oleh

Mampukah Prabowo-Sandi Susul Suara Jokowi-Amin?

Hasil survei terbaru Litbang Kompas menunjukkan selisih elektabilitas kedua pasangan yang berkontestasi di Pilpres 2019 makin kecil yakni 11,8 persen.

Pasangan 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kini memiliki elektabilitas 37, 4 persen suara atau naik 4,7 persen. Sebaliknya, pasangan 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin kini tinggal memiliki elektabilitas di angka 49,2 persen atau turun 3,4 persen.

Realitas ini membuat suasana jelang Pilpres makin sengit. Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan 02 bahkan optimis mampu melakukan comeback saat hari H. Lain pihak, Tim Kampanye Nasional (TKN) 01 mulai khawatir dengan alarm tersebut.

Menilik lebih dalam, hasil ini cukup beralasan. Strategi BPN lebih variatif dan tepat sasaran. Mereka tahu kelemahan diri sendiri lalu berbenah dan terus menambal kebolongan tersebut.

Daerah basis suara terus dijaga kemudian menerobos masuk tanpa takut ke daerah musuh. Merangkul emak-emak juga harus diakui cukup sukses dilakukan Sandiaga Uno.

Sisi lain, TKN selama tiga bulan ke belakang mulai memperlihatkan kesombongan dan kepongahan. Mungkin karena berbagai lembaga survei menunjukkan mereka leading cukup jauh.

Para partai pendukung mulai sibuk dengan urusan diri sendiri. Bahkan, sesama partai koalisi saling menyerang untuk memperebutkan suara legislatif.

Lihat saja ketika Partai Solidaritas Indonesia (PSI) beberapa kali tampak menyerang partai lain. Atau ada juga sesepuh partai Golkar yang mengingatkan niat jahat partai sesama koalisi. Ada juga indikasi perang dingin terselubung, antara dua partai hijau.

Publik kini menilai Jokowi-Amin terkesan berjuang sendiri, paling banter dukungan partai politik hanya sekadarnya saja.

Tokoh seperti Ali Mochtar Ngabalin, Farhat Abbas atau Razman Nasution yang awalnya begitu diharapkan, ternyata tak mampu mengimbangi ‘ketajaman lidah’ Fadli Zon, Andi Arief atau Rocky Gerung. Itupun minus Ratna Sarumpaet dan Ahmad Dhani yang kini terkena kasus hukum.

Makin parah, TKN selalu terbawa permainan dan dikte isu ecek-ecek yang sengaja dihembuskan kubu Prabowo-Sandi. TKN kerap Baper, emosi dan terlalu menghabiskan energi berlebihan untuk hal yang kurang penting.

Secara matematis, kenaikan lima persen dalam waktu enam bulan memang tidak terlalu signifikan. Selisih dua digit dengan waktu kurang 1 bulan, masih terlalu jauh.

Namun jangan salah, pasangan Prabowo-Sandi juga punya relawan militan plus tim cyber mumpuni. Mereka akan makin frontal dan masif dalam injury time, persis yang terjadi jelang Pilkada Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Konten tukang ingkar janji dan anti islam akan terus diulang untuk mendiskreditkan Jokowi. Belum lagi hembusan pesimisme soal usia bagi Maruf Amin.

Masih kurang, kasus tertangkapnya Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy, sangat mungkin makin menggerus suara Jokowi. Apalagi foto dan video Jokowi dan Romi akan terus disebarkan dengan narasi menyudutkan.

Kini waktu tiga minggu, semua masih bisa terjadi. Jika TKN abai dengan alarm ini, bisa jadi suara Jokowi tersusul oleh Prabowo.

We’ll wait and see…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed