oleh

Jokowi Menang Survei, Belum Tentu Hari H

Sejumlah lembaga survei mulai merilis data sementara elektabilitas dua pasang calon presiden yang bersaing 17 April 2019.

Hampir semua lembaga survei mempunyai hasil akhir yang sama, pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin berada di atas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Yang menarik, kini persentase keunggulan elektabilitas  pasangan nomor satu tersebut dari sejumlah lembaga survei mulai bervariasi. Ada yang menilai pasangan Jokowi-Amin unggul 11 persen, namun ada juga yang menyebut pasangan nomor satu tersebut unggul di kisaran 25 persen.

Hal ini jelas menjadi tanda tanya publik. Mengapa bisa lembaga survei yang menggunakan metode hampir sama justru menghasilkan hasil berbeda.

Jika menilik lebih dalam, ini adalah strategi ‘cerdas’ Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan 02. Para simpatisan dan relawan yang disurvei sengaja mengaburkan pilihan mereka ketika ditanya dalam survei. Bahkan kemungkinan ketika disurvei mereka justru memilih pasangan 01 sebagai pilihannya.

Hal ini sangat beralasan, cara tersebut justru untuk mengamankan dirinya dari konsekwensi yang tidak diinginkan. Dengan kata lain, mereka masih takut untuk secara terbuka mengakui pilihannya. Terlebih mereka yang ada di tataran Aparatur Sipil Negara (ASN), pengusaha, atau kelompok minoritas dalam mayoritas.

Mari balik ke belakang ketika Pilkada 27 Juni 2018. Semua lembaga survei pernah dibuat bengong ternganga-nganga ketika hasil Pilgub Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah keluar.

Waktu itu pasangan Sudrajat-Syaikhu dari hasil survei hanya menduduki peringkat tiga dengan persentase suara relatif kecil. Semua lembaga survei mengklaim pasangan ini hanya akan mendapat suara di kisaran 6-8 persen. Mereka diprediksi tak bisa menyaingi pasangan Ridwan -UU dan Deddy-Dedi.

Hasilnya, pasangan Sudrajat-Syaikhu justru melesat sangat jauh dengan memperoleh 28,7 persen suara. Mereka bahkan mengungguli pasangan yang difavoritkan Deddy-Dedi.

Hal yang sama juga terjadi di Tengah ketika pasangan Sudirman-Ida yang diprediksi tak bisa memberikan perlawanan terhadap Ganjar-Yasin. Kala itu sejumlah lembaga mengklaim pasangan itu hanya akan mendapat suara kurang dari 20 persen. Nyatanya, ketika hasil keluar, Sudirman-Ida mampu meraup suara lebih dari 40 persen.

Realitas ini bukan tidak mungkin bakal terulang jika banyak pemilih mengaburkan pilihannya atau memilih calon lawan. Hal ini tentu menjadi tanda awas bagi pasangan 01, Jokowi-Ma’ruf.

Jika mengambil sampel hasil survei Litbang Kompas, Joko Widodo-Ma’ruf Amin diklaim memiliki elektabilitas di angka 49,2 persen suara. semantara Pasangan 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kini memiliki elektabilitas 37, 4 persen suara.

Bayangkan jika ada 10 persen pemilih menggunakan cara yang sama untuk ‘mengelabui’ lembaga survei. Itu berarti suara Jokowi-Amin dalam survei harus dikurangi 10 persen, sebaliknya suara pasangan Prabowo-Sandiaga ditambah 10 persen.

Hasilnya, suara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menjadi 47, 4 persen sementara Suara Jokowi-Amin tersisa 39,2 persen suara. Itu belum dihitung real swing voters dan margin eror 2-3 persen.

Hal ini mungkin kurang disadari Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan 01, yang kini terkesan pongah dan jemawa. Merasa leading jauh sejak awal survei, partai pendukung pasangan 01 justru terlihat tak fokus lagi.

Jika mereka tak cepat berbenah, kejadian Pilgub Jabar dan Jateng sangat mungkin terjadi. Itu artinya tagar #2019GantiPresiden akan menjadi kenyataan.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed