sesat pikir’ yang sama massa yang hadir disebutkan sebesar 7,5 juta orang bahkan lebih.

Itu mengindikasikan, sebagian besar massa 212 atau reuni 212 tidak hadir atau bahkan tidak bakal memilih Prabowo-Sandi. Yang makin bikin cemas, stadion GBK berada di wilayah Jakarta merupakan basis Prabowo-Sandi, jika merujuk hasil Pilkada jakarta 2017.

Belum cukup, Banten dan Jawa Barat yang juga banyak mengirimkan massanya merupakan lumbung suara Prabowo-Sandi. Relevansinya, ini justru terbaca hanya sebagai ajang ‘show force’ untuk menjaga keyakinan untuk menang kepada para simpatisan di seluruh Indonesia.

Nyatanya, angka 1 juta itu tak sampai satu persen dari DPT 192 juta yang ditetapkan KPU. Massa yang hadir di GBK tak pernah bisa mewakili mayoritas pemilih di Indonesia.

Hal lain yang mengindikasikan kekalahan pasangan 02 adalah adalah surat keberatan dari Ketua Umum Partai Demokrat, SBY.

Mantan presiden dua periode ini, tidak setuju metode kampanye tak inklusif yang digelar. SBY bahkan menyebut kampanye Prabowo kental dengan politk identitas, apalagi kalau bukan mengatasnamakan Islam.

Perbedaan pendapat atau keretakan ini jelas mulai menggoyahkan soliditas Badan Pemenangan nasional (BPN). Partai Demokrat sudah pasti tak akan optimal menggerakkan massanya untuk memilih Prabowo-Sandi.

Belum lagi framing HRS soal Prabowo yang tidak bisa dikalahkan kecuali lewat kecurangan. Ini sudah jelas merupakan penggiringan opini, lagi-lagi untuk menguatkan ‘kepercayaan diri’ di level pemilih akar rumput. Jika benar Prabowo-Sandi kalah, sudah ada kambing hitamnya.

Harus diakui, diksi Asal Bapak Senang (ABS) yang dilontarkan Prabowo di debat keempat, justru berbalik kepada dirinya. Prabowo banyak menerima informasi dan janji yang terlalu bombastis.

Akibatnya, Prabowo-Sandi terjebak dengan gaya kampanye penuh janji meski secara logika kurang bisa diterima. Wajar memang, jika melihat siapa yang berada di belakang Prabowo-Sandi.

Iklan kampanye PKS yang ingin membebaskan pajak dan perpanjangan SIM seumur hidup, bisa menjadi jawaban gamblang atas pertanyaan itu.

Kini terlihat, kubu BPN mulai ‘lempar batu sembunyi tangan’, menyerang tanpa fokus dengan membangun penggiringan opini.

Masih ingat soal kontainer 70 juta suara, selang bekas untuk cuci darah, kotak suara kardus, e-KTP dan 17,5 suara fiktif, mobil beraksara china, pengadangan oleh pesawat TNI, dan masih banyak lagi.

Setelah mendapat penjelasan resmi dengan sejumlah argumen dan bukti dari berbagai institusi terkait, BPN seolah diam seribu bahasa.

Hal-hal sepert ini tanpa disadari sangat menggerus suara Prabowo-Sandi. Meski begitu, harus diakui suara kaum militan Prabowo-Sandi, disodori argumen apapun pilihannya sudah tak bisa berubah.

Namun, bagaimana untuk pemilih yang masih ragu atau mengambang?

Dengan laporan kurang akurat (baca: ABS), bisa jadi Prabowo-Sandi kini sudah terbuai dengan kemenangan. Bahkan, sudah menyusun kabinet dan berbagi porsi menteri sebelum hari pencoblosan.

Biarlah waktu yang menjawab, apakah Prabowo Subianto ditakdirkan untuk menjadi presiden ke-8 Indonesia. Atau bisa jadi, Prabowo lagi-lagi akan menjadi pecundang di Pilpres untuk ketiga kalinya..

We’ll wait and see…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 comment

News Feed