oleh

Tampang Orang Kaya BelumTentu Bahagia

Pernyataan Prabowo Subianto dalam sebuah pidato di hadapan warga Boyolali, Jawa Tengah, terus menjadi perdebatan.

Dalam kacamata politis, pernyataan tesebut akan terus digoreng dalam dua sudut pandang berbeda. Tergantung berpihak pasangan yang mana.

Bisa saja, waktu itu Prabowo tak pernah memiliki niat untuk melecehkan dan menghina warga Boyolali. Mungkin konteksnya hanya memberi sedikit gambaran dalam konten candaan. Itu terbukti dalam video yang tersebar, banyak peserta yang justru turut tertawa.

Siapa sangka itu berubah menjadi bola liar, ketika ramai-ramai warga Boyolali merasa terhina. Menurut mereka, tak sepantasnya calon presiden mengambil perumpamaan tampang warga Boyolali tak bisa masuk hotel mewah.

Bangsa ini memang sudah memasuki masa titik puncak sensitivitas. Setiap kalimat yang diangap menghina langsung berujung kepada laporan kepolisian. Tak ada lagi fase pemakluman atau memberi maaf. Hitung saja, mungkin sudah ratusan kasus yang masuk pihak kepolisian.

Melihat itu, para pemimpin pun sudah seharusnya beradaptasi dengan situasi dan suasana hati rakyatnya.

Tak elok memang, mengecilkan warga Boyolali hanya karena wajahnya bukan seperti orang kaya. Tampang orang kaya bukan berarti punya segalanya, apalagi bahagia.

Mungkin Prabowo Subianto harus menyelami makna dari kata ‘kaya’. Penilaian dari wajah dan penampilan itu sudah tak relevan.

Banyak contoh pejabat yang dikenal selalu tampil dengan jas dan batik berharga puluhan juta. Rumah dan mobilnya pun benar-benar super mewah.

Nyatanya, mereka justru harus meringkuk di balik jeruji besi karena ketahuan sebagai perampok uang rakyat. Uang dari para rakyat yang disebut bertampang miskin.

Prabowo juga tak bisa menuding para security hotel mahal yang akan mengusir orang melihat dari penampilan dan tampang.

Tanya saja, sudah puluhan bahkan ratusan security yang menanggung malu ketika mengusir orang berkaos lusuh dengan sandal jepit. Nyatanya, mereka yang berpenampilan begitu justru memiliki harta berlimpah, halal pula.

Mungkin juga Prabowo harus membaca biografi Almarhum Bob Sadino yang tak ingin disebut orang kaya. Om Bob justru lebih senang memakai celana pendek dan kemeja putih, nilai filosofi tak ingin melupakan masa susahnya. Namun, tak ada yang menyangsikan jumlah hartanya.

Tampang orang kaya versi Prabowo itu hanya soal gen. Tapi dia melupakan aura kebahagiaan. Tampang orang kaya itu sejatinya terpancar dari kebahagiaan hidupnya.

Kaya itu hanya tentang mensyukuri yang sudah dimiliki, selalu merasa cukup dan bisa berbagi. Kaya itu juga tentang kedekatan jiwa dengan Sang Pencipta, bukan sekadar berkawan dengan banyak ulama.

Banyak rakyat kecil yang sudah merasa kaya ketika memiliki sebuah motor dan keluarga kecil bahagia, meski tinggal di rumah kontrakan.

Sms mesra dari sang istri saat bekerja, sambutan hangat sang anak ketika pulang kerja, dan makan bersama meski lauk seadanya, takkan pernah bisa dinilai dengan uang.

Tak semua orang bisa merasakan kebahagiaan itu, termasuk mereka yang mengaku bertampang orang kaya. Menyitir sebuah lagu, harta yang paling berharga adalah keluarga

Sebagai penutup, kisah Gus Dur yang meminjam uang kepada anaknya karena tidak mempunyai uang ketika tak lagi menjabat presiden, mengajarkan arti kekayaan dan kebahagiaan sesungguhnya.

Harta Gus Dur ternyata banyak dihabiskan untuk berkeliling dengan membantu rakyat. Kekayaan sejati nan abadi itu tentang berbagi dan senyum yang mengembang di tengah kesulitan.

Tak ada gunanya tampang orang kaya, tapi justru dipakai untuk menghina rakyat atau menghardik wanita, apalagi menggunakannya demi memeras uang orang lain sampai berkardus-kardus.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed