oleh

Terkepung, Suara Jokowi Mulai Menukik

Hari puncak pemilihan orang nomor satu dan dua di Republik Indonesia makin dekat. Praktis tinggal tersisa kurang dari empat bulan, masa kampanye untuk mengambil hati masyarakat menentukan pilihannya.

Seiring perjalanan waktu, kedua kubu yang menjadi rival dalam kontestasi Pilpres terus melakukan terobosan demi meraih simpati publik.

Sejak awal penetapan calon dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), suara petahana Joko Widodo yang kini menggandeng KH Ma’ruf Amin, unggul jauh atas penantang, Prabowo Subianto- Sandiaga Uno.

Namun perlahan nan pasti, melihat kondisi riil di lapangan nampaknya suara Jokowi yang lama stagnan kini cenderung menukik turun.

Jokowi yang notabene sibuk dengan urusan kenegaraannya, kini mulai menghadapi dilema. Banyak pemikiran dan strateginya tak mampu diejawantahkan bawahannya yang duduk dalam tim kampanye.

Saat yang sama, strategi ciamik para oposisi menyerang jokowi dari beberapa penjuru dengan sudut yang strategis. Pembagian peran yang variatif dari beberapa tokoh seberang Jokowi membuat Jokowi Cs terlihat kewalahan.

Lihat saja, strategi yang dimainkan Prabowo, Sandiaga, SBY, Rizieq Shihab. Mereka menyasar segmen dan komunitas berbeda, demi meraih suara pemilih yang belum menentukan pilihannya. Mereka seakan mengepung dan menyerang Jokowi dari berbagai arah.

Belum lagi ada peran ‘pemeran pembantu’ seperti Fadli Zon, Andi Arief, Ferdinand Hutahaean, Faldo Maldini, Rocky Gerung dan beberapa lainnya.

Sisi lain, pemilihan sosok Ma’ruf Amin yang awalnya diharapkan menambahkan suara signifikan, ternyata tak terlalu sesuai harapan. Apalagi mobilitasnya kini agak terhalang faktor usia dan kesehatan.

Jokowi Cs kini terbawa ritme dan gaya permainan yang dimainkan oleh tim Prabowo-Sandi. Tim Jokowi-Maruf kini sibuk meng-counter isu cetek nan kontroversial yang dihembuskan tim lawan.

Padahal, secara head-to head, kubu Prabowo-Sandi lebih banyak memiliki figur ‘kreatif’dalam urusan itu, yang sulit ditandingi tim Jokowi-Amin.

Secara politis, satu hal yang dilupakan tim Jokowi-Amin adalah mereka berada di kubu petahana dengan kinerja yang selalu diteropong dan diawasi. Sedikit saja kesalahan, bisa menjadi sasaran tembak yang empuk bagi tim oposisi.

Adagium baru pun muncul , ‘Sudah seharusnya petahana berbuat baik, karena menggunakan APBN dan diatur konstitusi. Tapi, satu kesalahan kecil, termasuk kebijakan tak populis, tak bisa ditoleransi,’.

Hal ini benar-benar dimanfaatkan tim oposisi untuk mengikis suara Jokowi-Maruf. Penilaian yang selalu men-generalisasi, selalu dimainkan tim Prabowo-Sandi. Tak salah memang, walaupun agak debatable.

Pemindahan lokasi markas tim Sandiaga ke Jawa Tengah juga membuat kubu Jokowi semakin panas dingin dan kelimpungan.

Belum lagi, janji terbaru sang mantan, SBY, yang akan berkampanye untuk memenangkan Prabowo-Sandi awal tahun 2019. Sebagai master politik Indonesia, SBY tentu mempunyai strategi pemenangan brilian.

Dari hitungan matematis, Jateng diharapkan tim Jokowi-Amin mengulangi prestasi 2014 yang menjadi sumber suara terbesar dalam Pilpres.

Tapi itu sudah disadari tim Prabowo-Sandi. Jika mereka berhasil menipiskan jarak atau menyeimbangkan suara, sudah pasti Jokowi-Amin akan kalah secara nasional.

Apalagi daerah Jawa Barat kini sudah diasumsikan dimenangkan Prabowo-Sandi. Untuk daerah Jawa Timur, keunggulan Jokowi-Amin yang berbasis Nahdliyin juga tinggal terpaut beberapa persen saja.

Waktu terus bergulir, akan banyak strategi pamungkas yang akan dikeluarkan. Tapi untuk saat ini, secara fair harus diakui strategi tim Prabowo-Sandi mampu melemahkan suara Jokowi-Amin dengan serangan dari delapan penjuru mata angin.

We’ll wait and see

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed