oleh

Ngabalin: Tengku Zulkarnain Bukan Ulama

Wasekjen Majelis Ulama Indonesia, Ustaz Tengku Zulkarnain dilaporkan Relawan Jokowi Mania ke Bareskrim Polri. Zulkarnain dipolisikan terkait cuitannya di media sosial tentang kabar hoaks merapatnya kontainer yang berisi surat suara tercoblos.

Dia dilaporkan atas tuduhan menyebarkan berita bohong atas Pasal 14 ayat (1) dan (2) dan/atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1945. Cuitan Zulkarnain lewat akun @ustadtengkuzul kini sudah dihapus.

Menanggapi hal itu, Zulkarnain mengaku siap memenuhi panggilan polisi. Meski begitu dia heran, karena prosesnya begitu cepat. Dia membandingkan dengan laporan lain seperti Ade Armando, Abu janda dan lainnya yang terkesan didiamkan.

“Saya siap menjelaskan, saya menunggu panggilan polisi. Cuma panggilan itu akan mengganggu jadwal saya saja. Saya sibuk, kalau dipanggil jelas saya merasa terganggu,” katanya.

Menanggapi pelaporan Zulkarnain, Ketua Umum PP Badan Koordinasi Mubalig Seluruh Indonesia (Bakomubin) periode 2017-2022, Ali Mochtar Ngabalin angkat bicara.

Menurut Ngabalin, kabar bohong yang dituliskan Tengku Zulkarnain telah menyebar dengan cepat di seluruh pelosok tanah air. Dia meminta pihak kepolisian untuk profesional dengan segera memanggil dan memeriksa Zulkarnain.

“Siapapun yang tinggal di Indonesia harus tunduk dan taat pada ketentuan hukum perundangan yang berlaku. Dia telah melakukan penyebaran hoaks dan ujaran kebencian,” katanya.

Lanjut Ngabalin, hal ini harus menjadi pembelajaran semua pihak agar tidak ada orang bebas mencaci, menghujat dan menyebarkan kabar bohong yang meresahkan bangsa,” tambahnya.

Ngabalin yang juga merupakan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden menegaskan, tidak boleh lagi ada pihak yang menuding kejadian ini adalah tindakan kriminalisasi ulama.

“Tidak pernah pemerintah mengkriminalisasi ulama di negeri ini. Yang benar, siapapun yang melakukan pelanggaran hukum harus diproses,” tegasnya.

Soal sosok dan karakter Tengku Zulkarnain, Ngabalin memberikan pengakuan mengejutkan. Menurut dia, Zulkarnai bukanlah seorang ulama atau sosok yang bisa dimintai nasihat soal masalah agama.

“Saya tahu benar siapa dia sesungguhnya. Saya mengenalnya sebagai seorang politisi Islam, bukan seorang ulama, meski dia seorang pengurus pusat MUI. Menjadi pengurus MUI tidak mesti harus ulama atau punya latar belakang pengetahuan agama yang berstandar, itulah mengapa Zulkarnain bisa masuk MUI,” jelasnya.

Lanjut Ngabalin, Zulkarnain adalah pengikut aliran Islam Jamaah Tabligh. Aliran ini sungguh sangat baik dan beradab, tidak membicarakan masalah khilafiyah (perbedaan) atau masalah pertentangan soal ibadah di dalam agama Islam.

“Jamaah Tabligh juga tidak membicarakan masalah politik praktis karena akan banyak menyita waktu dan kesempatan untuk taqarrub kepada Allah SWT,” tambahnya.

Ngabalin melanjutkan, dirinya kaget ketika Zulkarnain terus mengeluarkan pernyataan tendensius yang bertentangan dengan amalan khuruj (keluar berdakwah), dalam konsep jamaah tabligh bersandar QS. Al-Imran (3), 104 dan 110.

“Tengku Zulkarnain dalam dakwahnya kerap mengeluarkan pernyataan bertentangan dengan kaidah serta prinsip dalam ilmu dakwah atau yang dicontohkan oleh Rasul Muhammad SAW. Pernyataan-pernyataanya sangat provokatif, penuh kebencian dan fitnah. Saya tidak tahu virus apa yang mendiami isi kepalanya. Bagaimana mungkin bisa memposisikan Tengku Zulkarnain sebagai seorang ulama pewaris nabi?,” katanya.

Dia meyakini, pernyataan Zulkarnain tidak bisa dihindari karena keberpihakan dirinya kepada pasangan calon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Isi ceramahnya sangat provokatif, penuh dengan ujaran kebencian dan dibawakan dengan gaya preman, seperti masa lalunya dari cafe ke cafe dan bar ke bar,” tutupnya. (sumber: merdekautara.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed