oleh

Benny Mamoto, Jenderal Kalem dengan Sejuta Kisah Inspiratif  

Nama Inspektur Jenderal Polisi (Purn.) Dr.Benny Josua Mamoto mungkin sudah banyak diketahui publik. Prestasinya bukan hanya di daerah asal, tapi juga di kancah nasional, bahkan internasional.

Putra asal Sulawesi Utara ini memang dikenal sebagai polisi yang malang melintang di dunia pemberantasan Narkoba, teroris dan kejahatan lintas negara.

Pria kelahiran 7 Juni 1955 ini pernah menjadi Direktur Badan Narkotika Nasional (BNN) periode 2009 – 2012. Dia lalu menjabat Deputi Pemberantasan Narkotika BNN (2012-2013). Sebelumnya Mamoto pernah menjadi Wakil Sekretaris NCB-Interpol Indonesia (2007- 2009).

Taruna Akademi Kepolisian 1977 ini kenyang pengalaman dengan berbagai seminar, kursus dan konferensi interpol saat dia masih menjabat. Tahun 2012, Benny Mamoto bahkan diplot menjadi pembicara pada sidang umum Interpol di Roma, Italia.

“Semua prestasi dan kepercayaan itu semata karena kemurahan Tuhan,” ucapnya merendah.

Banyak kasus yang pernah ditangani melibatkan polisi lintas negara, seperti kasus pembunuhan Shenzhen Tiongkok, Beng Seng Hongkong dan, kasus bom di KBRI Paris atau kasus BLBI. Ada juga sejumlah pemeriksaan tahanan kasus kasus teror di Afganistan, Pakistan, Australia ,Singapura, Filipina dan Malaysia.

Namun siapa sangka di balik prestasi menterengnya, banyak kisah inspiratif yang belum banyak diketahui publik.

Dia pernah berkisah ketika membebaskan sandera di Filipina. Waktu itu Benny Mamoto harus masuk tanpa pengamanan dan senjata di kamp teroris. Kata Mamoto, dia menyerahkan semuanya kepada Tuhan, karena niatnya semata untuk membebaskan WNI yang disandera.

Ajaibnya, tak sehelaipun rambut atau bagian tubuhnya yang disentuh. Para teroris justru memperlakukan dia dengan baik. Bahkan, para sandera berhasil dilepaskan tanpa tebusan.

Dosen PTIK dan sejumlah universitas ini pernah membeberkan salah satu triknya dalam bertugas. Menurutnya, pendekatan kemanusiaan dan membangun rasa saling percaya adalah kuncinya.

“Contohnya menanyakan tentang kesehatan, keluarga dan hal lain tentang kemanusiaan. Hal kecil namun membangun simpati dan kepercayaan. Tak perlu membentak atau merasa lebih tinggi,” katanya.

Menurutnya, yang harus dipahami adalah para pelaku terorisme itu sudah siap dengan kematian. Justru, polisi kata dia  jangan mewujudkan keinginan mereka.

“Jangan paksa mereka mengubah ideologinya, tapi minta menggesernya dengan tidak memakai kekerasan. Ajak mereka perlahan keluar dari paham radikal. Proses interogasi tidak harus dengan kekerasan atau intimidasi, bisa juga dengan pendekatan psikologis soal keluarga dan kebutuhannya,” jelas mantan atlet sekaligus pelatih menembak ini.

Pun begitu dengan para pengedar Narkoba. Baginya, para gembong harus diberikan pengawasan dan hukuman tegas. Menurutnya, hukum jelas membedakan gembong, pengedar, pengguna dan korban.

Benny Mamoto pernah memperkenalkan rumah edukasi bahaya Narkoba untuk masyarakat perpaduan konsep museum, sains, dan pendidikan.

“Masyarakat kurang info tentang Narkoba. Ada konsep museum di Thailand dan China yang bisa diterapkan di Indonesia. Rumah edukasi akan menjadi pusat informasi risiko penggunaan narkoba” katanya.

Masa purna tugasnya, jenderal kalem dan bersahaja ini lebih banyak pulang kampung. Meski masih menjadi tenaga ahli dan pengajar di ibukota, dia memilih fokus mengembangkan kebudayaan Sulut.

Benny Mamoto kini ditahbiskan menjadi Ketua Umum Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. Dalam kepemimpinannya, puluhan Rekor MURI dan Rekor Dunia sudah diciptakan terkait pergelaran acara kebudayaan.

Satu hal membanggakan terkuak, Benny Mamoto pernah menyewa khusus tiga pesawat, hanya untuk memuat rombongan kebudayaan yang akan tampil di luar daerah. Itu semua diambil dari dana pribadinya, pure untuk memajukan kebudayaan Sulut .

Bukan hanya itu, di kampung halamannya Tompaso Minahasa Sulawesi Utara, berdiri Museum yang mengumpulkan unsur kebudayaan di Sulut. Itu juga dibangun sendiri pemegang gelar adat Tonaas Wangko dari Majelis Kebudayaan Minahasa ini.

Padior Minahasa
Padior Minahasa

Jauh dari kepenatan ibukota, Benny Mamoto selalu menanggalkan protokoler pengawalan layaknya seorang jenderal. Dia bahkan terbiasa naik mobil minibus tanpa pengawalan.

Para tamu yang berkunjung ke rumahnya bahkan sering mendapati Jenderal Mamoto bercelana pendek dengan topi caping memegang alat pemotong rumput. Dia begitu terampil dan telaten membersihkan gulma di tamannya atau lahan pertaniannya.

Kini Sang Jenderal ingin terus membaktikan hidupnya untuk kepentingan masyarakat. Jabatan apapun yang diamanahkan kepadanya, menurutnya akan dijalankan sebaik mungkin.

Baginya, semua itu alur yang sudah direncanakan Tuhan untuk dirinya demi membangun bangsa, negara termasuk kampung halamannya.

Pendidikan Benny Mamoto:

AKABRI Kepolisian(1977),

S1 Universitas Krisnadwipayana, Fak. Hukum (1992),

S2 Universitas Indonesia, Kajian Ilmu Kepolisian (2002) ,

S3 Universitas Indonesia, Kajian Ilmu Kepolisian (2008).

Penulis: Kayla Carissa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed