oleh

Kasus Hukum Andi Arief Bahaya untuk Generasi Muda

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demkorat , Andi Arief (AA) ditangkap di Hotel Peninsula, Jakarta Barat, Minggu (3/3/2019). Dia terciduk tim Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri karena kepemilikan Narkoba.

Dari penggerebekan, ditemukan alat penghisap yang dibuang ke dalam toilet. Andi Arief juga dinyatakan positif menggunakan narkoba jenis sabu. Bersamanya, diduga ada seorang wanita dan alat kontrasepsi. Andi Arief sempat ditahan pihak kepolisian.

Namun yang cukup membingungkan publik, tak lama setelah itu, Andi Arief dibebaskan dengan alasan polisi tak mempunyai bukti. Andi Arief juga disebut hanya korban dan akan direhabilitasi.

Pihak kepolisian menyebut Andi tidak terkoneksi dengan jaringan narkoba. Langkah ini juga mencegah overcapacity di Lapas akibat banyaknya pelaku Narkoba yang ditangkap.

Polri bahkan lewat Surat Edaran Kabareskrim menjadikan kasus Andi Arief sebagai contoh pihak kepolisian untuk penanganan pelaku narkoba tanpa barang bukti.

Sontak, keputusan pihak kepolisian mengejutkan dan mengecewakan publik. Polri dinilai menganggap Andi Arief sebagai ‘warga istimewa’.

Aktivis Anti Narkoba yang juga anggota DPR, Henry Yosodiningrat mengritik keputusan Polri. Menurutnya, Andi tak bisa dipulangkan karena sudah jelas terbukti positif narkoba. Kata dia, yang menentukan rehabilitasi adalah hakim usai kasusnya dibawa ke persidangan.

Hal sama juga diungkapkan mantan petinggi BNN, Sulistianandriatmoko. Menurutnya, Andi harus dijerat pasal 127 UU Narkotika.

Kini keputusan Polri memperlakukan Andi Arief bisa membahayakan generasi muda. Apa jadinya, jika kaum milenial harapan bangsa, juga mulai berpikir licik.

Mereka akan menggunakan kasus Andi Arief sebagai trik mengelabui polisi. Dengan menghilangkan barang bukti, mereka yakin seyakin-yakinnya tidak bisa digiring ke meja hijau.

Sayang, di tengah keputusan polisi menutup kasus Andi Arief, di berbagai tempat di nusantara juga terjadi kasus yang sama. Banyak pengguna yang menjadi korban Narkoba justru ditangkap dan harus menjalani hukuman kurungan badan.

Anehnya, mereka kebanyakan adalah warga ‘tidak istimewa’. Dugaan praktik diskriminasi ini jelas memojokkan pihak penegak hukum.

Kasus Fidelis Ari yang menanam ganja untuk obat sang istri hingga kini terus jadi perdebatan.Waktu itu, istrinya tak kunjung sembuh setelah berpetualang ke sejumlah dokter mencari pengobatan.

Lewat penelusuran internet, dia mendapat info ganja bisa mengobati penyakit istrinya. Hasilnya, memang sang istri sempat membaik. Ketika ganja yang ditanamnya disita dan istrinya tak mendapatkan ‘obat’ lagi, kondisinya memburuk dan akhirnya meninggal.

Fidelis harus kehilangan istrinya saat dia dipenjara. Anaknya bahkan waktu itu masih balita.

Fidelis mengaku mengambil risiko itu hanya untuk menyelamatkan istri tercintanya, ibu dari anak-anaknya. Dia bahkan bersumpah tidak mengonsumsi barang haram itu.

Dari sisi logika dan kemanusiaan, kasus Fidelis Ari dan Andi Arief manakah yang lebih pantas dibebaskan?

Bukan hanya itu, sebelum kasus Andi mencuat, beberapa artis yang tertangkap Narkoba justru ‘dibebaskan’ meskipun melalui proses persidangan. Vonisnya super ringan dibandingkan tuntutannya.

Wajar publik kini mengaitkan perlakuan penegak hukum dengan kompensasi materi.

Publik hanya berharap penegakan hukum untuk semua warga negara sama derajatnya. Pihak kepolisian tidak boleh menciptakan kesan penegakan hukum Narkoba garang untuk orang kecil, namun penuh toleransi ketika bersua ‘orang istimewa’.

Penulis: Efge Tangkudung  

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed