oleh

50 Orang Tertimbun Hidup-hidup di Bolmong

Lokasi tambang umum di Desa Bakan Lolayan Bolaang Mongondow, Selasa (26/02/2019) malam longsor.

Sebanyak puluhan penambang terjebak dalam lubang pengambilan material olahan emas tersebut. Longsor ini diperkirakan terjadi akibat dinding lubang mulai menipis, karena terus digali secara illegal oleh para penambang lokal.

Kejadian yang terjadi pada pukul 22.00 WITA, membuat puluhan warga yang masih di dalam lubang tidak dapat menyelamatkan diri mereka.

Upaya evakuasi masih terus dilakukan oleh tim SAR Kotamobagu, anggota BPBD Bolmong, Rescue JRBM, Koramil Laluyan, Polsek Laluyan dan dibantu warga sekitar.

Saat proses evakuasi dilakukan, lokasi kejadian dijaga ketat oleh satuan Polres dari Bolmong.

Dari informasi yang didapat Manadopedia.com dari lokasi kejadian, hingga Rabu (27/2/2019) siang, proses penyelamatan masih terus dilakukan.

Satu warga telah berhasil dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia, sementara puluhan warga lainnya yang masih terjebak dalam lubang nasibnya belum diketahui.

Proses evakuasi memakan waktu yang lama, karena dilakukan dengan cara manual, belum ada alat berat yang dikerahkan untuk membantu proses evakuasi.

Kasie Tanggap Darurat BPBD Bolaang Mongondow, Abdul Paputungan menyebut, lebih dari 50 penambang masih terjebak dalam longsor.

“Kalau dari info dari lokasi tambang, ada lebih dari 50 penambang masih terjebak, sementara 1 telah dievakuasi dalam keadaan meninggal, dan 17 penambang lainnya selamat dan saat ini dirawat di RSUD Kotamobagu,” kata Paputungan.

Lokasi longsor cukup dekat dengan wilayah konsesi yang dikelola PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM).

Salah satu korban yang selamat, Dedi Mamonto (38) menceritakan dirinya terjebak di dalam lubang tambang berukuran tiga meter persegi.

Dia mengaku terus berdoa dan berusaha keluar dari reruntuhan. Akhirnya dirinya berhasil dievakuasi oleh warga.

“Saya terus berdoa supaya diberikan selamat. Saya mendengar banyak suara yang meminta tolong, alhamdulilah saya bisa selamat,” kata warga Genggulang, Kotamobagu Utara ini.

Diketahui, Pada Agustus 2018 lalu, kepolisian Bolaang Mongondow telah menyatakan menutup lokasi tambang tersebut.

Penutupan ini dilakukan setelah terjadi longsor material tambang, yang menewaskan enam warga penambang.

Namun tak berselang lama, lokasi tersebut dibuka kembali oleh warga sekitar untuk kembali menambang secara ilegal.

Penulis : Emmanuel Athlon

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed