oleh

Ustaz Yusuf Mansur tak Ikhlas Jokowi Terus Difitnah

Publik dikejutkan dengan postingan Muhammad Zainul Majdi atau yang dikenal dengan Tuanku Guru Bajang (TGB) di media sosial.

Dia membeberkan pembicaraannya bersama Ustaz Yusuf Mansur soal keislaman Presiden Jokowi dan keluarganya. TGB menyebut postingannya sudah mendapat izin dari Ustaz Yusuf Mansur.

Yang mengejutkan, Ustaz Yusuf Mansur mengaku sudah lama ingin menjadi bagian dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Amin. Dia dilarang karena risikonya bisa mempengaruhi bisnis dan ekonomi yang melibatkan umat.

Namun, kini Ustaz Yusuf Mansur berani menceritakan kejujuran karena tak ingin Jokowi terus difitnah hanya karena kepentingan politik.

Pengakuan Ustaz Yusuf Mansur jelas membelalakkan mata banyak pihak, terlebih mereka yang selama ini mengaku Islam demi kepentingan politik.

Langkah ini jelas kurang populis dan bisa menggerus kepopuleran nama Ustaz Yusuf Mansur. Lebih dari itu, dia pasti akan mendapat serangan fitnah dan kebencian karena mendukung Jokowi.

Tapi, langkah dan konsekwensi ini jelas sudah diperhitungkan Ustaz Yusuf Mansur. Sebagai ulama dan panutan banyak orang, dia kini mengambil pilihan untuk menceritakan kebenaran apapun risikonya.

Bagi dia, Jokowi adalah pemimpin yang tak seharusnya diserang dengan fitnah. Dia bahkan bersumpah dengan hafalan Alqurannya, yang diterima Jokowi adalah hal yang luar biasa jahat.

Pasca sikap dukungan ini, sudah bisa dipastikan akan banyak bertebaran serangan untuk Ustaz Yusuf Mansur. Kasus hukum yang pernah menderanya jelas akan dijadikan konten serangan pihak lawan.

Hal yang sama terjadi juga ketika Tuanku Guru Bajang (TGB) mengambil sikap yang sama. Serangan kepada TGB begitu masif, dikaitkan pemanggilan dirinya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Menilik lebih dalam, sikap Ustaz Yusuf Mansur merupakan perwujudan ulama sejati sesungguhnya. Tak ingin bermain politik, namun harus tampil ketika dibutuhkan.

Ulama itu harus memberitahukan kepada umat, sesuatu yang dianggap benar, terlebih menyangkut masalah kebangsaan. Ulama sejati tak bisa berdiam diri ketika fitnah dan kebohongan sudah menyebar.

Tak boleh lagi ada fitnah yang membungkus syahwat kepentingan politik berujung kekuasaan. Jangan lagi ada pihak mengaku kelompok Islam, sementara orang lain tak sependapat dikafirkan.

Biarlah politik itu tetap berada dalam khitahnya, tentang perbedaan namun pada akhirnya menyatukan.

Bukan sebaliknya, memaksa atas nama agama, mengklaim kelompoknya paling benar, namun tetap menyebarkan fitnah dan kebencian.

Biarlah pemimpin itu lahir dari perbedaan pendapat, yang dipilih masyarakat berdasar logika dan nurani masing-masing.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed