oleh

Toleransi dan Politik Indonesia Jadi Topik di Belanda

Hidup di negeri orang bukan berarti para warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Belanda tak mengikuti perkembangan negeri tercinta.

Situasi politik yang mulai memanas dan bisa berimplikasi pada terancamnya nilai kerukunan antar umat beragama, menjadi topik utama para WNI di Belanda.

Menyikapi hal itu, Perkumpulan Diaspora Indonesia di Belanda, menggelar dialog tentang kerukunan antar umat beragama, Senin (26/11/2018).

Bekerjasama dengan Kedutaan Besar RI dan Pemerintah Provinsi Sulut, Diaspora Indonesia di Belanda menggelar acara bertajuk Indonesian Interfaith Dialogue.

Sejumlah tokoh hadir dalam acara yang digelar di Aula Nusantara KBRI Den Haag, Belanda tersebut.

Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Steven Kandouw mengatakan dialog tersebut membedah sejumlah pandangan tokoh lintas agama, termasuk korelasi dengan situasi politik terkini di Indonesia.

Pdt Lucky Rumopa menambahkan, banyak masukan dari para diaspora yang begitu mencintai NKRI tetap aman dan damai. Menurutnya, kerukunan dan toleransi masyarakat Sulut yang turut dibahas, mendapat apresiasi dari sejumlah hadirin.

Ketua Sinode GMIM Pdt Dr Hein Arina, mengapresiasi inisiatif digelarnya dialog ini. Kata Arina, hal ini bisa memberikan informasi yang utuh atas sejumlah pemberitaan selama ini.

Penasihat Indonesia Diaspora Global, Henry Kaitjili mengucapkan terima kasih atas partisipasi semua pihak hingga kegiatan ini bisa terlaksana.

Menurutnya, kegiatan seperti ini akan direncanakan rutin digelar untuk menambahkan rasa kebersamaan dan persatuan antar stakeholder.

Debby Deborah Mailoor, mewakili diaspora Indonesia di Belanda kepada manadopedia mengatakan, acara ini bisa sukses karena dukungan penuh KBRI dan Pemprov Sulut, terlebih penasihat Indonesia Diaspora Global, Henry Kaitjili.

Dia menambahkan, meski berada di luar negeri, para WNI tetap memantau perkembangan yang terjadi di Indonesia. Debby berharap, Indonesia senantiasa rukun dan damai dalam bingkai NKRI.

“Kami selalu rindu kampung halaman, Indonesia dan Sulawesi Utara. Mungkin kita bisa beda dalam pilihan politik, namun kita selalu satu Indonesia,” katanya.

Tampak hadir dalam kegiatan tersebut, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Belanda Dr Din Wahid, perwakilan Minahasa International Church, beberapa Gereja Oikumene Kawanua dan pengurus Masjid di Den Haag.

Para diaspora yang hadir diantaranya, Leon van Maaren. Richard de Fretes, Lanny Pradjaraharja, Wati Chairon dan sejumlah undangan lain.

Dalam kunjungan ke negara Marco van Basten tersebut, Pemprov Sulut juga melakukan studi capacity building untuk tata kelola good governance. Tak lupa Wagub Kandouw turut membahas pelemahan harga kopra bersama wakil Duta Besar RI untuk Belanda Fikry Casidi.

Penulis: Kayla Carissa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed