oleh

Ahok Lagi, Ahok Lagi…

Mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama atau yang lebih dikenal dengan nama Ahok, kembali menghadirkan sensasi.

Kabar dirinya bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), mendapat perhatian luas. Hal itu diungkapkan eks partnernya di pucuk eksekutif ibukota, Djarot Saeful Hidayat.

Meski saat ini masih menjalani hukuman terkait kasus penistaan agama, pro kontra soal kabar tersebut langsung menghiasi timeline sejumlah media sosial.

Jelas kabar itu akan menjadi ‘ancaman’ bagi sejumlah pihak, lawan maupun kawan, termasuk internal PDIP. Jika benar Ahok kembali ke politik, bukan tidak mungkin dia akan kembali menjadi bintang yang bersinar.

Kabar itu memang belum dikonfirmasi tokoh anti korupsi tersebut. Namun hal itu seakan menegaskan nama Basuki Tjahaya Purnama masih mempunyai daya magnet yang luar biasa.

Belum sebulan, pemutaran film A Man Call Ahok yang menceritakan masa kecilnya di Belitung Timur, mendapat sambutan luar biasa. Beberapa hari diputar, film inspiratif tersebut sudah menembus angka 1 juta penonton.

Uniknya, film tersebut dibandingkan dengan film Hanum dan Rangga, yang diputar bersamaan di sejumlah bioskop. Kebetulan, tokoh dalam film itu secara politis berafiliasi dengan politik kubu seberang.

Bukan kali ini saja, pernyataan Ahok selalu memang seakan selalu ditunggu. Pendukungnya yang kerap menamakan diri Ahokers, selalu setia menunggu kabar sang idola.

Nilai-nilai yang pernah ditinggalkan masih begitu membekas dan menjadi inspirasi. Mereka merindukan sepak terjangnya berkontribusi untuk Indonesia bersih.

Banyak pihak yang yakin, peristiwa yang menjebloskan Ahok ke penjara, kental dengan muatan politis. Apalagi, dirinya didentikkan sebagai perwakilan kaum minoritas secara suku dan agama.

Proses ‘kudeta’Ahok yang melibatkan ratusan ribu massa, bahkan diklaim hingga 7 jutaan massa, merupakan satu hal yang sangat luar biasa.

Dalam sejarah Indonesia, dia bahkan disetarakan dengan mantan Presiden Soeharto yang diturunkan lewat demo massa yang sangat besar, meski penyebabnya berbeda.

Teranyar, ribuan Calon Anggota Legislatif turut mendompleng namanya dalam baliho sosialisinya. Nilai antikorupsi, tegas dan bersih milik Ahok, ingin ikut dicitrakan mewakili sosok caleg.

Harus diakui juga, Ahok memang kerap mengeluarkan kata kasar dan cenderung emosional. Hal itu jua yang akhirnya menjadi bumerang untuknya. Tapi, itu juga yang dirindukan dan menjadi ciri khas seorang Basuki TjahayaPurnama.

Entah apa yang direncanakan Tuhan untuk Ahok dalam politik Indonesia. Yang pasti kemunculannya menghadirkan dua sisi mata uang, dirindukan sekaligus dibenci.

Basuki Tjahaya Purnama, memang terlahir sebagai tokoh kontroversi sekaligus tokoh inspirasi bagi banyak masyarakat Indonesia.

Penulis: Kayla Carissa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed