oleh

Kenapa Ratu Tisha Getol Membela Joko Driyono?

Status tersangka Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono (Jokdri) mendapat respon luar biasa publik sepakbola Indonesia.

Mayoritas publik menyayangkan bahkan mengutuk aksi Jokdri yang tega mengkhianati bangsa demi keuntungan pribadi.

Pergerakan Satgas Antimafia Bola kembali memberi angin segar bagi persepakbolaan Indonesia. Kongres Luar Biasa (KLB) kemudian dihembuskan untuk memilih nakhoda baru induk olahraga sepakbola Indonesia tersebut.

Namun, kini banyak pihak yang mengingatkan masalah klasik yang terjadi di PSSI. Ketika pucuk pimpinan berganti, ternyata tak bisa menyelesaikan masalah yang sudah lama mengakar.

Sejak kepemimpinan Nurdin Halid, dualisme kepengurusan Djohar Arifin- La Nyalla Mattalitti hingga Edy Rahmayadi, masalah ini tak bisa terungkap.

Makin mengejutkan, ketika Edy Rahmayadi mengaku tak tahu jika Jokdri terlibat dalam praktik seperti ini, meski dia duduk sebagai orang nomor satu di PSSI.

Hal ini menandakan ada sistem kotor yang sudah lama terbentuk dan menggurita di PSSI. Parahnya, hal ini menurun hingga daerah. Banyak ‘komplotan’ yang ditugaskan untuk menguasai PSSI daerah.

Atas nama perpanjangan FIFA, mereka justru menyingkirkan para pecinta sepakbola sesungguhnya di daerah. Orang yang berkompeten dan berintegritas ditendang, diganti dengan mereka yang gampang disetir.

Hasilnya sungguh sempurna. Komplotan ini dengan gampang mengatur hasil pertandingan. Ini karena perangkat pertandingan dan pihak yang terlibat akan dikarantina untuk mengatur strategi kotor. Mereka akan menyepakati kode, skor dan trik yang akan digunakan.

Meski pertandingan terkesan agak janggal, mereka selalu bisa mengelak jika dituding tidak netral.

Bukan hanya itu, jika ada pemain, pengurus atau klub yang coba bersuara sumbang, tunggu saja, sanksi tegas dengan denda ratusan juta tinggal menungu waktu.

Parahnya, hingga kini aliran uang denda dan sanksi tak pernah jelas pertanggungjawabannya. Ironisnya, di sisi lain, setiap tahun ada dana pembinaan FIFA yang sangat besar turun ke PSSI.

“Ini tambang uang kita, jaga sebaik mungkin,” mungkin begitu yang dipikirkan.

Yang mengenaskan, banyak korban yang jatuh akibat ulah mereka. Hitung saja jumlah korban akibat perkelahian antar pendukung.

Namun, itu semua tak pernah cukup membuka mata dan hati mereka. Semuanya sudah tertutup syahwat materi.

Kini publik sepakbola Indonesia pantas marah bahkan murka dengan ulah para bajin*an seperti ini. Mereka tega berkhianat, demi sekarung rupiah.

Jangan lagi membiarkan orang-orang pintar dalam sepak bola namun tidak mempunyai nurani menduduki PSSI. Orang rakus dan bermental tikus tak bisa lagi dibiarkan terus melukai publik sepak bola Indonesia.

Satu nama kini mulai menjadi sasaran publik. Tak lain adalah Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria. Wanita maniak bola ini harus diakui cukup mumpuni pengalamannya dalam sepakbola.

Namun melihat sepak terjangnya, publik mulai ragu dengan integritasnya. Apalagi jejak digital memperlihatkan dia getol menutupi aib PSSI.

Yang paling diingat publik adalah pengakuan pelatih Timnas Junior Fahri Husaini yang mengaku dilarang tampil berbicara di televisi oleh Ratu Tisha. Padahal waktu itu, topik yang dibicarakan adalah membuka borok dan kebobrokan PSSI.

Banyak pertanyaan besar yang kini mengarah kepada sosok jutek yang terkesan sombong dan tak ingin dikritisi media. Kenapa Ratu Tisha getol membela Joko Driyono? Apakah dia juga masuk dalam lingkaran itu?

Biar waktu yang menjawab…

Penulis: Bang Kipot

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed