oleh

Bukalapak yang Jadi Korban Fanatisme Buta

Jagat dunia maya kembali dihebohkan dengan tagar #Uninstall Bukalapak.

Hal ini menyusul cuitan CEO Bukalapak, Achmad Zaky tentang perbandingan dana riset dan pengembangan industri 4.0 Indonesia dengan sejumlah negara.

Yang menjadi penyulut masalah adalah kalimat akhir cuitan yang menyebutkan frasa ‘presiden baru’. Sontak, warganet terutama para pendukung pasangan 01, Jokowi- Ma’ruf Amin berang.

Mereka berasumsi diksi itu menunjukkan Zaky berharap Prabowo Subianto terpilih sebagai presiden baru, April 2019.

Data yang digunakan Zaky juga diklaim salah, karena mengambil data sebelum Jokowi menduduki kursi orang nomor satu republik ini.

Mereka menuding, Achmad Zaky berada di posisi pasangan 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan sengaja membuat kekisruhan ini. Zaky bahkan dituding disebut tidak tahu berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo.

Tagar seruan untuk menghapus instalan aplikasi e-commerce tersebut seketika menjadi topik nomor satu di Indonesia.

Sadar ucapannya menimbulkan polemik, Zaky langsung memberikan klarifikasinya. Dia meminta maaf jika cuitannya dipersepsikan secara politis.

Zaky menegaskan, cuitan itu sebagai bentuk kritikan untuk memperjuangkan pengembangan industri digital, tanpa bermaksud mendukung atau melemahkan satu pasangan calon.

Memang harus diakui, cuitan itu akan multiinterpretasi karena Zaky tidak menjelaskan secara ekspilisit dalam kalimat. Tapi warganet terlanjur emosi dan ingin memutus hubungan dengan Zaky dan bukalapaknya.

Tapi mereka lupa, Zaky dan Bukalapak sudah berhasil menciptakan ratusan ribu lapangan kerja di Indonesia. Berapa banyak yang akan dirugikan jika menuruti emosi sesaat kekanakan tersebut?

Kejadian sepert ini sebenarnya bukan yang pertama kali. Sejak Pilpres 2014, bangsa ini seakan terbelah menjadi dua kubu, pendukung Joko Widodo dan pendukung Prabowo Subianto. Hal ini makin meruncing ketika Pilkada DKI Jakarta 2017.

Ketika ada tokoh publik yang berkomentar dan dianggap tendensius memihak satu kubu, maka pendukung seberang akan bereaksi keras. Hinaan dan tudingan miring akan menjadi konten serangan kepada tokoh tersebut.

Tanya saja bagaimana kasarnya bully yang dihadapi Tuanku Guru Bajang (TGB), Ali Mochtar Ngabalin, Ustaz Yusuf Mansur dan yang lainnya. Hal sama juga dialami Ahmad Dhani, Rocky Gerung, Ratna Sarumpaet dan masih banyak lagi.

Publik juga ingat ketika ada aksi Boikot Sari Roti, Boikot Metro TV/ TV One, Boikot film Rangga dan Hanum, dan rentetan kebencian lain.

Harus diakui, warganet Indonesia terlalu reaktif dengan fanatisme buta, terlebih hari H Pilpres makin dekat. Satu kesalahan akan menjadi bulan-bulanan warganet yang berseberangan.

Nahasnya, kejadian ini diprediksi akan terus terjadi entah sampai kapan. Siapapun pemenang Pilpres nanti, pendukung kedua kubu akan terus saling hina, hujat dan fitnah.

Parahnya, ada satu hal yang dilupakan atau pura-pura diabaikan para warganet. Jika keadaan ini terus berlanjut, bom waktu perang saudara di Indonesia tinggal menunggu waktu.

Tingkat emosi meledak-ledak karena fanatisme buta tanpa memikirkan dampak, jelas sangat berbahaya. Dari dunia maya akan sangat cepat menyeberang ke dunia nyata.

Ini bukan bicara siapa menang, siapa kalah dalam Pilpres.

Jika itu terus dibiarkan, semua masyarakat Indonesia akan kalah dan bisa saja tinggal menjadi kenangan. Semuanya akan terlambat ketika tersadar sesama saudara ternyata sudah saling bunuh-bunuhan.

Naudzubillahi mindzalik…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed