oleh

Juara AFF, Tamparan Berkelas untuk Joko Driyono Cs

Lagu ‘We Are The Champion’ milik band lawas Queen membahana di Olympic Stadium, Phnom Penh Kamboja, mengiringi tarian para penggawa Timnas Merah Putih U-22.

Hal ini terjadi usai skuat Garuda muda berhasil merobohkan sekumpulan gajah muda, sang Juara bertahan Thailand. Usaha tak kenal menyerah timnas muda akhirnya berhasil membawa Indonesia menjadi juara Piala AFF U-22 tahun 2019.

Dua gol Rizki Fauzi  menit 58 dan Osvaldo Haay  menit 63 membalikkan keadaan, setelah sebelumnya kapten Thailand, Saringkan Promsupa menit 56 menjaringkan gol pemimpin.

Prestasi ini disambut sukacita luar biasa para pecinta bola tanah air. Semalam penuh, media sosial dipenuhi kalimat kebanggaan dan kekaguman.

Mereka seolah tak percaya, Indonesia berhasil menaklukkan Thailand yang selama ini tak terkalahkan dan selalu mempecundangi timnas Merah Putih.

Makin hebat, Timnas Indonesia tampil dalam turnamen ini dengan persiapan dan materi seadanya. Empat pilar inti tak bisa bergabung karena masalah cedera dan izin dari klub asal.

Namun, itu bukan menjadi masalah serius. Mereka membuktikan, kekuatan utama timnas Indonesia adalah perjuangan tak kenal lelah atas nama bangsa. Beraneka suku dan berbeda agama, mereka justru bersatu berjuang mati-matian untuk Indonesia.

Agak ironi memang, mereka seakan mengajarkan nilai nasionalisme untuk para pimpinan yang kini terendus melakukan praktik pengkhianatan terhadap negara dan publik sepak bola.

Jadilah gelar AFF ini menjadi tamparan berkelas untuk Joko Driyono Cs, yang rela menjual negara untuk kantong pribadi.

Prestasi yang ditorehkan anak asuh Indra Sjafri memang datang di tengak karut marut sepak bola Indonesia. Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono kini berstatus tersangka.

Dia dan ‘komplotannya’ terindikasi melakukan praktik pengaturan skor dan terkait dengan mafia bola. Entah nanti berapa banyak mereka yang terciduk. Yang pasti, mereka tega mengkhianati bangsa demi sekarung rupiah.

Pertanyaan yang selama ini menggantung di benak publik, kenapa Indonesia selalu gagal juara, mulai mendapatkan jawaban. Itu bukan karena kita tak punya kemampuan teknis dan mental. Ternyata itu lebih banyak dipengaruhi borok dan kebobrokan para pengurus.

Mereka tega menjual pertandingan kepada mafia dengan kompensasi rupiah. Mereka tak peduli, sebanyak apa publik sepakbola yang berharap Indonesia menang.

Bagi mereka, menjadi pengurus sepakbola itu adalah duit, duit, duit…

Penulis: Bang Kipot

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed