oleh

Setengah Abad Perjalanan Ali Mochtar Ngabalin

Dalam ruangan sebuah hotel mewah di ibukota, beberapa tokoh politik nasional yang memenuhi rentetan kursi memanjang terlihat begitu serius.

Mereka saat itu sedang mendengarkan pembicaraan seorang politisi nyentrik, berserban putih dan bersuara lantang. Dari intonasinya dia terlihat kesal, tapi emosi dan kesabarannya terkontrol baik.

Lewat pengeras suara, dia mengaku kecewa ada tokoh akademisi yang menggunakan intelektualitas, untuk menyebarkan pesimisme dan kebencian.

Ketika tokoh yang dimaksud coba berkelit, tak hitung tiga, dia langsung menantang berdebat soal strata keilmuan. Lawan debatnya terlihat kikuk dan sedikit canggung.

Dia tegas berujar, masyarakat bangsa ini tak boleh diracuni dengan virus kebencian dan pesimisme. Menurutnya, tokoh bangsa tidak boleh berapriori dan harus selalu menyebarkan optimisme kebangsaan, karena negara ini adalah anugerah, milik bersama.

Situasi diskusi yang disiarkan langsung sebuah stasiun televisi itu, kemudian menjadi pembicaraan. Banyak masyarakat yang kagum dengan gaya bicaranya. Tokoh politik lain terlihat segan berdebat dengannya.

Siapa tak kenal tokoh itu? Dia adalah Ali Mochtar Ngabalin, aktivis yang sejak dulu dikenal sebagai pejuang tangguh, bermental baja. Banyak momen kontroversial yang pernah melibatkan dirinya.

Saat jadi anggota DPR, dialah sosok yang berani mengritik Presiden SBY karena menahan Rizieq Shihab. Belum lagi keberaniannya menantang Yusril Izha Mahendra, ketika masih bergabung di Partai Bulan Bintang (PBB).

Tapi, pergerakannya bukan tanpa landasan. Pengalaman dan kecakapannya begitu mumpuni. Kemampuan retorika, debat dan komunikasi Ali memang luar biasa.

Ali menyelesaikan pendidikan formalnya di Fakfak, Papua Barat. Dia kemudian menyelesaikan Sarjana Dakwah di Makassar, SMA Muallimin Muhammadiyah & UIN Alauddin.

Ali yang haus ilmu, kemudian hijrah ke ibukota negara untuk melanjutkan program magisternya di Universitas Indonesia Salemba.

Dia menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Negeri Jakarta. Ali juga pernah mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, dan Perbandingan Agama di Sorbonne Paris-Prancis.

Nama Ali kembali mencuat ketika menyatakan diri berpindah haluan mendukung Presiden Jokowi. Dia mengiyakan ketika masuk dalam tim Kantor Staf Kepresidenan, menjadi tenaga ahli utama Deputi IV, bidang Komunikasi Politik. Hal itu bahkan disebut-sebut sebagai rokade brilian Jokowi.

Baca juga: Rekrut Ngabalin, Rokade Brilian Jokowi

Wajar publik terkaget-kaget, pada Pilpres tahun 2014, dia masuk dalam Timses Prabowo-Hatta, lawan Jokowi-JK kala itu. Ali Mochtar bahkan dikenal cukup getol menyerang Jokowi.

Namun, pengakuannya cukup menjadi penjelasan detail soal alasan utama keputusan itu. Dengan jiwa kesatria dia mengaku terharu melihat kinerja Jokowi empat tahun menjabat.

Ali Mochtar terkejut sekaligus salut, infrastruktur dan pembangunan di Papua, kampung halamannya meningkat drastis. Kini, pulau surga di timur Indonesia itu, tak lagi terpinggirkan dan menjadi anak tiri.

Stempel pengkhianat mantan rekan seperjuangannya tak ditanggapi emosional. Bagi dia, puncak kehormatan manusia adalah ketika hati nuraninya harus berani mengungkap sebuah kejujuran.

Mantan penyiar radio dan pengelola media cetak ini, kini lebih sering menyuarakan tentang persatuan. Dia juga tetap menjalankan rutinitas sebagai mubalig, pimpinan pondok pesantren sekaligus dosen. Pun begitu, dia tetap aktif mengayomi beberapa organisasi Islam dan profesi.

Tugas dan tanggung jawab Ali makin bertambah ketika dipercayakan menjadi Komisaris PT Angkasa Pura I. Apalagi di sisa berapa bulan kampanye dia berkewajiban mengampanyekan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Tanggal 25 Desember 2018, sosok berani itu kini genap berusia setengah abad. Belakangan, kita mulai melihat sosok Ali yang lain. Dia telihat lebih matang dan sabar.

Dalam usia emas 50 tahun, Ali hanya berharap bisa terus membaktikan hidupnya untuk kepentingan bangsa. Janji masa mudanya tetap tak pernah surut, dia akan terus menebarkan nilai kebaikan meski angin yang menerpanya makin kencang.

Selamat Ulang Tahun, Bang Ali…

Yaumul Milad, Barakallahu fii umrik. …

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 comment

News Feed