oleh

Bogani, Tokoh Paripurna Pemimpin Rakyat

Nama Bogani begitu diidentikkan dengan dengan suku Bolaang Mongondow di Sulawesi Utara. 

Ketokohan Bogani begitu dikagumi dan menjadi kebanggaan masyarakat  yang mendiami bagian barat Provinsi Nyiur Melambai ini.

Baca: Selayang Pandang Sulawesi Utara

Bahkan, untuk mengabadikan kehebatan sosok Bogani, pemerintah daerah mendirikan patung di pertigaan Kotabangon, Kecamatan Kotamobagu Timur, Kotamobagu.

Namun sayang, kini generasi muda tak lagi mengetahui nila-nilai yang berkaitan dengan sosok tersebut.

Bogani sebenarnya merupakan sebutan untuk pemimpin sebuah perkumpulan masyarakat. Saat itu, masyarakat memang masih hidup berkelompok-kelompok.

Lokasi makam Bogani di Bolaang Mongondow. (foto: ist).

Seorang Bogani diyakini merupakan sosok terpilih yang diturunkan untuk melindungi rakyatnya.

Tak sembarangan orang bisa jadi Bogani, ada beberapa syarat yang harus terpenuhi untuk diangkat menjadi pemimpin.

Menukil tulisan Kristianto Galuwo dari penjelasan budayawan Chairun Mokoginta, seorang Bogani harus memiliki kriteria paripurna seorang pemimpin rakyat yakni, Mokodotol (patriot), Mokorakup (mengayomi), Mokodia (amanah), dan Mokoanga (simpatik).

Perkataan dan perbuatan seorang Bogani selalu selaras dan sejalan. Dia selalu dihormati rakyatnya karena kepandaian, karisma dan kebijaksanaannya.

“Prinsip seorang pemimpin juga adalah tampangan dodot yang berarti siap mati lebih dulu sebelum rakyatnya,” jelasnya

Beberapa Bogani yang  terkenal di Bolmong diantaranya Paloko, Ki Bagat, Inde Indou, Inde Dikit, Dugian, Dondo, Ponamboian, Pongayow, Lingkit, dan Mogedag.

Konon katanya, Bogani memiliki badan tinggi besar dan memiliki kesaktian luar biasa seperti bisa menghilang.

Pada tahun 1200-an, para Bogani yang ada di beberapa wilayah kemudian bersatu dan bersepakat membentuk satu pemerintahan kerajaan yang dinamakan Kerajaan Bolaang.

Nama tersebut diambil dari kata Bolangon (lautan) yang mendeskripsikan kerajaan ini sebagai kerajaan maritim.

Dari catatan sejarah, saat itu diangkat Mokodoludut sebagai raja pertama Kerajaan Bolaang.

Pada pertengahan abad XVIII, ketika bertikai dengan Belanda, nama kerajaan ditambahkan unsur primordialisme untuk meningkatkan semangat perjuangan, menjadi Kerajaan Bolaang Mongondow.

Sejumlah raja silih berganti memimpin Kerajaan Bolaang Mongondow, hingga sitem kerajaan ini resmi berakhir tahun 1950.

Saat itu, Raja Manoppo pada tanggal 1 Juli 1950 mengundurkan diri dan menyatakan bergabung dengan Indonesia.

Baca: Sejarah Manado, Negeri Jauh yang Jadi Metropolis

Bolaang Mongondow kemudian menjadi sebuah kabupaten yang berada di bawah pemerintahan Provinsi Sulawesi Utara.

Kabupaten Bolaang Mongondow kemudian dimekarkan menjadi lima kabupaten/kota yakni, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kota Kotamobagu, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan dan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.

Kini, sejarah Bogani tinggal bisa dikenang dengan melihat patung dan makam-makam yang terbilang tak terawat.

Patung Bogani yang terletak di Kota Kotamobagu merupakan karya Alexander Bastian Wetik, tahun 1974.

Namun ada informasi lain pembuatnya adalah Tawakal Mokodompit atau yang dulu lebih dikenal dengan panggilan ‘Pak Moko’.

Alex Wetik dan Tawakal Mokodompit memang saat itu terkenal sebagai pematung kesohor di Sulawesi Utara.

Baca: Tugu di Pusat Kota, Mengenang Kehebatan Batalyon Worang

Mereka berdua adalah dosen seni rupa di IKIP Manado (kini menjadi Universitas Negeri Manado/UNIMA).

Hampir seluruh patung yang berdiri di Sulut merupakan karya keduanya.

Sebut saja patung Sam Ratulangi, patung Imam Bonjol, patung Wolter Monginsidi, Patung Korengkeng, Patung Worang, Patung Lengkong Wuaya dan masih banyak lagi.

“Patung Bogani di Kota Kotamobagu adalah karya ayah saya. Jika ada pihak lain yang mengklaim, mungkin mereka keliru,” ujar Grace Wetik, anak Alex Wetik.

Dosen Seni Rupa UNIMA, Arie Tulus juga bertutur hal yang sama.

Menurutnya, Patung tersebut dibuat tahun 1974 oleh Alexander Wetik, dibantu oleh Amir Lahabu.

“Mungkin saat itu, karena pak Moko sering ke lokasi pembuatan sehingga disebut sebagai pembuat patung. Pak Tawakal dan pak Alexander adalah dosen kami, jadi kami tahu karya mereka. Karya terkenal pak Moko adalah patung Batalyon Worang di Pasar 45 Manado. Pekerjaan patung Worang juga dibantu oleh Amir Lahabu,” jelasnya seperti dilansir dari totabuanews.

Sosok pemimpin yang menjadi subjek dalam patung tersebut diperkirakan adalah Bogani Paloko.

Dia diketahui memimpin kelompok yang bermukim di aliran sungai, wilayah Kotobangon hingga wilayah puncak Ilongkow.

Baca: Daftar Gubernur Sulawesi Utara dari Masa ke Masa

Diketahui, saat Hein Victor Worang menjabat Gubernur Sulut banyak dibangun patung untuk mengenang perjuangan dan nilai sejarah agar bisa dinikmati generasi selanjutnya.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed