oleh

Sebelum Ahok, Denny Tewu Sudah Berjuang untuk Minoritas

Ketika nama Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) tampil di politik nasional, banyak pihak mengidentikkannya sebagai perwakilan kaum minoritas, secara suku dan agama.

Namun ternyata, sebelum Ahok muncul ada satu nama yang sudah memperjuangkan kepentingan minoritas di tingkat Nasional. Dia adalah Magit Les Denny Tewu, pendiri partai Damai Sejahtera (PDS) awal tahun 2000-an.

Menurutnya, latar belakang dirinya bersama tokoh lain mendirikan PDS, karena keterpanggilan nurani memperjuangkan kaum minoritas dan marginal.

Kini dia tak lagi tampil berbaju partai politik. Dalam pemilihan Calon Anggota Legislatif (Caleg) 2019, dia memilih berkontestasi sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Dapil Sulawesi Utara.

Dalam pertemuan dengan manadopedia.com, dia blak-blakan soal motivasinya berjuang untuk rakyat Sulawesi Utara di tingkat nasional. Dosen pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (UKI) ini mengaku trenyuh dengan kondisi kebangsaan saat ini.

Menurutnya, satu hal yang harus dipahami seluruh elemen bangsa, Pancasila sudah final dan mengikat, tak perlu diobok-obok lagi.

“Sejak bangsa ini berdiri, para founding father sudah memikirkan kondisi bangsa hingga ratusan tahun ke depan. Pancasila adalah pemersatu bangsa yang merangkul ribuan suku dan beberapa agama,” kata Presiden Komisaris Utama di PT Asuransi Kresna Mitra dan Presiden Komisaris PT Kresna Ventura Kapital ini.

Kata mantan ketua PDS ini, yang terjadi sekarang ini adalah munculnya ideologi yang coba merongrong nilai pancasila. Tapi menurutnya, pancasila terlalu kukuh dan kuat untuk dirusak oleh nilai-nilai intoleran dan radikal.

“Pancasila adalah ideologi dan dasar negara sekaligus pandangan hidup berbangsa. Mereka yang agamais belum tentu pancasilais, tapi sebaliknya mereka yang pancasilais sudah pasti agamais. Hal ini harus dipahami utuh, nilai pancasila sejalan dengan nilai agama. Hubungan vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan sesama manusia,” katanya.

Jika itu dipahami, lanjut Tewu, tak ada lagi perundungan terhadap kaum minoritas yang selama ini terjadi. Menurutnya, kemerdekaan bangsa Indonesia diperjuangkan masyarakat dari berbagai suku bangsa dan lintas agama.

“Semua suku dan agama punya hak dan kewajiban yang sama untuk bangsa Indonesia. Perbedaan dan keberagaman adalah anugerah kita yang harusnya menjadi kekuatan, bukan sebaliknya,” jelasnya.

Putra asli Sulawesi Utara ini menjelaskan, kini harus lebih banyak tokoh kritis di parlemen dan senator yang memperjuangkan kaum minoritas. Dia lantas mengenang ketika partainya PDS saat 2004 lolos ke senayan.

“Waktu itu anggaran Kementerian Agama khususnya Bimas non Muslim naik hingga 1000 persen ketika kader partainya lantang bersuara memperjuangkan aspirasi daerah dan minoritas,” kenangnya.

Namun menurutnya, hal itu tidak mudah. Selalu saja akan ada pihak yang kurang senang dengan sikap seperti itu.

“Sebaik apapun orang dan tujuannya, selalu akan ada pihak pembenci. Sudah menjadi hal lumrah ada sepertiga orang yang menyukai, sepertiga membenci dan sepertiga yang netral,” kata dia.

Meski begitu, Tewu mengaku jika terpilih nanti akan merangkul banyak tokoh timur Indonesia untuk bersuara lantang dan kritis untuk kesejahteraan masyarakat.

“Sejak berikrar masuk politik, saya sudah mengabdikan hidup saya untuk berjuang untuk kesejahteraan masyarakat. Saya tahu konsekwensinya, mati pun saya siap,” tegasnya.

Dia juga mengajak semua tokoh yang nanti terpilih mewakili Sulut untuk lebih vokal dan kritis di pusat. Suara rakyat Sulawesi Utara harus benar-benar menjadi amanat dan tanggung jawab.

“Banyak isu lokal dan minoritas yang mesti diperjuangkan. Banyak kerinduan yang ingin saya lakukan sesuai visi dan misi saya. Mari kita bergandengan tangan untuk memajukan Sulawesi Utara, kawasan timur Indonesia, dan Indonesia pada umumnya,” kuncinya.

Penulis: Rizka Alvira

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed