oleh

Secara Logika, Suara Jokowi-Amin tak Mungkin Lagi Terkejar

Hasil yang dikeluarkan berbagai lembaga survei kini mulai menjadi perdebatan publik. Banyak pihak yang bingung dengan hasil bervariasi, meski semuanya menggunakan metode hampir sama.

Selisih elektabilitas dua pasangan calon presiden 2019 kini berada di kisaran 11 – 25 persen. Yang menarik, selisih terkecil justru dikeluarkan lembaga survei yang cukup kredibel, Litbang Kompas.

Secara bersamaan lembaga survei kredibel lainnya, mengeluarkan hasil yang cukup jauh dari hasil Litbang Kompas. Akibatnya, hasil survei tersebut menjadi konten gorengan psi war dua kubu untuk saling klaim kemenangan sudah di depan mata.

Namun, secara matematis sebenarnya hasil yang dikeluarkan sejumlah lembaga survei sudah bisa menjawab pemenang Pilpres, melihat angka di balik persentase.

Mari kita tilik lebih dalam…

KPU sudah mengeluarkan jumlah Daftar Pemilih Tetap Pilpres 2019 sebesar 187.781.884 pemilih. Dengan asumsi Golongan Putih (Golput) sebesar 20-30 persen, pemilih Pilpres 2019 nanti ada di kisaran 130-150 juta orang.

Lebih jauh, melihat konstelasi pendukung terkini, Prabowo Uno-Sandiaga Uno tampaknya akan menguasai mayoritas pulau Sumatera.

Kebalikannya, Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin akan unggul di Indonesia bagian timur termasuk Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara. Secara head to head, dua pemetaan ini pemilihnya relatif imbang.

Itu artinya, kunci kemenangan ada di Pulau Jawa. Prabowo-Sandiaga kemungkinan tetap akan unggul di Banten dan DKI Jakarta meski dengan margin yang cukup kecil. Jokowi-Amin berpeluang menang telak di Jogjakarta.

Kini tinggal tiga wilayah besar yang merupakan basis suara utama Pilpres yakni Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Untuk Jawa Tengah, Jokowi-Amin diprediksi akan menang besar. Selain sebagai daerah asal Jokowi, Jawa Tengah selama ini dikenal sebagai kandang banteng atau PDIP yang menjadi pendukung Jokowi.

Untuk Jawa Barat, yang pada 2014 menjadi penyumbang suara signifikan bagi Prabowo, mungkin masih akan dimenangkan Prabowo-Sandi. Wajar, mesin PKS terlalu dominan dan mengakar di sana lewat sosialisasi masif termasuk lewat masjid dan pengajian.

Namun kali ini beda, ada faktor Ridwan Kamil, UU Ruzhanul, Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi yang dulunya pendukung Prabowo namun kini menyeberang ke kubu Jokowi.

Mereka setidaknya akan menghadang laju suara Prabowo-Sandi di Jawa Barat. Belum lagi faktor Golkar yang kini di kubu Jokowi dan Ma’ruf Amin yang punya kedekatan secara identitas.

Yang terakhir dan paling menentukan adalah provinsi Jawa Timur. Pada 2014 lalu suara di basis Nahdliyin relatif imbang.

Namun kali ini, Ma’ruf Amin yang diidentikkan sebagai wakil NU jelas membawa pengaruh besar. Belum lagi pengaruh dua tokoh pemimpin Jawa Timur, Soekarwo dan Khofifah Indar Parawansa yang kini ada di kubu Jokowi.

Jika Jokowi-Amin bisa meraup suara di atas 60 persen di Jawa Timur, rasa-rasanya tak sulit memprediksi hasil akhirnya.

Dengan hitungan sederhana, selisih 10 persen yang kini diributkan dan menjadi semangat untuk kubu Prabowo-Sandi, sebenarnya merupakan nilai yang sangat jauh. Angka 13 hingga 15 juta suara, terlalu besar dan berat untuk bisa dilampaui kubu Prabowo-Sandi.

Dengan waktu tersisa kurang dari tiga minggu, mustahil akan ada keajaiban besar yang terjadi. Secara logika, Jokowi-Amin hampir bisa dipastikan akan menjadi pemimpin Indonesia 2019-2024.

We’ll wait and see…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed