oleh

Joko Driyono Tersungkur, Siapa Menyusul?

Penetapan status tersangka kepada Plt Ketum PSSI Joko Driyono oleh pihak kepolisian, membuat publik sepakbola terhenyak.

Meski bukan hal yang mengagetkan, pecinta sepakbola masih bergeleng kepala, seolah tak mempercayai kenyataan yang terjadi.

Joko Driyono, orang lama dalam tubuh PSSI yang diamanahkan untuk membangun sepak bola Indonesia, ternyata tega mengkhianati negaranya sendiri.

Kepintarannya soal sepak bola ternyata disalahgunakan untuk membodohi para pecinta bola Indonesia. Kini dia tersungkur, tak bisa lagi berkelit. Dia terindikasi menjadi otak praktik curang pengaturan skor pertandingan (match fixing).

Aroma busuk sepak bola Indonesia memang harus diakui sudah berjalan sejak lama. Terbukanya borok dan kebobrokan para orang dalam PSSI harus ditelusuri lebih lanjut.

Hampir bisa dipastikan, ada banyak oknum yang sama kotornya dengan Joko Driyono. Pernyataan mencurigakan, kini bisa terlihat dari jejak digital yang tak bisa dibohongi.

‘Komplotan’ ini saling melindungi dan bersikeras itu adalah fitnah da tudingan tak berdasar. Mereka terus berlindung di bawah statuta FIFA.

“Jika pemerintah intervensi PSSI, maka Indonesia akan rugi, disanksi tidak bisa ikut dalam sejumlah turnamen” begitu kalimat pembenaran mereka.

Mereka harus dibersihkan hingga ke akar. Jangan lagi orang-orang bajin*an seperti ini, meraup keuntungan pribadi dengan menjual kepentingan negara.

Bagi publik sepakbola Indonesia, Liga Indonesia tahun terakhir begitu kentara kotor. Parahnya, itu bukan hanya terjadi di kasta tertinggi. Pada level bawah pun malah lebih jorok dan bau.

Untunglah kini pihak kepolisian tegas, setelah beberapa pihak yang peduli sepak bola ramai-ramai melaporkan praktik kecurangan tersebut.

Pergerakan Satgas Antimafia Bola memang menjadi angin segar pecinta sepakbola Indonesia.

Perlahan, publik seakan menemukan jawaban kenapa prestasi Indonesia tak pernah beranjak dari kubangan. Alih-alih berprestasi di tingkat dunia atau level Asia, menjadi juara di kawasan Asia Tenggara saja rasanya itu sudah menjadi mimpi yang berlebihan.

Ratusan juta orang yang  bernyanyi Indonesia Raya dengan rasa patriotisme menggebu kala Garuda bertanding, ternyata selama ini dibohongi.

Kini, para maniak bola Indonesia menanti kepengurusan PSSI ke depan benar-benar diisi orang bersih dan benar-benar mencintai negaranya.

Berharap, pergerakan Satgas Anti Mafia Bola ini adalah kawah candradimuka prestasi gemilang Timnas Garuda Indonesia.

Penulis: Bang Kipot

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed