oleh

Jatah Timnas Senior Lebih Baik untuk Garuda Muda

Timnas Indonesia kembali harus menelan pil pahit usai dikandaskan Timnas Thailand 4-2 pada pertandingan ketiga. Kekalahan tersebut menipiskan peluang Indonesia ke babak berikut Piala AFF 2018.

Penampilan Indonesia di turnamen kali ini memang sungguh mengecewakan. Tampil di laga perdana, Garuda senior sudah harus kalah atas Singapura 1-0. Pada pertandingan kedua, Indonesia ‘hanya’ menang 3-1 atas Timor Leste.

Padahal, kekuatan Singapura dulu jauh berada di bawah Indonesia. Makin menyesakkan, dulu menghadapi Timor Leste, Indonesia selalu akan berpesta gol selisih lebih dari lima gol.

Wajar, jika semua pecinta sepakbola Indonesia kecewa dengan hasil ini. Sepeninggal pelatih Luis Milla, permainan Indonesia kembali ke ‘habitat’ asalnya, kacau dan tak berpola.

Sebagian pihak bahkan membandingkan para garuda senior dengan tiga tim yang lebih muda, U23, U19 dan U16. Tak ada kebanggaan menyaksikan garuda senior seperti menyaksikan para garuda muda bertanding.

Kekecewaan itu mungkin yang mendasari munculnya spanduk yang meminta timnas senior malu kepada garuda muda. Belum cukup, munculnya tagar Kosongkan GBK, sudah memperlihatkan takaran kegeraman publik sepakbola Indonesia.

Muncul juga desakan mundur untuk ketua PSSI yang dinilai bertanggung jawab atas kepergian Luis Milla. Kebetulan, Ketua PSSI kini juga merangkap jabatan sebagai kepala daerah, yang dinilai tidak optimal menjalankan tugasnya.

Kini sudah saatnya semua pihak terkait tegas mengevaluasi prestasi garuda senior. Banyak agenda penting yang nanti membentang termasuk kualifikasi Piala Dunia.

Bertambahnya peserta menjadi 46 tim dan kuota Asia yang lebih banyak di piala dunia 2026 menjadi kabar gembira. Ada setitik asa dan secerca harapan, rakyat Indonesia menyaksikan tim nasionalnya berlaga dalam pesta terbesar dalam sepak bola. Mengulangi mimpi tahun 1938, ketika menjadi tim Asia pertama yang tampil di turnemen nomor satu milik FIFA.

Tim junior Indonesia sudah memiliki potensi untuk mencapai titik itu. Namun, semua tergantung pembinaan serta perhatian pengurus dan pemerintah.

Cara terbaik, PSSI harus mengambil langkah ekstrem, memotong satu generasi tim nasional. Mengorbankan beberapa turnamen jatah timnas Senior dan diberikan kepada tim leburan tiga garuda muda adalah hal yang bijak demi masa depan. Setiap tahun tentunya harus ada sistem promosi dan degradasi pemain setelah melewati evaluasi.

Dengan begitu, garuda muda akan terbiasa tampil di pertandingan besar dengan atmosfir kebersamaan. Paling banyak mungkin bisa menyertakan tiga pemain senior sebagai mentor, tak lebih.

Satu hal, pilih pelatih berkualitas dengan durasi kontrak yang panjang. Tujuannya untuk membentuk tim masa depan, BUKAN untuk mencari prestasi instan.

Piala dunia 2026 atau 2030 cukup realistis menjadi target besar dan jangka panjang buat PSSI. Garuda muda kelak sudah berada di umur emasnya dan tentunya mempunyai pengalaman yang mumpuni.

Calon lawannya nanti juga sudah bisa diukur dengan pertandingan yang pernah dijalani. Siapa sangka garuda muda bisa mengimbangi tim seperti Korsel, UEA, Qatar dan Jepang.

Kini semua tergantung kepada para stakeholder dan pemegang keputusan. Mewujudkan mimpi besar Indonesia atau tetap berkutat dalam kubangan lumpur.

Wallahualam…

Penulis: Bang Kipot

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed