oleh

Lakukan Blunder, Prabowo Bisa Usir Banyak Simpatisan

Dua pasangan yang berkontestasi dalam Pilpres 2019 kini tinggal menghitung hari. Bersama pendukung masing-masing, kedua kubu yakin akan memenangkan pertandingan.

Namun, dalam detik-detik terakhir menuju hari H, kubu pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga terlihat mulai panik. Hasil survei banyak lembaga menempatkan pasangan 02 berada di posisi loser.

Keharusan mengejar suara yang cukup besar dengan durasi waktu yang sangat singkat bisa dibilang sebuah kemustahilan. Sebenarnya, mengejar defisit bisa terjadi jika Prabowo-Sandi bisa meyakinkan para pemilik suara yang masih mengambang.

Jumlah pemilih yang belum yakin dengan pilihannya ditambah pemilih yang belum menentukan pilihan ada di kisaran 15-20 persen. Mayoritas dari mereka adalah golongan terdidik dan kaum milenial.

Kelompok ini umumnya tak suka, bahkan benci dengan politik di dalam negeri. Mereka akan menunggu injury time detik terakhir, bahkan hingga saat memegang paku dalam TPS untuk menentukan pilihan.

Selama kurun waktu jelang hari H, akan banyak referensi dan pertimbangan yang akan mempengaruhi keputusannya. Pilih pasangan 01, Golput atau pasangan 02.

Andai tak menemukan calon terbaik, jika mereka akan menggunakan hak suaranya, mereka akan memilih pemimpin yang lebih sedikit keburukannya.

Sayangnya, dalam waktu singkat yang tersisa, kubu Prabowo-Sandi justru banyak melakukan blunder fatal.

Pada debat keempat calon Presiden, Sabtu (30/3/2019), Prabowo mengritik pertahanan militer Indonesia yang dinilainya sangat rapuh. Dia seperti merendahkan kekuatan TNI sebagai garda terdepan penjaga keamanan dan kedaulatan NKRI.

Pernyataan ini, mungkin dua minggu ke depan akan disadari menjadi alasan kekalahan Prabowo-Sandi dalam Pilpres 2019.

Mari kita tilik lebih dalam,

Pernyataan ini jelas terbaca sebagai upaya menebar ketakutan dan pesimisme kepada masyarakat Indonesia. Ini adalah pengulangan pernyataan setahun sebelumnya soal Indonesia akan bubar pada tahun 2030.

Pernyataan yang merendahkan pimpinan dan TNI keseluruhan jelas menyakiti, bukan hanya untuk keluarga TNI tapi seluruh masyarakat Indonesia. Bayangkan berapa banyak prajurit yang sudah gugur mempertahankan NKRI seperti di Aceh, Poso, Papua .dan berbagai tempat.

Pernyataannya yang ingin memaksakan menaikkan anggaran Alutsista RI secara tidak seimbang, tidak mencerminkan dia berpikir global. Bayangkan jika anggaran kesehatan, pendidikan, pertanian, teknologi , infrastruktur dan lainnya berkurang ‘hanya’ untuk Alutsista.

Padahal, selama ini pemerintah tetap menganggarkan peremajaan Alutsista. Itu pun dengan persetujuan DPR, yang notabene banyak dihuni para anak buah Prabowo.

Cara berpikir mantan Danjen Kopassus itu dinilai hanya berdiri di satu sisi, memaksa negara siap untuk perang.

Publik akhirnya mulai membandingkan dan memberi contoh negara Korea Utara yang cukup kuat persenjataannya, tapi SDM dan kesejahteraan rakyatnya sangat memprihatinkan. Prabowo dituding tak paham banyak aspek bernegara termasuk soal diplomasi dan kerjasama luar negeri.

Andaipun hal itu benar, tak seharusnya Prabowo membocorkan informasi itu kepada khalayak ramai termasuk dunia luar. Itu merupakan rahasia negara yang harusnya tersimpan rapat.

Prabowo dinilai lebih memilih mendapatkan elektabilitas ketimbang menjaga marwah kedaulatan NKRI. Sebagai mantan petinggi militer, dia justru tak tahu banyak soal kehebatan senjata dan prajurit TNI saat ini.

Saat debat juga, Prabowo sempat menunjukkan karakternya ketika marah kepada penonton di acara yang disiarkan langsung sejumlah stasiun televisi tersebut.

Publik yang belum menentukan pilihan tentunya kini mulai menimbang dengan logika dan afeksi. Mereka mulai mereka-reka kemampuan intelligence quotient (IQ) Prabowo dalam berbagai aspek di luar bidang militer.

Kemampuan emotional quotient (EQ) Prabowo juga pasti akan menambah daftar pertimbangan mereka untuk memilih seorang pemimpin. Apalagi, kini kemampuan spiritual quotient (SQ) Prabowo lagi ramai disorot.

Berbagai ‘blunder’ yang frontal seperti itu, dikhawatirkan bukan menambah suara justru mengusir banyak simpatisan menyeberang ke kubu 01, Jokowi-Ma’ruf Amin.

Pada akhirnya, biarlah masyarakat Indonesia yang menentukan pilihan. Termasuk mereka yang hingga saat ini masih menimbang-nimbang siapa calon pemimpin terbaik untuk bangsa ini.

We’ll wait and see…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed