oleh

Saracen Beraksi, Bukti Sahih Kelompok Garis Keras Berpihak

Situs seorang penulis dan pegiat media sosial, Denny Siregar diretas oleh pihak tidak bertanggung jawab. Halaman depan situs tersebut terpasang gambar orang bertopeng dengan tulisan Hacked by Saracen Cyber Team.

Dalam keterangan di bawah gambar, tampak juga tulisan yang terkesan mengkotak-kotakkan untuk memecah belah. Ada tulisan Syiah vs Aswaja, Laskar Kristus vs Saracen, PKI vs Pancasila, Ulama bersatu, dan Umat Islam bersatu.

Sontak, tindakan ini langsung diindikasikan sebagai langkah pembungkaman sekaligus penggiringan opini publik. Mendengar backsoundnya, hal yang hampir pasti, kelompok Islam garis keras dan radikal ada di belakangnya.

Bisa jadi, situs-situs lain yang menyuarakan perlawanan terhadap praktik intoleran dan anti NKRI menjadi target peretasan kelompok ini.

Mari kita tilik lebih dalam…

Bukan rahasia lagi, Saracen dan MCA selama ini merupakan kelompok yang intoleran dan berafiliasi dengan kelompok Islam garis keras. Banyak hoaks dan fitnah diproduksi massal kelompok ini, yang sudah terungkap pihak kepolisian.

Langkah tim Saracen Cyber Army meretas situs seorang influencer seperti Denny Siregar memang sangat dimafhumi. Tema dan narasi Siregar selama ini memang begitu memerahkan kuping mereka.

Denny Siregar kepada media mengaku kali ini pengamanan situsnya jebol. Dia sadar sudah lama menjadi target Saracen Cyber Army karena tulisan-tulisannya yang kritis.

Denny Siregar memang nyata-nyata menunjukkan keberpihakan kepada pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019. Dalam sejumlah tulisan, Siregar getol menulis tema perlawanan kepada kelompok Islam garis keras dan kaum intoleran.

Bahkan, secara terbuka, Siregar menuding Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) ada di belakang pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019, lengkap dengan bukti.

Agendanya, sudah jelas mendirikan negara khilafah di Indonesia. Sejumlah negara Timur Tengah akhirnya hancur lebur karena perang saudara, karena agenda ini.

Hampir pasti, peretasan ini dimaksudkan untuk membungkam mulut sekaligus mengunci jari Denny Siregar. Mereka tak suka tulisan Siregar yang sangat menelanjangi dan memojokkan mereka.

Tapi yang agak lucu dan mengherankan adalah penggiringan opini yang coba dilakukan peretas bersama kelompoknya. Mereka seolah berada di kubu pro pancasila, ulama dan umat Islam.

Hal ini harus cepat membuat masyarakat Indonesia dan umat Islam mayoritas terbangun dan tersadar.

Kelompok ini ingin membangun opini, Jokowi yang selama ini difitnah dan diidentikkan PKI, menjadi lawan mereka. Parahnya, mereka mengaku berada di kubu pembela pancasila. Sebuah upaya perongrongan lewat aksi cuci tangan.

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia sudah menyatakan perlawanan total secara frontal terhadap kelompok ini.

Yang makin bikin geleng kepala adalah klaim Saracen dan MCA terhadap Islam dan ulama. Seolah Islam dan ulama yang benar ada di kelompok mereka, meski intoleran dan radikal.

Ini tak boleh dibiarkan, umat Islam mayoritas di Indonesia tak pernah setuju dengan tindak tanduk seperti ini. Islam itu agama Rahmatan lil Alamin, Rahmat bagi semesta.

Islam bukan agama yang penuh kebencian dan kekerasan. Diamnya mayoritas umat Islam selama ini bukan berarti setuju dan berpihak kepada mereka.

Umat Islam jangan mau digiring harus memilih salah satu paslon. Umat seolah ingin ditakuti, jika memilih Jokowi-Amin adalah pro PKI-Kafir dan tidak pro ulama dan Islam.

Banyak juga umat Islam ada di pasangan Jokowi-Amin, bahkan mungkin jauh lebih besar daripada kubu pesaing. Ini tentang demokrasi warga negara memilih pemimpin, bukan tentang perang agama.

Sejumlah fitnah, hoaks dan peretasan ini bisa dipastikan ada campur tangan kaum intoleran dan radikal. Mereka tak ingin NKRI berada dalam keadaan damai dan tentram.

Pada akhirnya, publik harus saling mengingatkan, jangan sampai semuanya tersadar ketika sudah terlambat. Rentetan bukti sudah membentang, yang memporakporandakan banyak negara.

Pilihan boleh beda, namun ketika tahu ada yang coba menunggangi dan berbuat fitnah, gunakanlah akal dan nurani demi NKRI dan Pancasila.

Untuk kita, untuk anak cucu kita nanti…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed